Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106. Skor akhir memang tipis, tetapi jalannya final menunjukkan La Roja mengendalikan pertandingan dengan selisih statistik yang lebar.
Argentina, yang datang sebagai juara dunia 2022, bahkan tidak mencatatkan satu tembakan tepat sasaran sepanjang laga. Tim asuhan Luis de la Fuente terus menekan hingga berhasil memecah kebuntuan pada masa tambahan waktu.
Gol Menit ke-106 Menutup Final Ketat
Final berlangsung di MetLife Stadium, East Rutherford, pada Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Kedua tim bermain tanpa gol selama waktu normal sebelum Torres menentukan hasil pertandingan pada menit ke-106.
Gol tersebut memberi Spanyol kemenangan 1-0 sekaligus mengakhiri perlawanan Argentina yang lebih banyak bertahan. Meski Albiceleste mampu menjaga skor tetap imbang cukup lama, mereka kesulitan membangun serangan berbahaya.
Tekanan Spanyol tidak hanya terlihat dari gol penentu, melainkan juga dari penguasaan bola dan volume serangan yang terus meningkat. Argentina hanya memperoleh sedikit kesempatan untuk membawa bola keluar dari area permainan sendiri.
Perbandingan Statistik Final
Data pertandingan yang dilaporkan sport.detik.com memperlihatkan dominasi Spanyol di hampir seluruh aspek ofensif. La Roja menguasai 65 persen bola dan menghasilkan 20 percobaan, sedangkan Argentina hanya membuat dua percobaan.
| Aspek | Spanyol | Argentina |
|---|---|---|
| Penguasaan bola | 65 persen | 35 persen |
| Total percobaan | 20 | 2 |
| Percobaan tepat sasaran | 12 | 0 |
| Pelanggaran | 21 | 24 |
| Kartu kuning | 0 | 7 |
Dari 20 percobaan Spanyol, sebanyak 12 mengarah ke gawang Argentina. Sebaliknya, dua upaya Argentina tidak satu pun menemui sasaran dan membuat Spanyol relatif tidak mendapat ancaman langsung ke gawang.
Ketimpangan itu menjelaskan mengapa skor 1-0 tidak sepenuhnya menggambarkan penguasaan permainan. Spanyol mampu mempertahankan bola lebih lama, menciptakan peluang lebih banyak, lalu memanfaatkan momentum pada extra time.
Argentina Terganggu Pelanggaran dan Kartu
Selain tumpul dalam serangan, Argentina juga menghadapi masalah disiplin sepanjang final. Mereka tercatat melakukan 24 pelanggaran dan menerima tujuh kartu kuning.
Enzo Fernandez mendapat salah satu kartu kuning tersebut dan harus menjalani hukuman akumulasi. Leandro Paredes kemudian menerima kartu merah setelah pertandingan berakhir.
Spanyol juga bermain dengan intensitas tinggi dan melakukan 21 pelanggaran. Namun, tidak ada satu pun pelanggaran La Roja yang berbuah kartu dari wasit.
Perbedaan catatan disiplin itu menambah kontras antara kedua finalis. Spanyol tetap menjaga struktur permainan tanpa kartu, sementara Argentina harus menghadapi gangguan akibat banyaknya pelanggaran dan hukuman yang diterima.
Gelar Dunia Kedua La Roja
Kemenangan atas Argentina membuat Spanyol mengoleksi dua trofi Piala Dunia. Gelar pertama mereka datang pada 2010, saat menang 1-0 atas Belanda di partai final.
Keberhasilan kali ini juga diraih melalui skor yang sama, tetapi dengan penentu berbeda. Jika final 2010 berakhir 1-0 atas Belanda, final di East Rutherford diputuskan oleh Ferran Torres pada masa tambahan waktu.
Argentina tidak mampu mengubah penguasaan bola 35 persen menjadi peluang bersih di depan gawang Spanyol. La Roja pun menutup turnamen dengan trofi, sementara Argentina mengakhiri final tanpa tembakan tepat sasaran.
