Aksi Tisna Sanjaya di pameran ARTi Teddy di Nadi Gallery, Jakarta, langsung menarik perhatian karena memilih mesin cuci sebagai alat kritik politik. Lewat karya performans berjudul Cleaning Service & Laundry (2026), ia menyindir cara warisan Orde Baru seolah ikut “dibersihkan” dari jejak yang tidak nyaman.
Di hadapan pengunjung, Tisna tampil penuh penghayatan selama hampir tujuh menit. Ia mencuci kaos yang digantung di atas mesin cuci, lalu mengepel lantai yang basah, sehingga aktivitas rumah tangga berubah menjadi sindiran tajam tentang sejarah dan kekuasaan.
Mesin cuci sebagai metafora
Dalam karya itu, Tisna tidak sekadar memindahkan benda sehari-hari ke ruang galeri. Mesin cuci ia pakai sebagai metafora tentang ingatan publik yang bisa dipoles agar tampak lebih bersih dari persoalan lama.
Ia menegaskan gagasan tersebut lewat pernyataannya, “Jadi semuanya dicuci bersih. Mesin cuci ini juga bisa menjadi metafora seolah-olah dosa-dosa itu sudah dicuci bersih ketika seseorang dijadikan pahlawan.”
Deretan kaos yang ikut hadir dalam instalasi memperkuat simbol kekuasaan Orde Baru. Unsur itu membuat pesan karya tidak berhenti pada adegan mencuci, tetapi bergerak ke pembacaan ulang tentang bagaimana rezim masa lalu dapat tampil dengan citra yang lebih lunak.
Kritik atas sejarah yang dipoles
Melalui Cleaning Service & Laundry, Tisna menyoroti kecenderungan sejarah untuk disederhanakan, dipoles, atau dihapus bagian problematisnya. Ia melihat proses itu bukan hanya urusan narasi, tetapi juga pembentukan ingatan kolektif yang memengaruhi cara masyarakat memandang tokoh dan rezim masa lalu.
Karya ini juga menunjukkan bagaimana simbol yang tampak sederhana bisa memuat kritik sosial yang rumit. Mesin cuci, baskom, video, pelantang suara, lampu tali, dan kaos berpadu menciptakan suasana akrab, tetapi menyimpan lapisan makna tentang kekuasaan dan manipulasi memori.
Pendekatan itu sejalan dengan karakter karya Tisna yang kerap menggabungkan isu politik, lingkungan, dan kemanusiaan. Ia dikenal memakai medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar pesan sosialnya mudah diterima, namun tetap memancing tafsir kritis dari penonton.
Ada dimensi personal
Karya ini juga punya lapisan personal karena berkaitan dengan kedekatan Tisna dengan almarhum S. Teddy D. Keduanya pernah mengikuti program residensi di Ludwig Forum for International Art pada awal 2000-an dengan fasilitasi Cemeti Institute.
Tisna mengenang Teddy sebagai sosok yang membawa energi kolektif kuat dalam seni rupa Indonesia pascareformasi. Selama di Jerman, keduanya banyak berdiskusi tentang situasi sosial dan perkembangan seni kontemporer Indonesia.
“Padahal saya waktu itu belum begitu kenal, tapi ketika disatukan di Aachen itu luar biasa. Jadi saling berbagi, karakternya tentu saja beda, tapi karena energi dari dalamnya itu tulus kami jadi akrab,” ujar Tisna.
Kedekatan itu membuat performans di ARTi Teddy tak hanya terbaca sebagai kritik atas warisan Orde Baru. Aksi tersebut juga terasa sebagai penghormatan pada semangat kebebasan berpikir yang pernah dijalankan Teddy melalui seni dan pergaulan intelektualnya.
Di tengah instalasi yang sederhana, Cleaning Service & Laundry menunjukkan bahwa seni bisa mengajukan pertanyaan keras tanpa perlu tampil megah. Melalui tindakan mencuci dan mengepel, Tisna mengingatkan bahwa sejarah, kekuasaan, dan ingatan publik masih terus diperebutkan lewat simbol, narasi, dan cara masyarakat membaca masa lalu.
Source: lifestyle.bisnis.com






