Ticker-Tape Parade New York, dari Mesin Saham yang Kini Tinggal Jadi Hujan Kertas

Hujan kertas yang identik dengan ticker-tape parade New York City ternyata berawal dari mesin telegrap keuangan, bukan dari tradisi perayaan biasa. Dari alat untuk membaca harga saham, sisa pita kertasnya justru berubah menjadi simbol kemenangan yang masih dipakai sampai sekarang.

Tradisi itu pertama kali menonjol pada 1886, saat New York City merayakan peresmian Patung Liberty. Ketika iring-iringan melintas di Broadway, para pekerja Manhattan melempar potongan kertas dari jendela gedung kantor, dan kebiasaan itu kemudian melekat sebagai ciri khas parade di kota tersebut.

Dari Stock Ticker ke Simbol Perayaan

Kata “ticker” berasal dari stock ticker, mesin pencetak saham yang dibuat pada 1867 oleh Edward A. Calahan dari American Telegraph Company. Desainnya lalu disempurnakan oleh Thomas Edison, dan mesin itu menerima informasi harga saham lewat kabel telegraph sebelum mencetaknya di pita kertas.

Menurut Kristin Aguilera, wakil direktur Museum of American Finance di Boston, teknologi ini menjadi lompatan besar karena sebelumnya orang harus sangat dekat dengan bursa saham untuk mengetahui harga pasar terkini. Alternatif lain saat itu jauh lebih lambat, mulai dari laporan pos, kurir, merpati pos, hingga sinyal bendera.

Pada masanya, ticker memberi akses harga saham yang nyaris real time untuk pertama kalinya. Menjelang pergantian abad, alat ini sudah tersebar di perusahaan pialang, rumah investor kaya, dan kantor berita.

Mengapa Pita Kertas Itu Dilempar ke Jalan

Hujan ticker tape di New York lahir dari limbah tak terduga. Saat mesin mencetak terlalu banyak pita kertas, sisa itu dipakai dalam parade dan perlahan berubah menjadi bagian dari budaya publik kota.

Joseph Janes, profesor asosiasi di University of Washington Information School sekaligus pembawa podcast Documents That Changed the World, menyoroti ironi tersebut. Ia mengatakan banyak orang sekarang bahkan tidak tahu lagi apa itu ticker tape, padahal benda itu pernah menjadi simbol penting arus informasi keuangan.

Dari kebiasaan itu lahirlah rute parade di Broadway yang dikenal sebagai “Canyon of Heroes.” Di sana, potongan kertas beterbangan di antara gedung-gedung tinggi dan membentuk penanda kemenangan yang sangat khas New York.

Ketika Mesin yang Sama Ikut Memicu Kepanikan

Mesin ticker tidak selalu bekerja mulus, terutama saat volume perdagangan melonjak tinggi. Karena hanya bisa mencetak secepat tertentu, mesin ini bisa tertinggal dari laju pasar yang sebenarnya.

Masalah itu menjadi serius saat kejatuhan pasar 1929. Menurut Janes, ticker sempat tertunda hingga berjam-jam di beberapa titik, dan keterlambatan itu ikut memperparah kepanikan karena orang melihat pasar jatuh lalu menjual lebih banyak lagi.

Ia juga menggambarkan suasana Wall Street yang dipenuhi potongan kertas ticker. Pada satu kesempatan, bus wisata membawa orang-orang ke kota untuk melihat Wall Street yang rusak, sementara potongan pesanan saham dan ticker tape berserakan di jalan.

Jejaknya Masih Hidup Sampai Sekarang

Meski stock ticker fisik sudah tidak lagi digunakan, pengaruhnya belum hilang dari bahasa pasar dan media. Banner pergerakan saham di bagian bawah siaran televisi masih disebut “ticker,” dan perubahan harga saham masih disebut “ticks.”

Mesin ticker juga terus disempurnakan oleh para penemu dengan model yang lebih cepat, termasuk versi yang dibahas dalam artikel Scientific American pada 1930. Pada akhirnya, stock ticker digunakan sampai 1960-an, sementara sisa kertasnya tetap dipakai untuk parade di New York City.

Kini, yang dilempar saat parade adalah kertas yang sudah disobek, bukan ticker tape asli. Namun semangatnya tetap sama, yaitu merayakan pencapaian besar dengan simbol yang lahir dari salah satu inovasi komunikasi paling berpengaruh dalam sejarah finansial.

Terkait