Dinding gua yang selama ini dianggap hanya sebagai kanvas seni cadas ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih penting: DNA manusia purba. Temuan ini membuka cara baru untuk membaca aktivitas manusia masa lalu dari permukaan batu yang selama ribuan tahun terlihat pasif.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications menunjukkan bahwa dinding gua dapat berfungsi sebagai arsip biologis. Selama ini, DNA manusia purba lebih sering dicari dari tulang, gigi, atau sedimen gua, bukan dari area yang memuat lukisan kuno.
Titik Merah Kecil yang Menjadi Kunci
Petunjuk paling penting datang dari Gua Escoural di Portugal. Di sana, para peneliti menaruh perhatian pada sebuah titik merah kecil yang tertutup lapisan mineral di dekat lukisan hewan dan stensil tangan.
Sampel dari titik itu kemudian dianalisis bersama material dari 24 panel seni cadas di 11 gua di Spanyol dan Portugal. Pengambilan sampel dilakukan sangat hati-hati dengan pisau bedah, bor khusus, dan kapas penyeka agar karya seni tidak rusak.
Dari seluruh sampel, titik merah di Escoural menjadi yang paling signifikan. Lapisan kalsit yang menutupinya diduga bertindak seperti segel alami yang membantu melindungi materi genetik selama ribuan tahun.
Lapisan Mineral yang Menjaga Jejak Genetik
Para ilmuwan menjelaskan bahwa DNA kuno biasanya mengalami kerusakan kimia dengan pola khas. Pola inilah yang dipakai untuk membedakan DNA purba dari DNA modern yang mungkin masuk belakangan.
Pada pigmen merah di Escoural, tim menemukan DNA mitokondria dengan ciri manusia purba. Tidak ditemukan DNA hewan pada sampel yang sama, sehingga dugaan kuat mengarah pada kontak langsung manusia dengan permukaan dinding gua.
Jejak itu kemungkinan tertinggal dari sel kulit, keringat, air liur, atau cairan tubuh lain saat seseorang menyentuh dinding atau menyiapkan lukisan. Temuan ini membuat dinding gua tidak lagi dipandang hanya sebagai media seni, melainkan juga permukaan yang menyimpan jejak biologis.
Siapa Pemilik DNA Itu Masih Belum Pasti
Meski penting, temuan itu belum bisa memastikan apakah DNA tersebut berasal dari pembuat lukisan. DNA bisa saja datang dari orang yang melukis, individu yang menyiapkan pigmen, atau pengunjung lain yang menyentuh dinding pada masa berikutnya.
Konteks waktunya juga belum sepenuhnya jelas. Gua Escoural diperkirakan sudah tertutup sejak berakhirnya Zaman Tembaga dan baru ditemukan kembali pada 1963, sehingga DNA yang terdeteksi diperkirakan berusia setidaknya 4.000 hingga 5.000 tahun.
Namun, pola kerusakan DNA memberi petunjuk bahwa usianya bisa jauh lebih tua. Para peneliti bahkan menduga jejak itu mungkin berasal dari Paleolitik Atas, meski usia pastinya belum bisa dipastikan.
Jejak Serupa Juga Ditemukan di Dinding Tanpa Gambar
DNA manusia purba tidak hanya muncul pada area bergambar. Tim juga mendeteksi jejak genetik di beberapa bagian dinding yang tidak memiliki seni cadas, termasuk dua sampel dari Gua Escoural dan dua sampel dari Gua Covarón di Spanyol.
Sebagian sampel itu mengandung DNA hewan, sehingga peneliti menduga materialnya mungkin terbawa sedimen, tangan yang kotor, atau aliran air. Pada Gua Covarón, analisis DNA inti menunjukkan keterkaitan dengan kelompok pemburu-pengumpul Eropa Barat yang hidup sekitar 16.700 hingga 5.200 tahun lalu.
Dari sampel dinding yang tidak bergambar itu, tiga diduga berasal dari perempuan dan satu lainnya dari laki-laki. Sementara itu, sampel dari titik merah di Escoural belum menghasilkan DNA inti yang cukup untuk menentukan jenis kelamin.
Masih Ada Batasan, Tapi Arahnya Menjanjikan
Walau hasilnya menjanjikan, penelitian ini belum memberi jawaban final. Dari seluruh sampel seni cadas yang diuji, hanya satu yang berhasil menghasilkan DNA manusia purba yang benar-benar dapat diverifikasi.
Ada juga sampel dari tulang burung berlapis oker di Gua Altamira yang diduga pernah dipakai sebagai alat penyemprot pigmen. Sampel itu memang mengandung fragmen DNA manusia, tetapi jumlahnya terlalu sedikit untuk memastikan apakah berasal dari manusia purba atau justru kontaminasi modern.
Ahli paleogenetika Universitas Kopenhagen, Enrico Cappellini, menilai studi ini tetap menjadi pencapaian penting. Ia menyebut hasil tersebut membuktikan DNA manusia purba bisa bertahan di dinding gua selama ribuan tahun, meski interpretasinya harus dilakukan dengan hati-hati karena hanya sedikit sampel yang memberi bukti kuat.
Para peneliti juga mendorong penelitian lanjutan di lebih banyak gua dengan kondisi pelestarian yang lebih baik. Mereka menilai analisis DNA perlu dipadukan dengan penanggalan lain, seperti uranium-thorium pada lapisan kalsit, agar usia sampel bisa dipastikan lebih akurat.
Arsip Baru untuk Membaca Aktivitas Manusia Purba
Penemuan ini memperluas sumber data yang bisa dipakai ilmuwan untuk mempelajari masa lalu. Selain tulang, gigi, sedimen gua, dan benda seperti liontin Paleolitik, kini dinding gua juga masuk ke daftar media yang mungkin menyimpan jejak genetik manusia.
Bagi arkeologi, dinding gua bukan hanya tempat melukis, tetapi juga ruang yang mungkin merekam pergerakan manusia, sentuhan, aktivitas ritual, dan area yang paling sering didatangi di bagian terdalam gua. Informasi semacam ini dapat membantu ilmuwan membaca pola aktivitas manusia purba dengan lebih rinci.
Hipólito Collado Giraldo, salah satu penulis penelitian, menegaskan bahwa temuan ini bukan sekadar soal seni cadas. Menurutnya, riset tersebut menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana manusia purba memanfaatkan gua dan di mana mereka meninggalkan jejak keberadaan yang masih bisa dibaca hingga sekarang.
