Tarif bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di Jawa Timur belum ikut naik, meski tekanan biaya operasional terus membesar. Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi, sparepart, dan oli disebut sudah meningkat dan membuat perusahaan otobus harus berhitung lebih hati-hati.
Organda Jatim memilih menahan tarif sambil menunggu keputusan resmi pemerintah. Sikap itu diambil agar penyesuaian yang belum pasti tidak memicu dampak sosial di lapangan.
Biaya naik, tarif tetap dipertahankan
Ketua DPD Organda Jatim, Firmansyah Mustafa, mengatakan kenaikan biaya operasional sudah terasa oleh operator bus. Namun, untuk trayek AKDP, tarif masih belum diubah baik pada kelas ekonomi maupun non-ekonomi.
Menurut dia, kondisi lapangan membuat operator tidak bisa mengambil langkah tergesa-gesa. Selain komponen transportasi, harga bahan pokok juga ikut naik dan menambah tekanan pada operasional.
AKAP non-ekonomi lebih dulu menyesuaikan
Firmansyah menjelaskan bahwa sejumlah operator bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), terutama kelas non-ekonomi, sudah lebih dulu menyesuaikan tarif. Kondisi itu belum terjadi pada layanan AKDP di Jawa Timur.
Ia menyebut kenaikan tarif AKAP non-ekonomi dipicu tarif pesawat yang juga naik. Meski begitu, tarif AKDP non-ekonomi tetap dipertahankan untuk saat ini.
Waspada pergeseran penumpang ke kelas ekonomi
Organda juga mengkhawatirkan efek lanjutan jika tarif non-ekonomi AKDP ikut naik. Salah satu risiko yang dipertimbangkan adalah perpindahan penumpang dari kelas non-ekonomi ke ekonomi.
Pergeseran itu dinilai bisa mengganggu keseimbangan layanan dan memengaruhi operasional perusahaan angkutan. Karena itu, penyesuaian tarif belum menjadi pilihan utama sampai ada kebijakan yang jelas dari pemerintah.
Wacana kendaraan listrik dinilai belum cocok untuk jarak jauh
Di luar persoalan tarif, Firmansyah juga menanggapi wacana kendaraan listrik untuk transportasi umum. Menurut dia, teknologi tersebut lebih cocok untuk angkutan dalam kota daripada untuk trayek jarak jauh.
Ia menilai kemampuan baterai belum memadai untuk perjalanan antarkota yang menuntut jangkauan lebih panjang. Pandangan itu menjadi salah satu alasan mengapa kendaraan listrik belum dianggap ideal untuk layanan jarak jauh.
Pemerintah belum ambil keputusan
Kepala Dinas Perhubungan Jatim Nyono membenarkan bahwa belum ada keputusan soal kenaikan tarif angkutan umum di Jawa Timur. Meski begitu, sejumlah perusahaan angkutan disebut sudah mengajukan usulan penyesuaian kepada pemerintah.
Selama keputusan resmi belum keluar, tarif bus AKDP di Jawa Timur tetap berjalan seperti sebelumnya. Pembahasan tarif pun masih terbuka sambil menunggu arah kebijakan berikutnya.
