Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan belum mampu membendung tekanan terhadap rupiah. Pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, mata uang Garuda ditutup melemah 29 poin ke Rp17.917 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.888 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi ketika pasar global kembali dibayangi risiko geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tekanan Eksternal Mengalahkan Sentimen BI Rate
Pasar menaruh perhatian pada konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai sentimen eksternal itu masih menjadi sumber tekanan utama bagi pergerakan rupiah.
Kekhawatiran juga datang dari ancaman kelompok Houthi di Yaman untuk kembali melakukan blokade jalur pelayaran. Kelompok yang disebut bersekutu dengan Iran tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pengiriman melalui Laut Merah.
Gangguan pada jalur pelayaran penting itu menambah ketidakpastian bagi investor. Risiko geopolitik muncul saat pelaku pasar juga mencermati arah suku bunga Federal Reserve atau The Fed sepanjang 2026.
Investor masih mengantisipasi kemungkinan bank sentral AS melanjutkan pengetatan kebijakan suku bunga. Kombinasi sentimen dari AS dan Timur Tengah membuat rupiah tetap tertekan meski Bank Indonesia mempertahankan tingkat bunga acuannya.
Suku Bunga Tetap di Level 5,75%
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga tidak berubah.
| Instrumen | Level | Keputusan |
|---|---|---|
| BI Rate | 5,75% | Dipertahankan |
| Deposit Facility | 4,75% | Ditahan |
| Lending Facility | 6,50% | Ditahan |
Ibrahim menyebut keputusan tersebut diikuti kebijakan lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut dia, insentif diperlukan guna mendorong arus modal asing masuk ke pasar uang Indonesia.
“Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Ibrahim. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menghadapi tekanan di pasar valuta asing.
Intervensi Pasar dan SRBI Jadi Penopang
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan level akhir Juni 2026. Pada akhir periode itu, rupiah berada di Rp17.880 per dolar AS.
Untuk menjaga stabilitas, bank sentral mengoptimalkan intervensi di pasar non-deliverable forward atau NDF luar negeri. Di pasar domestik, BI juga melakukan transaksi spot dan domestic non-deliverable forward atau DNDF.
Bank Indonesia turut menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI untuk menarik investasi portofolio asing. Perry mengatakan langkah itu ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
“Suku bunga sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo. BI juga akan memperluas insentif untuk menarik modal asing dengan dukungan imbal hasil yang menarik dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Source: www.beritasatu.com






