
Suzuki mulai menempatkan S-Presso sebagai mobil pertama yang menyasar generasi Z di Indonesia. Langkah ini menarik karena banderolnya masih berada di bawah Rp 200 juta, tetapi tetap dibangun untuk kebutuhan mobilitas harian yang praktis.
Strategi itu terasa relevan dengan pasar otomotif perkotaan yang makin dipengaruhi konsumen muda. Generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 disebut mengutamakan kendaraan yang efisien, mudah dipakai, dan tidak memberatkan biaya operasional.
Harga jadi pintu masuk utama
Daya tarik paling mudah terlihat dari harga jualnya. Suzuki S-Presso dipasarkan mulai Rp 173,1 juta untuk varian transmisi manual dan Rp 184,6 juta untuk tipe Auto Gear Shift atau AGS on the road Jakarta.
Rentang harga tersebut menempatkan S-Presso sebagai salah satu opsi mobil baru yang relatif terjangkau. Posisi ini menyasar pembeli muda yang baru bekerja atau sedang membangun kemandirian finansial.
Disiapkan untuk konsumen muda perkotaan
Suzuki secara terbuka memosisikan S-Presso sebagai kendaraan pertama untuk Gen Z. Kelompok ini disebut mencakup sekitar 26,47 persen populasi Indonesia, sehingga punya pengaruh besar dalam arah konsumsi otomotif, terutama di wilayah urban.
Fokus Gen Z dalam memilih kendaraan mengarah pada mobilitas yang praktis dengan ongkos penggunaan yang terkendali. Karena itu, Suzuki tidak hanya menonjolkan harga beli, tetapi juga efisiensi bahan bakar dan fitur yang dekat dengan gaya hidup digital.
Deputy 4W Sales & Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra, mengatakan S-Presso dihadirkan sebagai jawaban bagi generasi muda yang menginginkan perjalanan hemat tanpa mengorbankan kenyamanan. Ia juga menyebut model ini sebagai salah satu city car dengan harga terbaik di Indonesia.
Donny menegaskan S-Presso dirancang untuk memenuhi kriteria mobil pertama yang ideal. Menurut dia, mobil itu harus praktis, nyaman, dan ekonomis, ditopang layanan purna jual yang mudah diakses agar mobilitas pengguna tetap aman dan efisien.
Efisiensi bahan bakar menjadi nilai jual
Di luar harga, efisiensi menjadi jualan utama S-Presso. Mobil ini memakai mesin K10C 1.000 cc yang dilengkapi fitur Engine Auto Start-Stop untuk membantu menekan konsumsi bahan bakar, terutama saat terjebak kemacetan.
Fitur itu bekerja dengan mematikan mesin secara otomatis dalam kondisi tertentu. Cara kerja tersebut membantu menekan pemakaian BBM ketika kendaraan tidak bergerak.
Suzuki juga menyoroti kapasitas tangki bahan bakar S-Presso yang mencapai 27 liter. Dengan BBM RON 92, pengisian penuh disebut hanya memerlukan biaya sekitar Rp 300 ribuan.
Bagi pembeli muda, hitungan seperti ini penting karena biaya operasional sering menjadi pertimbangan setelah pembelian. Di segmen entry level, pengeluaran harian dan bulanan kerap menentukan keputusan membawa pulang mobil baru.
Dibekali fitur yang dekat dengan kebiasaan digital
Suzuki tidak hanya bermain di harga murah dan konsumsi bahan bakar yang hemat. S-Presso juga dibekali fitur hiburan dan konektivitas digital yang ditujukan untuk pengguna yang terbiasa terhubung dengan ponsel pintar.
Mobil ini menggunakan head unit 7 inci yang mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Pengemudi bisa memanfaatkan sistem itu untuk navigasi, memutar musik, dan menjalankan fungsi konektivitas lain langsung dari layar hiburan mobil.
Donny menyebut fitur hiburan dan konektivitas tersebut memang disiapkan untuk kebutuhan pengguna muda yang akrab dengan perangkat digital. Menurut dia, perjalanan sendiri maupun bersama penumpang bisa tetap terasa seru berkat fungsi yang tersedia di head unit.
Kombinasi harga di bawah Rp 200 juta, mesin 1.000 cc yang efisien, fitur Engine Auto Start-Stop, serta konektivitas Apple CarPlay dan Android Auto memperlihatkan arah strategi Suzuki yang jelas. S-Presso tidak hanya dijual sebagai city car murah, tetapi juga sebagai paket mobil pertama yang mencoba menjawab kebutuhan dasar Gen Z di perkotaan.
Source: www.suara.com




