TikTok Uji Pelacak Deepfake, Kreator Bisa Temukan Wajah yang Dipakai Tanpa Izin

Wajah kreator dapat dipakai untuk membuat video AI tanpa sepengetahuan mereka, lalu menyebar sebelum pemiliknya menyadari. TikTok kini menguji cara baru untuk membantu kreator menemukan konten yang diduga memakai kemiripan wajah mereka tanpa persetujuan.

Melalui sistem ini, kreator tidak langsung kehilangan kendali atas unggahan yang terdeteksi. Mereka akan menerima notifikasi, meninjau hasilnya, lalu memutuskan sendiri apakah konten atau akun terkait perlu dilaporkan.

Perlindungan untuk Konten AI yang Menyerupai Kreator

Fitur uji coba itu bernama AI Likeness Detection, yang dirancang untuk memindai konten berbasis AI dengan kemiripan wajah kreator. Teknologi ini menyasar risiko deepfake, ketika gambar atau video dibuat menyerupai orang sungguhan menggunakan AI generatif.

Perkembangan AI generatif membuat pembuatan visual realistis semakin mudah dilakukan. Kondisi ini membuka peluang penyalahgunaan kemiripan seseorang, terutama bagi kreator yang memiliki wajah dan identitas publik di platform digital.

TikTok tidak mengaktifkan fitur tersebut secara otomatis untuk seluruh penggunanya. Kreator harus memilih untuk ikut serta sebelum sistem mulai mendeteksi dugaan penggunaan wajah mereka.

Setelah ada temuan yang dianggap cocok, sistem akan mengirimkan pemberitahuan kepada kreator. Notifikasi itu bukan perintah penghapusan otomatis, melainkan langkah awal agar kreator dapat memeriksa konteks unggahan terlebih dahulu.

Verifikasi Identitas Menjadi Syarat Utama

Untuk menggunakan fitur ini, kreator perlu menyelesaikan verifikasi identitas melalui layanan Jumio. Prosesnya mencakup pengunggahan kartu identitas dan pengambilan swafoto langsung.

Setelah verifikasi rampung, sistem dapat memindai konten AI yang berpotensi menggunakan kemiripan wajah kreator. Model ini menempatkan persetujuan aktif sebagai dasar sebelum pendeteksian dilakukan.

Juru bicara TikTok AS, Zachary Kizer, menyatakan perusahaan tidak menyimpan dokumen identitas pengguna. Data wajah dipakai untuk mencocokkan kemiripan kreator dengan konten AI yang terdeteksi oleh sistem.

Pendekatan tersebut menjadi pembeda karena pemindaian tidak berjalan tanpa keterlibatan pengguna. Kreator juga tetap memegang keputusan akhir saat ingin mengambil tindakan terhadap unggahan yang muncul dalam hasil deteksi.

Masih Terbatas untuk Sebagian Kreator di AS

Konsultan media sosial Matt Navarra pertama kali menemukan keberadaan pengujian fitur ini. TikTok kemudian mengonfirmasi kepada The Verge pada Sabtu, 18 Juli 2026, bahwa aksesnya baru diberikan kepada sebagian kecil kreator di Amerika Serikat.

Cakupan yang terbatas berarti fitur ini belum dapat dipakai seluruh kreator TikTok di berbagai negara. Perusahaan juga belum menjelaskan jadwal perluasan program ke pengguna atau wilayah lain.

PlatformLangkah terkait kemiripan wajahCakupan
TikTokMenguji AI Likeness Detection untuk dugaan deepfakeSebagian kecil kreator di AS
YouTubeMemperluas pendeteksian kemiripan wajahKreator di atas 18 tahun dan selebritas
MetaMeluncurkan Muse Image dengan foto publik InstagramDitarik tiga hari setelah peluncuran

Berbeda dari Langkah YouTube dan Meta

YouTube telah lebih dahulu memperluas fitur pendeteksi kemiripan wajah bagi kreator berusia di atas 18 tahun. Perlindungan serupa di platform tersebut juga diperluas kepada kalangan selebritas pada awal tahun ini.

Meta, di sisi lain, sempat mendapat kritik setelah meluncurkan Muse Image yang menggunakan foto publik dari Instagram untuk membuat gambar AI. Fitur itu memasukkan seluruh pengguna secara otomatis dan ditarik tiga hari setelah peluncuran akibat protes luas.

Beritasatu.com melaporkan bahwa model TikTok menekankan persetujuan pengguna sebelum pemindaian dimulai. Mekanisme ini membuat perlindungan terhadap kemiripan wajah tidak hanya bergantung pada kemampuan AI, tetapi juga pada pilihan kreator untuk mengaktifkannya.

Uji coba ini menunjukkan bahwa persoalan deepfake kini berkaitan langsung dengan hak seseorang atas kemiripan dirinya di ruang digital. Bagi kreator yang mendapat akses, fitur tersebut dapat menjadi jalur untuk mengetahui lebih cepat jika wajah mereka diduga digunakan tanpa izin.

Terkait