The Changcuters menunjukkan bahwa kekompakan mereka bukan hanya ada di musik, tetapi juga di cara berpakaian di atas panggung. Saat ada satu personel yang lupa membawa seragam, seluruh anggota memilih menyesuaikan penampilan agar tetap selaras.
Langkah itu memperlihatkan bahwa busana panggung bagi band asal Bandung ini bukan sekadar urusan tampilan. Seragam sudah menjadi bagian dari identitas mereka sejak lama, dan komitmen itu dijaga dalam setiap penampilan.
Komitmen Seragam yang Tidak Ditawar
Bassist sekaligus General Manager The Changcuters, Dipa, mengatakan band ini belum pernah tampil dengan kostum yang berbeda-beda selama berdiri. Ia menyebut pernah ada anggota yang tertinggal koper menjelang tampil, lalu seluruh personel sepakat membeli pakaian baru dengan model yang sama.
“Belum. Bahkan sampai sekali waktu pernah ada yang ketinggalan (koper). Satu orang, salah satu dari kita ketinggalan, kita harus harus membeli yang seragam… Itu karena komitmen kita,” kata Dipa dalam konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (25/6).
Keputusan itu menunjukkan bahwa keseragaman bagi The Changcuters lebih dari urusan visual. Mereka memilih menjaga citra band secara kolektif daripada membiarkan satu anggota tampil berbeda sendiri.
Kalau Satu Lupa Atribut, Yang Lain Ikut Menyesuaikan
Vokalis Tria menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut juga berlaku untuk detail kecil seperti atribut panggung. Jika ada satu anggota lupa membawa aksesori tertentu, personel lain akan menyesuaikan agar penampilan tetap rapi dan seragam.
“Ya atau sederhana saja misalnya, ‘Aduh, gua lupa enggak bawa dasi.’ Ya udah, akhirnya misalnya kalau enggak ada nemu jalan buat dapatin dasi lagi, semuanya lepas dasi gitu,” ujar Tria.
Pola itu membuat The Changcuters tetap konsisten di atas panggung, meski persiapan di belakang layar tidak selalu berjalan mulus. Solusi yang dipilih selalu mengarah pada kebersamaan, bukan menonjolkan perbedaan satu orang dari yang lain.
Keseragaman Jadi Identitas yang Terjaga
Gitaris yang akrab disapa Kapten Qibil menegaskan bahwa keseragaman sudah melekat pada cara The Changcuters tampil. Menurut dia, identitas itu tetap dijaga bahkan ketika penonton hanya mendengar suara mereka tanpa melihat visual secara langsung.
“Pokoknya komitmen kita selama membawa nama The Changcuters, kita keseragaman. Bahkan tanpa harus ada video, hanya suara, tetap kita keseragaman. Begitu,” tegas Qibil.
Ucapannya menegaskan bahwa seragam bagi band ini bukan sekadar pilihan gaya. Keseragaman menjadi bagian dari citra yang terus dipertahankan setiap kali mereka tampil di depan penonton.
Cara Memilih Kostum Panggung
Qibil juga menjelaskan bahwa pemilihan busana tampil dilakukan dengan memperhatikan konsep acara dan warna latar panggung. Ia biasanya melihat dulu situasi visual acara sebelum menentukan kostum yang akan dipakai bersama.
Selain itu, mereka juga menjaga rotasi warna agar tampilan tidak terasa terlalu mirip dengan panggung sebelumnya. Jika sebelumnya The Changcuters tampil dengan busana hitam, pilihan warna berikutnya diusahakan tidak sama.
“Yang paling simpel, biasanya, saya lihat dulu background acaranya gimana. Apakah ada warna-warna tertentu di acara itu. Kayak gitu kalau misalnya bebas, bebasnya ya udah gimana mood aja ya. Sama ya rotasinya itu jangan terlalu mepet lah. Misalnya kemarin pakai baju hitam ya sekarang jangan pakai baju hitam lagi,” kata Qibil.
Dengan cara itu, The Changcuters tetap menjaga tampilan kompak tanpa mengabaikan kebutuhan visual acara. Mereka mempertahankan identitas panggung sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
Source: www.medcom.id






