Tablet murah di pasar saat ini sudah jauh berubah. Dengan bujet Rp1 jutaan, pembeli tak lagi otomatis mendapat layar pas-pasan dan performa seadanya.
Persaingan justru membuat banyak tablet murah kini membawa baterai besar, layar cepat, dan dukungan SIM. Di sisi lain, kelas Rp3 jutaan ke atas mulai mendekati rasa tablet premium untuk pengguna yang butuh perangkat lebih serius.
Rp1 jutaan masih masuk akal, asal tepat sasaran
Tablet murah kini lebih masuk akal jika dipilih berdasarkan kebutuhan harian, bukan sekadar harga terendah. Untuk pemakaian ringan seperti menonton video, membuka aplikasi, atau dipakai anak sekolah, perangkat yang terlalu mahal sering kali tidak terasa manfaatnya.
Patokan yang layak diprioritaskan ada pada layar 10 hingga 11 inci, refresh rate 90Hz atau lebih, serta baterai 7.000 mAh sampai 10.000 mAh. Jika tablet sering dibawa keluar rumah, varian 4G atau 5G lebih relevan, sementara versi Wi-Fi-only lebih hemat untuk penggunaan indoor.
Dua opsi menarik di kelas awal
Di rentang Rp1,5 juta hingga Rp2 jutaan, Redmi Pad SE 4G menjadi salah satu pilihan yang menonjol di marketplace. Tablet ini memakai layar 8,7 inci dengan refresh rate 90Hz, tingkat kecerahan hingga 600 nits, dan dukungan kartu SIM 4G.
Untuk kebutuhan ringan, perangkat ini mengandalkan MediaTek Helio G85. Kombinasi tersebut membuatnya cocok untuk pengguna yang butuh tablet ringkas dan anak sekolah yang mencari perangkat praktis.
Masih di kelas yang sama, Realme Pad 2 Lite menawarkan layar yang lebih besar. Panel 10,95 inci beresolusi 2K dan kedalaman warna 10-bit membuatnya lebih nyaman untuk konsumsi hiburan.
Realme juga membekalinya dengan Helio G99 dan baterai 8.300 mAh. Paket ini membuatnya terasa lebih siap dipakai seharian dibanding banyak tablet murah lain di kelasnya.
Kelas menengah paling seimbang
Bagi pengguna yang mencari paket paling komplet, Poco Pad 5G terlihat sangat agresif di kisaran Rp3 juta hingga Rp4 jutaan. Tablet ini membawa layar 12,1 inci 2.5K, refresh rate 120Hz, panel 12-bit, Snapdragon 7s Gen 2, dan RAM hingga 8GB.
Skor AnTuTu-nya disebut menembus hampir 800 ribu poin. Baterainya berkapasitas 10.000 mAh dengan pengisian 33W, sehingga perangkat ini terasa siap untuk game berat dan multitasking.
OnePlus Pad Lite bermain di jalur yang berbeda dengan fokus pada kenyamanan pemakaian jangka panjang. Tablet ini dijanjikan mendapat pembaruan OS hingga 4 tahun, memakai Helio G99, dan membawa kualitas audio premium khas OnePlus.
Samsung Galaxy Tab A9+ juga masuk daftar menarik untuk pengguna yang memprioritaskan merek dan layanan purna jual. Tablet ini memakai MediaTek Dimensity 7300 dengan skor AnTuTu menembus 870 ribu poin, serta menawarkan fitur multitasking khas Samsung untuk kebutuhan produktivitas.
Kelas atas mulai mendekati pengganti laptop
Naik ke rentang Rp4,5 juta hingga Rp5 jutaan ke atas, Redmi Pad Pro 2 hadir dengan pendekatan yang lebih serius. Tablet ini memakai Snapdragon 7s Gen 4 dengan skor AnTuTu nyaris 1 juta poin, layar 12,1 inci 2.5K, dukungan Dolby Vision, dan fitur Hydro Touch agar layar tetap responsif saat jari basah atau berkeringat.
Di level tertinggi, Xiaomi Pad 8 memimpin daftar dengan Snapdragon 8s Gen 4. Tablet ini mengusung layar 3.2K dengan refresh rate 144Hz, kecerahan hingga 800 nits, dan kemampuan mengedit video 4K dengan mulus.
Posisinya di pasar Android membuat Xiaomi Pad 8 lebih cocok untuk profesional, desainer, dan gamer berat. Pada level ini, tablet memang mulai terasa seperti perangkat kerja yang bisa mengambil sebagian fungsi laptop.
Pilihan paling masuk akal tetap bergantung pada aktivitas utama. Untuk belajar dan kebutuhan kasual, kelas Rp1 juta sampai Rp2 jutaan sudah cukup, sedangkan untuk kerja, editing video, atau gaming berat, kelas Rp3 juta ke atas memberi alasan yang lebih kuat untuk dibeli.
