Tencent Cloud Pacu Migrasi XLSMART Jadi 4,5 Bulan, Tanpa Downtime

Author: Cung Media

Tencent Cloud membawa migrasi besar XLSMART ke level yang jarang terjadi di proyek public cloud. Dengan bantuan AI di hampir setiap tahap, perpindahan sistem skala besar itu selesai hanya dalam 4,5 bulan dan berjalan tanpa downtime.

Proyek ini menarik perhatian karena berlangsung di tengah integrasi pasca-merger yang kompleks. XLSMART harus menyatukan sistem dari hasil konsolidasi XL Axiata dan Smartfren, sambil tetap menjaga layanan untuk puluhan juta pelanggan.

AI dipakai dari analisis sampai cutover

Tencent Cloud tidak hanya menempatkan AI di satu titik kerja, melainkan menggunakannya di seluruh proses migrasi. CodeBuddy, WorkBuddy, dan TokenHub membantu memangkas pekerjaan manual yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan hari.

Selama eksekusi, lebih dari 20 fitur pintar atau Skills dikembangkan untuk memandu migrasi dari tahap identifikasi hingga pengalihan sistem. Seluruh kemampuan itu kemudian digabungkan menjadi platform migrasi AI yang diposisikan sebagai blueprint untuk proyek transformasi cloud global berikutnya.

Skala Migrasi Angka Keterangan
Microservices 1.200+ Dipindahkan ke sistem baru
API 1.100 Ikut dimigrasikan
Antarmuka bisnis 900 Berjalan mulus ke lingkungan baru
Aplikasi inti 60 Harus disatukan dalam integrasi pasca-merger

Arsitektur lama harus diurai ulang

XLSMART lahir dari merger strategis XL Axiata dan Smartfren yang resmi terbentuk pada April 2025. Perusahaan ini kini melayani lebih dari 69 juta pelanggan dan menjadi salah satu tulang punggung telekomunikasi nasional.

Namun, kondisi teknologi awalnya tidak sederhana karena arsitektur yang terfragmentasi di berbagai platform multi-cloud. Tantangan itu bertambah berat karena ada lebih dari 10 vendor pihak ketiga dengan lingkungan kerja yang berbeda-beda.

Karena itu, XLSMART memilih untuk tidak sekadar melakukan lift-and-shift. Manajemen justru merancang ulang arsitektur secara menyeluruh dan menetapkan penyatuan sistem pada Desember 2025.

Otomasi menekan kerja manual

Pada fase analisis, Tencent Cloud menghadirkan dua Skills utama untuk mempercepat pemeriksaan arsitektur lama yang dikenal paling menyita waktu. Satu fitur memindai lingkungan lintas akun secara otomatis, sementara fitur lain menghasilkan dokumen Low-Level Design dan diagram visual secara instan.

Otomasi itu mengurangi beban administratif yang biasanya melekat pada pekerjaan berbasis Excel. Engineer kemudian bisa lebih fokus pada penyempurnaan desain arsitektur, sementara alur kerja tetap tersambung lewat konversi Terraform dan pembuatan cutover playbook otomatis.

Keamanan dan lokalisasi ikut dikerjakan

Selama masa transisi, lebih dari 20 produk inti dikerahkan untuk mendukung migrasi, mulai dari database, manajemen kontainer, hingga keamanan siber. Tencent Cloud juga melakukan lebih dari 200 adaptasi fitur kustom agar ekosistem global itu sesuai dengan kebiasaan pengguna lokal di Indonesia.

Salah satu solusi yang dipakai adalah Database Claw, agen pintar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan basis data. Melalui pengujian ketat dan infrastructure hardening, migrasi ini disebut berjalan aman tanpa gangguan layanan.

Aset data inti dengan volume lebih dari 15 terabyte juga ikut dipindahkan ke lingkungan baru dengan tingkat keamanan tertinggi. Poshu Yeung, Senior Vice President of Tencent Cloud International, menyebut pencapaian itu sebagai tolok ukur baru di industri teknologi.

Di sisi XLSMART, Chief Information & Technology Officer Yessie D. Yosetya menegaskan bahwa proyek ini membangun fondasi digital yang tangguh untuk fase pertumbuhan berikutnya. Hasilnya memperlihatkan bahwa migrasi besar di tengah merger bisa diselesaikan cepat tanpa mengorbankan kontinuitas layanan.

Source: id.mashable.com
Terbaru