X memanfaatkan situasi internal Meta yang sedang goyah dengan cara yang cukup terang-terangan. Di tengah moral karyawan yang dilaporkan menurun, perusahaan itu menawarkan peluang kerja sambil menyindir dengan janji anggaran camilan untuk menarik talenta.
Langkah ini muncul saat persaingan kecerdasan buatan membuat perebutan manusia sama pentingnya dengan perebutan teknologi. X membidik web engineer, data engineer, dan data scientist yang disebut bisa tertarik pindah dari Meta.
Serangan terbuka ke talenta Meta
Nikita Bier, kepala produk di X, menulis di X bahwa perusahaan sedang merekrut beberapa posisi teknik. Ia juga bercanda bahwa X akan menyamai atau bahkan melampaui tawaran anggaran camilan untuk kandidat yang datang dari Meta.
Dalam unggahan lanjutan, Bier membagikan tautan ke papan lowongan teknik xAI. Ia bahkan meminta pelamar menyebut kata “snacks” saat mengajukan lamaran.
Meski nadanya ringan, pesan yang dibawa sangat jelas. X sedang mencoba menangkap peluang ketika pesaingnya menghadapi ketidakpuasan internal di tengah restrukturisasi besar.
Meta sedang bergulat dengan moral yang rendah
Kondisi internal Meta menjadi latar dari manuver ini. Perusahaan itu menghadapi kekhawatiran yang terus membesar soal moral karyawan setelah memangkas sekitar 8.000 pekerja pada Mei dan memindahkan ribuan orang lainnya ke arah prioritas AI.
Sekitar 6.500 engineer dan manajer produk dipindahkan dari berbagai tim untuk mengerjakan proyek AI. Perubahan besar itu memicu ketidaknyamanan, terutama karena banyak karyawan harus menyesuaikan diri dengan peran dan fokus kerja yang baru.
Laporan yang beredar selama restrukturisasi menyebut banyak karyawan tidak puas dengan perubahan menyeluruh tersebut. Kekhawatiran ini kemudian diakui secara terbuka oleh salah satu eksekutif puncak Meta.
Menurut Business Insider, Chief Technology Officer Meta Andrew “Boz” Bosworth mengatakan moral karyawan berada dekat titik terendah sepanjang waktu. Ia juga menyebut sebagian karyawan memandang penugasan ke task force AI seperti “drafted”.
Business Insider sebelumnya melaporkan bahwa beberapa pekerja melihat banyak tugas AI itu lebih mirip pelabelan data ketimbang pekerjaan pengembangan yang strategis. Tekanan terhadap hubungan perusahaan dan karyawan juga sempat terlihat pada April, ketika Meta menghadapi penolakan atas pelacakan gerakan mouse dan penekanan tombol keyboard untuk membantu model AI.
Perang AI kini juga perang merebut orang
Situasi ini memperlihatkan perubahan arah persaingan di industri teknologi. Pertarungan tidak lagi hanya soal model AI yang lebih canggih, tetapi juga siapa yang mampu menarik dan mempertahankan orang-orang yang membangunnya.
Di titik itu, pesan X terasa relevan karena menargetkan langsung engineer dan scientist dari Meta. Perusahaan tersebut menempatkan dirinya sebagai tujuan alternatif bagi talenta yang mungkin sedang menimbang masa depan mereka.
Janji soal camilan memang terdengar ringan, tetapi konteksnya lebih serius. Sindiran itu menyentuh persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana perusahaan teknologi kini harus menawarkan lebih dari sekadar proyek ambisius untuk membuat karyawan bertahan.
Meta berupaya memulihkan suasana internal
Pimpinan Meta menyatakan langkah pemulihan sudah dimulai. Dalam memo kepada staf, Bosworth menulis bahwa Meta harus menjadi “tempat terbaik bagi orang-orang terbaik untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka”.
Menurut salinan memo yang diperoleh Business Insider dan pertama kali dilaporkan Wired, Bosworth juga mengatakan ia berharap dapat “menghidupkan kembali yang terbaik dari budaya” yang dulu membuat karyawan bergabung dengan Meta. Pernyataan itu menunjukkan perusahaan sadar bahwa masalahnya bukan hanya struktur kerja, tetapi juga budaya internal.
Namun, upaya memulihkan kepercayaan karyawan tidak berjalan dalam ruang hampa. Saat Meta berusaha membangun kembali moral, pesaing justru bergerak cepat untuk memanfaatkan ketidakpastian itu.
Karena itu, unggahan Bier lebih dari sekadar candaan media sosial. Di tengah restrukturisasi besar dan ketegangan budaya kerja, lowongan kerja dan lelucon soal snack berubah menjadi simbol betapa sengitnya perang AI dalam merebut talenta terbaik.
Source: www.indiatoday.in






