Jejak Meteor Bisa Kuning hingga Ungu, Mineral dan Atmosfer Menentukan Warnanya

Author: Cung Media

Jejak meteor di langit tidak selalu berwarna putih seperti yang sering dibayangkan. Cahaya itu dapat tampak kuning, hijau, ungu, atau berwarna lain karena dipengaruhi unsur dalam batuan antariksa serta gas atmosfer yang dipanaskannya.

Perbedaan warna tersebut membuat satu meteor bisa terlihat berbeda dari lokasi pengamatan yang berlainan. Jalur lintasan, bagian atmosfer yang dilewati, dan kondisi pengamatan ikut menentukan warna yang sampai ke mata pengamat.

Pada Sabtu malam, 11 Juli 2026, benda langit terang terlihat melintas di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan cahaya itu berasal dari meteor besar yang memasuki atmosfer Bumi.

Bukan Bintang yang Benar-Benar Jatuh

Meteor merupakan jejak cahaya yang muncul ketika meteoroid menembus atmosfer Bumi. Meteoroid sendiri adalah bongkahan batuan atau besi yang mengorbit Matahari, sehingga bukan bintang yang jatuh dari langit.

Sebagian besar meteoroid berasal dari serpihan tabrakan antarasteroid. Komet juga menjadi pemasok material tersebut ketika melepaskan debu dan puing-puing selama mengorbit Matahari.

Saat bergerak sangat cepat di lapisan atas atmosfer, meteoroid memanaskan gas di sekitarnya hingga berpijar. Pijaran gas inilah yang membentuk garis terang dan dikenal masyarakat sebagai bintang jatuh.

BRIN, seperti dikutip Kompas.com, menjelaskan meteor umumnya tampak di mesosfer pada ketinggian sekitar 50 sampai 80 kilometer dari permukaan Bumi. Meteor kecil pun dapat terlihat dari jarak puluhan kilometer karena kecepatan dan cahaya yang dihasilkannya.

Meteor tercepat dapat melaju hingga 71 kilometer per detik. Ukuran dan kecepatan yang lebih besar umumnya membuat meteor bersinar lebih terang serta terlihat lebih lama, mulai sekitar satu detik hingga beberapa menit.

Mineral di Dalam Meteor Mengubah Warna Cahaya

Warna meteor terbentuk bukan hanya oleh panas, melainkan juga oleh komposisi kimia meteoroid dan atmosfer yang dilaluinya. Kandungan material tertentu dapat menonjolkan warna berbeda ketika material serta gas di sekitarnya berpijar.

Meteor dengan kandungan besi tinggi cenderung memancarkan warna kuning. Sementara itu, kandungan kalsium yang tinggi dapat menghasilkan jejak cahaya berwarna ungu.

Lintasan meteor terang di Jawa dilaporkan pertama kali terdeteksi di atas Laut Jawa. Benda itu kemudian melintasi Bekasi, Majalengka, Nagreg, Tasikmalaya, hingga Yogyakarta, sehingga dapat disaksikan dari lebih dari satu wilayah.

Dari Earthgrazer hingga Superbolide

Ukuran, tingkat kecerahan, dan dampak di atmosfer membedakan satu meteor dari meteor lain. Beberapa kategori tampak jauh lebih mencolok karena jejaknya panjang, cahayanya kuat, atau bahkan memicu ledakan di atmosfer.

Jenis Ciri utama Dampak atau karakter
Earthgrazer Melintas rendah dekat cakrawala dengan jejak panjang Dapat memantul di atmosfer atas dan kembali ke luar angkasa
Fireball Lebih besar, terang, dan bertahan lebih lama Kecerahannya melampaui planet mana pun di langit
Bolide Sangat terang dan masif Dapat meledak di atmosfer dan menghasilkan gelombang kejut
Superbolide Bolide dengan cahaya serta ledakan sangat besar Berpotensi mengancam manusia dan lingkungan sekitar

Earthgrazer dikenal melalui lintasannya yang rendah di dekat garis cakrawala dan dapat memunculkan warna-warni yang panjang. Peristiwa 1972 Great Daylight Fireball pernah memasuki atmosfer di atas Utah, Amerika Serikat, lalu keluar kembali di atas Alberta, Kanada.

International Astronomical Union mendefinisikan fireball sebagai meteor yang lebih terang daripada planet mana pun di langit. Ukurannya dapat berkisar dari sebesar bola basket hingga mobil kecil.

Bolide sering dikaitkan dengan ledakan di atmosfer yang suaranya dapat terdengar dan getarannya terasa di daratan. Sebagian astronom memasukkannya sebagai fireball yang menghasilkan gelombang kejut atau sonic boom.

Contoh superbolide terjadi di Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Meteor itu meledak dengan kekuatan setara 500 kiloton TNT dan gelombang kejutnya memecahkan kaca di ribuan gedung apartemen.

Lebih dari 1.200 orang dilaporkan mengalami luka hingga harus dibawa ke rumah sakit dalam peristiwa tersebut. Pada puncak intensitasnya, meteor Chelyabinsk bersinar 30 kali lebih terang daripada Matahari.

Saat Partikel Komet Memenuhi Langit

Ribuan meteor memasuki atmosfer Bumi setiap hari, tetapi kebanyakan materialnya hanya sebesar kerikil dan habis terbakar. Material yang mampu bertahan sampai ke permukaan Bumi disebut meteorit.

Dalam kondisi tertentu, jumlah meteor dapat meningkat tajam menjadi hujan meteor. Fenomena ini muncul ketika Bumi melintasi jalur orbit komet yang ditinggalkan partikel debu dan puing-puing.

Meteor dalam satu hujan meteor tampak datang dari satu titik di langit yang disebut titik radian. Nama fenomenanya biasanya diambil dari rasi bintang lokasi radian terlihat, meski sumber partikelnya adalah komet.

Leonid, Perseid, Orionid, dan Geminid termasuk hujan meteor tahunan yang dapat diprediksi. Leonid tampak berasal dari rasi Leo, tetapi partikel penyusunnya berasal dari puing Komet Tempel-Tuttle.

Badai meteor merupakan bentuk yang lebih intens, dengan sedikitnya 1.000 meteor per jam. Dalam kondisi ini, langit dapat menampilkan jejak cahaya yang menyerupai kembang api alami.

Terbaru