Jalan menuju pesepak bola profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggiring atau menendang bola. Pelatih tim nasional Indra Sjafri menekankan bahwa teknik, karakter, dan dukungan keluarga harus berkembang bersama sejak anak berada di usia dini.
Pesan tersebut disampaikan dalam McDonald’s Football Clinic yang mempertemukan 200 anak usia 8-12 tahun dengan pelatih tim nasional. Program ini juga menyediakan akses latihan gratis, jersey, dan sepatu baru bagi 40 anak dari komunitas prasejahtera.
1. Kuasai Teknik Dasar Secara Bertahap
Indra Sjafri menyusun sesi latihan agar anak memahami proses belajar, bukan sekadar mengenal permainan sepak bola. Peserta dibagi ke beberapa kelompok dan menjalani latihan rotasi dengan pendampingan intensif selama 70 menit.
Latihan diarahkan pada kemampuan yang dibutuhkan pemain muda saat menghadapi situasi pertandingan. Anak-anak berlatih mengoper, menyelesaikan peluang, bermain dalam ruang kecil, serta menjaga bola ketika ditekan lawan.
| Materi Latihan | Fokus Pembelajaran |
|---|---|
| Passing | Mengembangkan kemampuan mengoper bola |
| Small-Sided Games dan Shooting | Melatih permainan kecil serta penyelesaian peluang |
| Shielding | Melindungi bola saat menghadapi lawan |
Menurut Indra, perkembangan anak tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama sehingga cara melatihnya perlu disesuaikan. Rotasi di setiap zona latihan dimaksudkan untuk membantu mereka membangun teknik, koordinasi, dan kemampuan mengambil keputusan secara bertahap.
“Dalam pembinaan usia dini, setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda sehingga metode latihan juga perlu disesuaikan. Melalui rotasi di setiap zona latihan, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan teknis secara bertahap sekaligus belajar berkoordinasi dan mengambil keputusan di lapangan,” jelas Indra.
2. Bentuk Karakter, Bukan Hanya Mental Menang
Teknik menjadi modal penting, tetapi Indra menilai pembinaan pemain muda harus memberi ruang besar bagi pembentukan karakter. Anak perlu dibiasakan disiplin, sportif, menghormati orang lain, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Jiwa kompetitif tetap dibutuhkan dalam sepak bola, namun kemenangan tidak boleh dikejar dengan segala cara. Nilai itu dinilai penting untuk diterapkan di lapangan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam olahraga memang harus ada jiwa kompetitif, tetapi menang bukanlah tujuan akhir. Setiap kemenangan harus diraih dengan cara-cara yang baik,” tegasnya.
Pembentukan sikap tersebut relevan dengan tingginya ketertarikan generasi muda pada olahraga lapangan. Survei Populix pada Maret 2026 mencatat 90 persen Gen Z dan Milenial tertarik pada olahraga berbasis lapangan, dengan sepak bola sebagai salah satu cabang yang paling diminati.
3. Orang Tua Perlu Menjaga Dukungan Tetap Sehat
Perjalanan anak dalam pembinaan sepak bola usia dini tidak berakhir ketika sesi latihan usai karena suasana di rumah ikut menentukan. Indra berdialog dengan orang tua peserta mengenai pentingnya memberi dukungan dan arahan yang konsisten.
Orang tua didorong untuk memotivasi anak tanpa mengabaikan rasa percaya diri, sportivitas, dan penghargaan terhadap orang lain. Dukungan juga dibutuhkan saat anak gagal, menghadapi tantangan latihan, atau belum mencapai hasil yang diinginkan.
Mantan pemain Persib Bandung, Atep, membagikan pengalaman bahwa keterbatasan fasilitas tidak harus menghentikan mimpi menjadi pemain profesional. Ia memulai perjalanan dari kota kecil dengan akses terbatas, lalu menjaga tekadnya melalui latihan dan kemauan belajar.
“Tidak ada proses yang instan, setiap kesuksesan dibangun dari disiplin berlatih, kemauan untuk terus belajar, dan tidak lupa beribadah.” Pesan Atep itu menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjalani proses panjang seorang pemain muda.
Semangat serupa ditunjukkan Purnama, kapten tim SSB Youth Aurasic Bandung yang rutin berlatih sejak usia delapan tahun. Ia berlatih di lapangan sederhana di samping warung makan milik orang tuanya.
Ayah Purnama, Heri Mulyana, menilai kesempatan putranya berlatih bersama Indra Sjafri membuat keyakinannya semakin kuat. Bagi keluarga tersebut, kerja keras dan disiplin dapat membuka jalan menuju mimpi bermain secara profesional.
McDonald’s Football Clinic digelar dalam kampanye FIFA World Cup Goes to McDonald’s sekaligus perayaan 35 tahun McDonald’s Indonesia. Setelah berlangsung di Jakarta bersama Rio Fahmi, kegiatan ini berlanjut ke Bandung dengan keterlibatan Atep.
