Slow Jogging Terasa Enteng, Dokter Ingatkan Kalorinya Tak Pasti Lebih Banyak

Author: Cung Media

Slow jogging kerap dipilih karena temponya santai dan terasa lebih ringan daripada lari biasa. Namun, rasa enteng saat bergerak tidak otomatis berarti aktivitas ini membakar kalori lebih banyak.

Dokter spesialis kedokteran olahraga menegaskan belum ada bukti yang menunjukkan slow jogging lebih unggul dalam pembakaran kalori dibanding jogging berintensitas sedang. Perbandingan itu harus melihat durasi latihan serta karakteristik orang yang melakukannya.

Bukan Sekadar Soal Kecepatan

Slow jogging dilakukan dengan kecepatan sekitar 3 hingga 5 km per jam. Temponya dapat mendekati jalan cepat, sehingga menjadi pilihan menarik bagi orang yang ingin tetap bergerak tanpa sensasi berlari terlalu berat.

Meski tampak santai, gerakan berulang dalam slow jogging tetap melibatkan kelompok otot besar. Otot paha, bokong, dan betis terus bekerja selama tubuh melangkah dengan ritme yang konsisten.

Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS, menjelaskan bahwa pembakaran kalori tidak dapat dinilai dari jenis olahraga atau tempo semata. Berat badan, durasi, intensitas, serta efisiensi gerakan turut menentukan energi yang digunakan tubuh.

“Kalori yang terbakar tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat badan, durasi latihan, intensitas, dan efisiensi gerakan,” kata dokter yang akrab disapa dr Tata tersebut kepada health.detik.com. Karena faktor setiap orang berbeda, hasil pembakaran kalori juga tidak bisa disamaratakan.

Artinya, slow jogging tidak serta-merta menjadi pilihan yang lebih tinggi dalam membakar kalori hanya karena dilakukan lebih lama atau terasa lebih mudah. Jogging dengan intensitas sedang tetap dapat menghasilkan pembakaran kalori yang berbeda, bergantung pada durasi dan kondisi individu.

Dr Tata menyebut kerja berulang pada otot besar memang terjadi saat seseorang melakukan slow jogging. Namun, belum ada bukti bahwa aktivitas tersebut membakar kalori lebih banyak daripada jogging berintensitas sedang jika durasi dan karakteristik pelakunya sama.

Kenyamanan Justru Menjadi Nilai Penting

Keunggulan slow jogging bukan terletak pada jaminan kalori yang lebih tinggi. Aktivitas ini dapat menjadi alternatif bagi orang yang merasa sulit mempertahankan olahraga dengan tempo lebih berat.

Tempo yang santai berpotensi membuat seseorang mampu bergerak dalam waktu lebih panjang. Rasa nyaman juga dapat membantu olahraga lebih mudah masuk ke dalam rutinitas harian.

“Yang justru menarik adalah karena terasa lebih nyaman, banyak orang akhirnya mampu berolahraga lebih lama dan lebih rutin,” ujar dr Tata. Kebiasaan yang dapat dijaga dalam jangka panjang dinilai bisa memberi manfaat kesehatan yang lebih besar.

Dalam memilih jenis olahraga, konsistensi menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dibanding mengejar intensitas tinggi. Aktivitas yang terus dilakukan biasanya lebih realistis daripada latihan berat yang cepat ditinggalkan.

Slow jogging pun dapat dipandang sebagai pilihan untuk menjaga tubuh tetap aktif dengan tuntutan fisik yang terasa lebih ringan. Pilihan ini tidak perlu diposisikan sebagai pengganti mutlak jogging biasa, melainkan sebagai variasi yang sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

Fokus utama tetap terletak pada kecocokan aktivitas dengan kemampuan untuk menjalaninya secara teratur. Olahraga terbaik, menurut dr Tata, bukan selalu yang paling berat, melainkan yang paling mungkin dilakukan dengan konsisten.

Karena itu, klaim mengenai pembakaran kalori perlu dilihat secara lebih utuh, bukan hanya dari kecepatan langkah. Slow jogging tetap melibatkan kerja otot besar, tetapi jumlah kalorinya tidak otomatis lebih banyak daripada jogging biasa.

Terbaru