
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 13-15 Mei 2026 menjadi momen yang paling dicermati investor global. Namun, yang paling mereka harapkan bukan gebrakan baru, melainkan agar dua pemimpin itu tidak memicu ketegangan dagang yang bisa mengganggu reli kecerdasan buatan di China.
Bagi pasar, arah pembicaraan ini lebih penting sebagai penentu stabilitas daripada ajang untuk membuka sengketa baru. Fokus investor sudah bergeser ke pertumbuhan teknologi China, terutama karena sektor AI kini menjadi motor utama optimisme di bursa.
AI kini lebih penting daripada perang dagang
Banyak manajer dana menilai risiko terbesar bukan lagi tarif atau balasan kebijakan perdagangan. Mereka ingin Trump dan Xi Jinping mengesampingkan perselisihan lama agar momentum bisnis di sektor AI tetap berjalan.
Shanghai Composite kini diperdagangkan di level tertinggi dalam 11 tahun. Di saat yang sama, ekspor China terus tumbuh kencang berkat gelombang pesanan yang didorong AI.
Surplus perdagangan China yang melebar juga belum membuat pasar panik. Banyak manajer dana justru mengalihkan portofolio ke perusahaan dan proyek yang mendukung swasembada AI China.
Pasar membaca Beijing punya agenda yang lebih sempit
Sejumlah investor menilai China tidak memiliki banyak kepentingan untuk membuka semua kartu dalam pembicaraan dengan Trump. Yang Tingwu, wakil manajer umum Tongheng Investment, mengatakan situasinya telah berbalik dan hanya sedikit hal yang ingin dibahas China dengan Trump.
Pembacaan itu juga didukung cara pasar melihat arus modal dan kebijakan. Perang dagang bertahun-tahun serta ancaman tarif AS memang sempat memicu fluktuasi pada aset China, tetapi tekanan itu kini dinilai mulai dicerna pasar.
Yuan menjadi salah satu contoh paling jelas. Mata uang China itu menguat selama setahun terakhir dan mencapai puncak tertingginya dalam tiga tahun terakhir.
Pertumbuhan teknologi China jadi tema utama
Di tengah ketegangan yang masih membayangi, investor tetap melihat kemajuan teknologi China sebagai tema paling penting. Wen Xunneng, pendiri dan CEO Zhu Liu Asset Management, menilai China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, mengembangkan ekonomi baru, memperluas pengaruh global, dan meningkatkan daya tawarnya dalam persaingan kekuatan global.
Xunneng sendiri berinvestasi di infrastruktur AI dan berharap hubungan AS-China tetap stabil, setidaknya sampai Xi Jinping melakukan kunjungan balasan ke AS. Ia menilai tahap berikutnya bisa memunculkan persaingan baru, tetapi situasi saat ini masih tergolong relatif damai.
Bagi banyak pelaku pasar, pertemuan ini juga dianggap sudah memberi sinyal positif. Tiffany Hsiao, manajer portofolio di Matthews Asia, mengatakan kedua pihak sudah berupaya bertemu dalam masa yang sangat sulit.
Menurut Hsiao, pertemuan jauh lebih baik daripada kegagalan komunikasi total seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Sikap itu mencerminkan kebutuhan pasar akan kepastian, meski tanpa pengumuman besar yang mengejutkan.
Chip Nvidia ikut masuk radar
Di antara isu AI, satu hal yang paling dicermati investor adalah kemungkinan AS mengizinkan chip Nvidia yang lebih canggih dijual di China. Zeng Wanping, manajer dana Beijing Monolith Fund Management, menilai izin itu bisa memberi tekanan pada produsen lokal.
Ia menegaskan bahwa perkembangan seputar AI adalah satu-satunya hal yang layak dipantau dari pertemuan ini. Pandangan itu memperkuat persepsi bahwa masa depan hubungan Trump dan Xi bukan hanya soal dagang, tetapi juga soal siapa yang memimpin perlombaan teknologi berikutnya.
Ketegangan AS-China memang sudah berlangsung bertahun-tahun dan sempat memuncak pada pemerintahan Trump. Namun, kondisi saat ini dinilai lebih melunak setelah Trump melakukan kunjungan pertamanya ke China dalam hampir sembilan tahun dan bertemu Xi Jinping di Korea Selatan pada Oktober 2025 untuk menyepakati gencatan senjata perang dagang.
Di sisi lain, pengadilan AS telah membatalkan sebagian besar hambatan tarif awal Trump, sementara data perdagangan menunjukkan barang-barang China tetap mengalir ke AS melalui Asia Tenggara. Dengan latar itu, pasar kini menunggu apakah pertemuan di Beijing benar-benar menjaga stabilitas atau justru membuka babak baru dalam persaingan teknologi dan geopolitik kedua negara.
Source: www.cnbcindonesia.com




