Startup bioteknologi Inggris, Mass Balance, membawa eksperimen yang tidak biasa ke orbit: laboratorium kimia otomatis untuk riset penyakit kompleks dan langka. Perangkat ringkas itu sudah diluncurkan dengan roket SpaceX pada Selasa (9/7), dan menjadi langkah awal pemanfaatan luar angkasa untuk pengembangan obat.
Yang membuat eksperimen ini menarik adalah cara kerja laboratorium tersebut. Ukurannya hanya sebesar jeruk bali, tetapi di dalamnya terdapat bahan kimia, sensor, dan sistem kontrol otomatis yang dirancang untuk bekerja tanpa campur tangan langsung manusia.
Kenapa mikrogravitasi jadi incaran riset obat
CEO sekaligus salah satu pendiri Mass Balance, Toby Call, menilai ketiadaan gravitasi menciptakan kondisi yang berbeda untuk ilmu hayat dan farmasi. Ia mengatakan, “Ketika Anda menghilangkan gravitasi, banyak hal aneh dan luar biasa terjadi, beberapa di antaranya akan sangat berharga bagi pengembangan obat-obatan,” seperti dilansir News Science.
Di lingkungan mikrogravitasi, data ilmiah diharapkan bisa lebih stabil karena tidak terganggu pengaruh gravitasi seperti yang terjadi di laboratorium konvensional. Kondisi ini membuka peluang untuk membaca perilaku molekul dengan lebih jelas dan menghasilkan informasi yang lebih berguna bagi riset obat.
| Aspek | Detail | Manfaat |
|---|---|---|
| Perangkat eksperimen | Seukuran jeruk bali, berisi bahan kimia, sensor, dan kontrol otomatis | Ringkas dan terintegrasi |
| Lingkungan uji | Mikrogravitasi di luar angkasa | Data lebih stabil dan minim gangguan gravitasi |
| Fokus riset | Protein terkait Alzheimer, Parkinson, dan beberapa jenis kanker | Pemetaan struktur protein yang lebih akurat |
Protein penyakit penuaan jadi target utama
Eksperimen ini berfokus pada struktur protein yang terkait dengan penyakit penuaan, termasuk Alzheimer, Parkinson, dan beberapa jenis kanker. Di Bumi, struktur protein cenderung berubah dinamis akibat pengaruh gravitasi sehingga ilmuwan lebih sulit memetakannya secara akurat.
Dalam kondisi orbit, protein disebut bisa tumbuh lebih stabil dan lebih jelas. Dengan pemetaan struktur yang lebih presisi, peneliti diharapkan dapat memahami mekanisme penyakit dengan lebih baik dan merancang terapi yang lebih efektif.
Langkah awal, bukan akhir
Keberhasilan peluncuran ini memang belum menjadi akhir dari proses pengembangan, karena Mass Balance masih memerlukan rangkaian uji lanjutan. Namun, eksperimen tersebut menandai babak baru dalam penggunaan luar angkasa sebagai laboratorium medis yang bisa mempercepat penemuan obat.
Bagi pasien dengan penyakit yang belum memiliki pengobatan efektif, hasil dari uji seperti ini menyimpan harapan baru. Jika pengujian berikutnya berjalan mulus, laboratorium kimia otonom di orbit bisa menjadi salah satu alat penting untuk memahami penyakit kompleks dari sudut pandang yang sebelumnya tidak tersedia.
Source: mediaindonesia.com






