Dewi Irawan menghadapi kehilangan beruntun setelah mendampingi dua orang terdekatnya berjuang melawan kanker. Perjalanan itu membuat aktris senior ini memahami bahwa menjadi caregiver menuntut kekuatan fisik, kesabaran, dan ketahanan emosi yang besar.
Ia berada di sisi adiknya, Ria Irawan, dalam masa pengobatan kanker getah bening yang panjang. Dewi kemudian juga merawat suaminya, Lukman Karim, yang menjalani pengobatan kanker hati hingga akhir hayat.
Menemani di Tengah Duka Keluarga
Peran Dewi sebagai pendamping berangkat dari keluarganya sendiri, bukan sekadar kegiatan sukarela di luar rumah. Ia mencurahkan waktu untuk menemani anggota keluarga yang membutuhkan perawatan sekaligus dukungan mental saat kondisi mereka berubah.
Ria Irawan meninggal dunia pada awal 2020 setelah berjuang melawan kanker getah bening. Beberapa hari kemudian, ibunda mereka, Ade Irawan, juga berpulang sehingga Dewi menghadapi duka yang datang dalam waktu berdekatan.
Situasi itu menempatkan Dewi pada posisi yang tidak mudah karena ia harus tetap hadir bagi keluarga di tengah rasa kehilangan. Baginya, pendampingan bukan hanya soal membantu kebutuhan pasien, melainkan menjaga mereka tetap merasa dihargai dalam masa sulit.
| Anggota Keluarga | Kondisi yang Disebut | Keterangan |
|---|---|---|
| Ria Irawan | Kanker getah bening | Meninggal pada awal 2020 |
| Lukman Karim | Kanker hati | Meninggal pada Juli 2021 |
| Ade Irawan | Tidak disebutkan | Berpulang beberapa hari setelah Ria |
Berbulan-bulan Mendampingi di Italia
Ketika Lukman Karim didiagnosis mengidap kanker hati, Dewi menetap di Italia selama berbulan-bulan untuk mendampingi pengobatannya. Di sana, ia mengurus kebutuhan medis sang suami dan memberi dukungan moral selama proses perawatan berlangsung.
Lukman meninggal dunia pada Juli 2021, menambah pengalaman mendalam Dewi dalam merawat orang tercinta yang sakit. Kehadiran pendamping, menurutnya, menjadi bagian penting bagi pasien yang harus menghadapi rasa sakit dan ketidakpastian secara berulang.
Kepada hot.detik.com, Dewi menyebut pengalamannya selama ini terutama terbentuk dari mendampingi keluarga sendiri. “Saya mendedikasikan waktu saya sebagai sukarelawan untuk keluarga sendiri. Selama ini saya cuma punya pengalaman jadi caregiver untuk keluarga, untuk mendampingi Ria dan suami saya yang juga meninggal karena kanker,” katanya.
Kebutuhan Pasien Tidak Selalu Sama
Dewi melihat setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dari sisi kondisi fisik maupun cara menghadapi penyakit. Pendamping perlu menyesuaikan sikap karena keluhan, kecemasan, dan perubahan suasana hati tiap orang tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama.
Menurut Dewi, seorang caregiver perlu memiliki kesiapan mental yang bahkan lebih besar daripada pasien yang dirawat. Ia menggambarkan hati pendamping harus memiliki banyak ruang agar mampu memperlakukan setiap anggota keluarga sesuai kebutuhan mereka.
“Seorang caregiver itu harus jauh lebih kuat daripada orang yang dirawatnya. Hatinya harus punya banyak ruang atau berbilik-bilik, supaya bisa memperlakukan setiap anggota keluarga dengan cara yang berbeda-beda sesuai kebutuhan mereka,” ujar Dewi.
Ia juga menekankan bahwa pendamping harus sanggup menampung keluh kesah pasien dengan kesabaran yang lebih besar. Kesiapan itu diperlukan karena masa perawatan tidak pernah mudah, terutama ketika kondisi kesehatan dapat berubah sewaktu-waktu.
Bagi Dewi Irawan, mendampingi keluarga hingga akhir hayat menjadi bentuk pengabdian yang sangat personal. Kisahnya memperlihatkan bahwa beban caregiver sering berjalan di balik layar, tetapi perannya dapat memberi ketenangan bagi orang yang sedang dirawat.
