Wajah yang tiba-tiba tampak lebih bulat sering dianggap sekadar tanda kurang tidur atau kelelahan. Namun, perubahan seperti pipi membengkak, rahang yang terlihat kurang tegas, dan bentuk wajah yang terasa berbeda juga bisa berkaitan dengan kondisi yang belakangan ramai disebut sebagai cortisol face.
Istilah ini mengacu pada perubahan tampilan wajah yang dikaitkan dengan kadar hormon kortisol yang meningkat. Dalam istilah medis, kondisi serupa kerap disebut moon face atau cushingoid features, meski penyebabnya tidak selalu sama dan tidak boleh langsung disamakan dengan penyakit berat.
Apa yang terjadi saat kortisol meningkat
Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang diproduksi kelenjar adrenal. Hormon ini berperan dalam metabolisme, tekanan darah, dan respons inflamasi tubuh.
Ketika produksinya meningkat dalam jangka panjang, tubuh dapat mengalami perubahan distribusi lemak. Akibatnya, lemak bisa lebih banyak menumpuk di area wajah, leher, dan perut sehingga wajah terlihat lebih penuh dan membulat.
Stres berkepanjangan menjadi salah satu pemicu utama karena tubuh terus berada dalam mode waspada. Pada kondisi seperti ini, tubuh mendorong produksi kortisol lebih tinggi dari biasanya.
Kurang tidur juga ikut memberi pengaruh besar. Saat tubuh tidak mendapat istirahat cukup, sistem tubuh dapat membaca kondisi itu sebagai ancaman dan memicu respons stres yang lebih kuat.
Gejala yang sering terlihat di wajah
Ciri yang paling mudah dikenali biasanya adalah wajah yang tampak lebih bulat dari sebelumnya. Pipi terlihat lebih penuh dan bentuk wajah bisa menyerupai bulan.
Bengkak juga dapat muncul di pipi, bawah mata, dan rahang. Pada sebagian orang, lemak di dagu dan leher membuat garis rahang tampak kurang tegas.
Perubahan tidak berhenti pada bentuk wajah saja. Kulit juga bisa tampak lebih kusam dan mudah berjerawat karena kadar kortisol tinggi dapat memicu produksi minyak berlebih serta peradangan pada kulit.
Sebagian orang juga melaporkan wajah terasa kemerahan atau seperti panas. Kondisi ini dikaitkan dengan gangguan sirkulasi dan pelebaran pembuluh darah.
Bukan selalu karena stres biasa
Meski ramai dibahas di media sosial, cortisol face umumnya lebih dekat dengan stres kronis dan kebiasaan hidup sehari-hari. Kondisi ini berbeda dari gangguan medis berat seperti sindrom Cushing, walau gejalanya dapat terlihat mirip.
Perubahan wajah juga bisa terkait masalah medis lain, termasuk gangguan hormon, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, sindrom Cushing, gangguan tiroid, PCOS, dan resistensi insulin. Karena itu, wajah yang bengkak tidak boleh langsung diasumsikan hanya akibat stres.
Pola makan turut memberi kontribusi. Konsumsi makanan tinggi gula, makanan olahan, serta minuman berkafein atau alkohol berlebihan dapat ikut mendorong peningkatan kadar kortisol.
Langkah yang bisa membantu
Pengelolaan stres menjadi langkah utama yang disarankan. Meditasi, yoga, latihan pernapasan, dan aktivitas relaksasi lain dapat membantu menurunkan kadar kortisol.
Tidur cukup juga penting untuk menjaga keseimbangan hormon. Durasi tidur 7-9 jam per malam disebut membantu mengurangi produksi kortisol berlebih.
Pola makan sehat perlu dijaga dengan memperbanyak sayuran, buah, ikan, dan makanan antiinflamasi. Di sisi lain, makanan tinggi gula dan makanan olahan sebaiknya dibatasi agar tidak memperburuk kondisi.
Aktivitas fisik intensitas sedang seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda dapat membantu mengontrol hormon stres tanpa membebani tubuh. Asupan air mineral yang cukup juga penting karena membantu mengurangi retensi cairan dan menjaga metabolisme tetap optimal.
Kafein dan alkohol perlu dibatasi karena keduanya dapat memicu peningkatan kortisol sekaligus mengganggu kualitas tidur. Dengan pengaturan gaya hidup yang lebih seimbang, perubahan pada wajah akibat stres bisa lebih terkendali.
Kapan perlu memeriksakan diri
Tidak semua wajah yang terlihat bengkak otomatis disebabkan kadar kortisol tinggi. Karena itu, perubahan bentuk wajah sebaiknya tidak langsung didiagnosis sendiri tanpa dasar yang jelas.
Jika perubahan wajah muncul bersama gejala lain yang mengganggu, pemeriksaan ke dokter atau tenaga medis tetap diperlukan. Langkah ini penting untuk memastikan apakah penyebabnya hanya berkaitan dengan stres dan gaya hidup, atau ada kondisi medis lain yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Source: www.beritasatu.com






