Wajah Mendadak Membulat Saat Stres, Ini Arti Cortisol Face yang Sering Disalahpahami

Author: Cung Media

Wajah yang tiba-tiba terlihat lebih bulat, sembap, dan kurang tegas sering dikaitkan dengan cortisol face. Kondisi ini ramai dibahas di media sosial karena kerap muncul saat bangun tidur dan dianggap berkaitan dengan stres berlebihan.

Secara medis, perubahan itu berhubungan dengan hormon stres kortisol yang diproduksi kelenjar adrenal ketika tubuh menghadapi stres mental, emosional, atau fisik. Bila kadar kortisol tinggi dalam jangka panjang, distribusi lemak dan retensi cairan bisa berubah, terutama di wajah dan perut.

Kenapa wajah bisa tampak membulat

Istilah lain yang sering dipakai untuk kondisi ini adalah moon face atau wajah bulan. Ciri utamanya adalah wajah tampak lebih bulat, bengkak, dan rahang terlihat kurang tegas.

Meski terlihat mengganggu, cortisol face biasanya bersifat sementara dan tidak menimbulkan rasa sakit. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan penampilan yang bisa dipengaruhi banyak faktor, bukan semata-mata stres.

Pemicu yang paling sering dikaitkan

Stres kronis menjadi salah satu pemicu utama karena tubuh terus memproduksi kortisol dalam jumlah tinggi. Saat stres berlangsung lama tanpa jeda yang cukup, risiko penumpukan cairan dan redistribusi lemak di wajah, leher, dan perut ikut meningkat.

Kurang tidur juga berperan besar karena tubuh bisa menganggap kondisi itu sebagai ancaman dan memicu respons stres. Pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, makanan olahan, minuman bersoda, dan alkohol berlebihan, turut memperburuk kondisi ini.

Ada pula faktor medis yang perlu diperhatikan, terutama penggunaan obat kortikosteroid seperti prednison atau deksametason. Obat ini dipakai untuk mengobati asma, artritis, lupus, dan penyakit autoimun lainnya, tetapi dapat meningkatkan kadar kortisol dan memicu pembengkakan wajah.

Tanda yang sering muncul di wajah dan tubuh

Wajah yang lebih penuh dan bulat biasanya menjadi tanda paling mudah dikenali, terutama di pipi dan rahang. Perubahan ini bahkan bisa terlihat meski berat badan tidak naik drastis.

Pembengkakan juga sering muncul di pipi, rahang, dan kelopak mata, sehingga wajah tampak lebih berat dan lelah meski sudah cukup tidur. Pada sebagian orang, lemak juga bisa menumpuk di dagu atau double chin.

Di bagian leher dan pundak, kondisi ini kadang tampak sebagai buffalo hump yang membuat garis rahang makin kurang tegas. Kulit pun bisa ikut berubah menjadi lebih berminyak, kusam, dan rentan berjerawat karena kadar kortisol tinggi merangsang produksi sebum dan peradangan.

Sebagian orang juga mengalami wajah yang mudah merah. Hal ini berkaitan dengan penurunan produksi kolagen, kulit yang lebih tipis dan sensitif, mudah memar, serta gangguan sirkulasi dan pelebaran pembuluh darah.

Cara membantu meredakannya

Pengelolaan stres menjadi langkah utama untuk menurunkan kortisol. Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, pernapasan dalam, dan menulis jurnal dapat membantu menenangkan sistem saraf.

Tidur yang cukup dan berkualitas juga penting untuk memulihkan keseimbangan hormon. Anjuran yang disebutkan adalah tidur 7-9 jam setiap malam, dengan rentang ideal pukul 9 malam hingga 11 malam.

Asupan makanan juga berpengaruh, terutama makanan tinggi kalium seperti bayam, brokoli, kentang, ubi jalar, pisang, alpukat, ikan, dan produk olahan susu. Pilihan ini dapat membantu menyeimbangkan kadar natrium dan mengurangi resistensi cairan.

Olahraga rutin membantu melancarkan sirkulasi darah dan mendorong pengeluaran cairan berlebih dari tubuh. Asupan air putih yang cukup juga penting karena dehidrasi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan pembengkakan wajah tampak lebih jelas.

Fenomena cortisol face lebih tepat dipandang sebagai tren media sosial daripada diagnosis medis atau penyakit serius. Namun, bila wajah terus-menerus tampak membengkak disertai keluhan lain, evaluasi gaya hidup dan kondisi kesehatan tetap perlu diperhatikan.

Source: www.beautynesia.id
Terbaru