Kanker Usus Kini Banyak Menyerang Usia 30-an, Gejalanya Sering Disangka Wasir

Perdarahan dari anus pada usia 30-an kerap dianggap sebagai wasir, padahal keluhan itu juga dapat menjadi tanda kanker kolorektal. Salah mengira gejala membuat sebagian pasien muda baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut.

Kanker kolorektal, yang juga dikenal sebagai kanker usus, kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Kasus pada kelompok usia 30-an hingga 40-an dilaporkan meningkat, sementara diagnosis pada pasien muda cenderung memerlukan waktu lebih lama.

Temuan yang dikutip dari Stanford Medicine menyebut pasien muda membutuhkan waktu sekitar 40 persen lebih lama untuk mendapatkan diagnosis kanker kolorektal dibandingkan pasien yang lebih tua. Hampir tiga dari empat pasien berusia di bawah 50 tahun bahkan telah berada pada stadium lanjut saat diagnosis ditegakkan.

Tren yang Mengubah Batas Usia Skrining

Kanker kolorektal disebut sebagai penyebab utama kematian akibat kanker pada kelompok usia di bawah 50 tahun. Sekitar 45 persen kasus baru juga didiagnosis pada orang berusia di bawah 65 tahun, naik dari 27 persen pada 1995.

Kenaikan tersebut mendorong US Preventive Services Task Force menurunkan usia awal skrining rutin dari 50 tahun menjadi 45 tahun pada 2021. Namun, peningkatan kasus sudah terlihat bahkan pada orang yang belum mencapai usia 45 tahun.

Ahli onkologi saluran cerna Stanford Medicine, dr Shruti Patel, menilai lonjakan kasus ini bukan semata akibat kemajuan teknologi deteksi atau semakin banyaknya orang yang menjalani skrining. “Peningkatan kasus kanker kolorektal ini nyata dan menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi kami yang bekerja di bidang ini,” ujarnya.

Gejala yang Tidak Boleh Terus Dianggap Sepele

Gejala kanker kolorektal pada pasien muda pada dasarnya tidak berbeda dengan gejala pada pasien yang lebih tua. Tanda yang perlu diperhatikan mencakup perdarahan dari anus, kram atau nyeri perut, mual, anemia, mudah lelah, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

Perubahan pola buang air besar juga perlu dicatat, terutama bila bentuk, warna, konsistensi, atau frekuensi feses berubah dan tidak kembali normal selama beberapa minggu. Keluhan tersebut sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter, terlebih bila muncul bersamaan dengan gejala lain.

Wasir memang dapat menyebabkan perdarahan dari anus, tetapi keluhan itu tidak boleh langsung dijadikan satu-satunya penjelasan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab perdarahan dan menilai apakah ada kondisi lain yang perlu ditangani.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Risiko kanker kolorektal dapat meningkat pada orang yang pernah memiliki polip adenomatosa atau kanker kolorektal sebelumnya. Penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, juga berkaitan dengan risiko lebih tinggi karena peradangan kronis dapat memicu perubahan sel abnormal.

Riwayat terapi radiasi di area perut atau panggul, terutama pada masa kanak-kanak, turut dikaitkan dengan peningkatan risiko. Sebaliknya, irritable bowel syndrome atau IBS tidak terbukti meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Riwayat keluarga perlu dibicarakan secara terbuka dengan dokter, khususnya bila orang tua, saudara kandung, atau anak pernah didiagnosis kanker kolorektal. Risiko dapat lebih tinggi jika diagnosis pada anggota keluarga terjadi sebelum usia 50 tahun atau jika lebih dari satu anggota keluarga terdampak.

KelompokPertimbangan Skrining
Risiko rata-rata tanpa gejalaSkrining umumnya dimulai pada usia 45 tahun.
Di bawah 45 tahun tanpa gejala dan tanpa riwayat keluargaSkrining rutin umumnya belum dianjurkan.
Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan kanker kolorektalPerlu konsultasi; banyak pedoman menyarankan mulai sekitar 10 tahun sebelum usia diagnosis anggota keluarga.
Pengidap penyakit radang ususDapat memerlukan skrining lebih dini dan lebih sering.

Penyebabnya Belum Memiliki Jawaban Tunggal

Peneliti belum menemukan satu pemicu pasti yang menjelaskan kenaikan kanker usus pada usia muda. Faktor genetik dinilai tidak cukup menerangkan lonjakan dalam beberapa dekade karena perubahan gen berlangsung lambat.

Perhatian kini mengarah pada kombinasi faktor lingkungan dan gaya hidup, termasuk obesitas, kurang aktivitas fisik, serta pola makan tinggi makanan ultra-proses. Faktor-faktor ini berkaitan dengan risiko kanker kolorektal, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan peningkatan kasus yang terjadi.

Mikrobioma usus juga menjadi salah satu fokus penelitian untuk melihat kemungkinan perbedaan komposisi bakteri pada pasien muda dan pasien lebih tua. Profesor Bedah dan Kebijakan Kesehatan Stanford Medicine, dr Arden Morris, menilai risiko kanker usus lebih kompleks daripada sekadar pilihan makan sehari-hari.

Pilihan Pemeriksaan

Bagi orang dengan risiko rata-rata, pilihan skrining mencakup kolonoskopi, tes feses seperti FIT atau Cologuard, serta tes darah Shield yang mendeteksi DNA tumor dalam aliran darah. Jenis pemeriksaan yang sesuai perlu dibicarakan dengan dokter berdasarkan usia, gejala, dan riwayat kesehatan keluarga.

Orang yang belum masuk usia skrining rutin tetap perlu mencari pertolongan medis bila mengalami perubahan kebiasaan buang air besar atau perdarahan yang menetap. Usia muda tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda evaluasi ketika gejala muncul.

Terkait