100 Guru Ma’arif NU Jateng Digembleng Standar Global, Sinyal Kelas Internasional Makin Dekat

Sedikitnya 100 guru dan kepala sekolah atau madrasah NU se-Jawa Tengah berkumpul di Hotel Novotel Semarang untuk mengikuti workshop penguatan pembelajaran bahasa Inggris berstandar global. Kegiatan ini menjadi sinyal bahwa sekolah dan madrasah Ma’arif NU di Jawa Tengah sedang menata arah baru pembelajaran bahasa Inggris yang lebih terukur dan berorientasi internasional.

Fokusnya tidak berhenti pada materi ajar di kelas. Forum ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran agar peserta didik siap bersaing di tingkat nasional sekaligus global.

Menyamakan arah pembelajaran

Plh. Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Hidayatun, membuka kegiatan itu dan menekankan pentingnya ruang bersama bagi para pemimpin sekolah serta guru bahasa Inggris. Ia menyebut forum ini sebagai tempat untuk menyamakan persepsi tentang arah pembelajaran bahasa Inggris di masa depan.

Menurut Hidayatun, kemampuan berbahasa Inggris tidak lagi bisa dipandang sebagai kompetensi tambahan. Bahasa Inggris kini menjadi bekal penting yang perlu disiapkan sejak dini agar peserta didik mampu memanfaatkan peluang di era global.

Dorongan menuju daya saing internasional

Hidayatun juga menyampaikan bahwa LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah terus membuka peluang kolaborasi dengan institusi nasional maupun internasional. Salah satu arah yang ingin didorong adalah kesiapan peserta didik untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Karena itu, penguatan kompetensi bahasa Inggris disebut sebagai fondasi penting. Bekal ini diperlukan agar peserta didik tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu berkontribusi di tingkat global.

Standar global untuk guru dan siswa

Hidayatun menyebut program ini sebagai mimpi yang sudah lama dibangun. Program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan agar anak-anak memiliki daya saing internasional.

Ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya menghadirkan sumber belajar berstandar global. Ada pula pendampingan selama satu tahun penuh untuk meningkatkan profisiensi guru.

Mengubah cara pandang pembelajaran

Pada sesi utama, Business Development Manager Medan Pustaka Mas, Derby BS, mengajak peserta meninjau ulang arah pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Ia menilai tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar memastikan siswa menuntaskan materi.

Menurut Derby, tantangannya adalah membangun sistem pembelajaran yang konsisten menghasilkan kompetensi relevan dengan kebutuhan masa depan. Ia juga menyoroti adanya perbedaan ekspektasi antara guru, sekolah, orang tua, dan peserta didik terkait hasil belajar bahasa Inggris.

Derby menilai masih banyak sekolah yang mengukur keberhasilan hanya lewat nilai ujian atau kemampuan mengerjakan soal. Padahal, kompetensi berbahasa yang sesungguhnya membutuhkan proses yang lebih panjang dan terukur.

Kerangka acuan yang lebih jelas

Untuk itu, Derby menekankan perlunya kerangka acuan yang jelas agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang target pembelajaran dan indikator keberhasilan. Melalui pengenalan Common European Framework of Reference atau CEFR dan Global Scale of English atau GSE, peserta diajak memahami standar internasional yang bisa dipakai sekolah dalam merancang perjalanan belajar yang lebih terstruktur.

Pendekatan itu juga membantu sekolah menetapkan target yang realistis dan mengukur perkembangan peserta didik secara lebih objektif. Dengan begitu, pembelajaran bahasa Inggris tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pertumbuhan kemampuan yang lebih bermakna.

Di tengah dorongan menuju kelas yang lebih berdaya saing, workshop ini menunjukkan bahwa penguatan guru menjadi titik awal yang penting. Jika kompetensi pendidik naik dengan dukungan standar global, arah pembelajaran di sekolah dan madrasah NU Jawa Tengah berpeluang bergerak lebih dekat ke kelas internasional.

Source: suaranahdliyin.com
Terkait