Usai Gagal Merger dengan Honda, Tiga Langkah Berani Nissan untuk Menekan Biaya dan Rebut Pasar Baru

Gagal melebur dengan Honda tidak membuat Nissan kehilangan arah. Pabrikan asal Jepang itu kini bertaruh pada tiga langkah besar untuk memulihkan bisnisnya: mengandalkan ekspor dari Tiongkok, membidik pasar yang lebih longgar seperti Kanada dan Amerika Latin, serta menekan biaya di Eropa.

Langkah ini lahir di tengah tekanan yang tidak ringan. Penjualan Nissan sedang menurun, lini produknya dinilai menua, dan persaingan global makin ketat sehingga perusahaan harus mencari cara yang lebih cepat untuk kembali kompetitif.

Memanfaatkan basis produksi di Tiongkok

Salah satu tumpuan utama Nissan ada di Tiongkok, lewat pabrik hasil kerja sama dengan Dongfeng. Fasilitas ini dinilai lebih fleksibel dan biaya produksinya lebih rendah dibanding beberapa basis produksi lain.

Dari jalur tersebut, Nissan menyiapkan ekspor 100.000 unit mobil buatan Tiongkok per tahun ke berbagai pasar. Target itu bahkan disiapkan untuk naik hingga 300.000 unit jika strategi ini berjalan sesuai rencana.

Pilihan ini penting karena memberi Nissan ruang untuk menekan biaya sekaligus menawarkan produk dengan harga yang lebih bersaing. Dalam pasar yang makin agresif, efisiensi produksi menjadi salah satu senjata utama untuk bertahan.

Model yang disiapkan juga beragam. Nissan disebut memasukkan sedan listrik N7, SUV NX8, dan pickup Frontier Pro PHEV ke dalam skema ekspor tersebut.

Kombinasi itu menunjukkan Nissan tidak hanya mengandalkan satu segmen. Perusahaan berupaya menjangkau pembeli mobil listrik murni, keluarga yang mencari SUV, hingga konsumen yang tertarik pada kendaraan plug-in hybrid.

Kanada dan Amerika Latin jadi sasaran awal

Setelah basis produksi disiapkan, Nissan mengarahkan fokus ke pasar yang dinilai lebih cepat memberi hasil. Kanada dan Amerika Latin ditempatkan sebagai wilayah awal untuk menyerap produk-produk baru itu.

Kanada menjadi menarik karena aturan impor mobil asal Tiongkok baru dilonggarkan hingga 49.000 unit per tahun. Nissan melihat celah tersebut sebagai peluang untuk masuk dengan produk yang lebih terjangkau.

Strategi di Kanada juga tidak hanya bertumpu pada mobil listrik murni. Nissan menyiapkan kendaraan hybrid dan plug-in hybrid agar pilihan produknya lebih luas dan sesuai dengan kondisi pasar.

Pendekatan itu memberi ruang bagi Nissan untuk menjangkau konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke EV. Di saat yang sama, perusahaan tetap bisa menawarkan teknologi elektrifikasi dengan harga yang lebih realistis.

Amerika Latin ikut masuk prioritas karena permintaan mobil terjangkau di kawasan itu masih tinggi. Bagi Nissan, pasar tersebut bisa menyerap produk lebih cepat dibanding menunggu pemulihan di wilayah lain.

Pasar Amerika Serikat belum bisa menjadi tumpuan cepat untuk skema ini. Hambatan tarif impor masih membuat langkah Nissan di AS harus menunggu lebih lama.

Efisiensi Eropa dan peluang kolaborasi

Di sisi lain, Nissan juga menekan biaya dari dalam, terutama di Eropa. Perusahaan memangkas beban operasional, termasuk dengan mengurangi kapasitas produksi di pabrik Sunderland, Inggris.

Langkah ini menunjukkan pemulihan Nissan tidak hanya bergantung pada penjualan baru. Perusahaan juga berusaha menyesuaikan kapasitas dengan kondisi pasar agar biaya tidak terus membebani bisnis.

Nissan juga disebut menjajaki pembicaraan dengan produsen Tiongkok seperti Chery. Pembahasan itu berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas yang sedang menganggur.

Pendekatan tersebut memperlihatkan sikap yang lebih pragmatis. Nissan tampak terbuka pada kolaborasi jika langkah itu bisa menekan biaya dan mempercepat pengembangan produk.

Bagi industri otomotif, pemakaian fasilitas yang menganggur bisa lebih efisien daripada membangun semuanya dari awal. Bagi Nissan, pola ini juga membantu menjaga fleksibilitas ketika pasar global belum stabil.

Jika biaya berhasil ditekan dan kolaborasi berjalan, Nissan berpeluang menghadirkan mobil murah dengan teknologi elektrifikasi ke lebih banyak pasar. Kanada dan Amerika Latin pun bisa menjadi pintu masuk penting sebelum perusahaan menata ulang posisi bisnis globalnya.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button