Solitary Sandpiper, Burung Pantai yang Bertelur di Pohon dan Selalu Migrasi Sendiri

Author: Cung Media

Solitary sandpiper atau Tringa solitaria tampil berbeda dari banyak burung pantai lain karena kebiasaannya yang serba sendiri. Burung ini jarang terlihat berkelompok, baik saat mencari makan maupun ketika menempuh migrasi jarak jauh.

Perilaku menyendiri itu membuatnya mudah dikenali, apalagi dengan lingkaran putih tebal di sekitar mata dan punggung cokelat zaitun gelap berbintik putih. Kontras warna itu memberi kesan khas yang langsung menonjol di lapangan.

Penampilan dan ciri fisik yang mencolok

Ukuran tubuh solitary sandpiper tergolong sedang, sekitar 19 hingga 23 sentimeter. Kakinya berwarna hijau zaitun hingga kuning kehijauan, sementara paruhnya tipis, lurus, dan gelap.

Saat terbang, bagian bawah sayapnya tampak kehitaman dan ekor luarnya bergaris hitam-putih. Ujung sayapnya yang panjang juga melampaui ekor ketika hinggap, sehingga membantu membedakannya dari sandpiper lain.

Lebih dekat dengan air tawar pedalaman

Berbeda dari banyak burung pantai yang hidup di garis pesisir, spesies ini hampir sepenuhnya bergantung pada ekosistem air tawar di pedalaman. Habitat pilihannya meliputi rawa gambut, kolam muskeg dangkal, dan bekas bendungan berang-berang di kawasan hutan konifer boreal.

Sekitar 85 hingga 90 persen populasi globalnya memilih hutan boreal Kanada sebagai wilayah hidup utama. Saat bermigrasi, burung ini juga fleksibel dan bisa singgah di parit drainase, ladang tergenang, hingga genangan air hujan di area perkotaan.

Sarang di atas pohon, bukan di tanah

Salah satu keunikan terbesar solitary sandpiper ada pada cara berkembang biaknya. Alih-alih membuat sarang di tanah seperti banyak burung pantai, ia meletakkan telur di sarang pohon bekas milik burung lain.

Mereka memanfaatkan sarang tua di atas pohon konifer boreal, terutama yang pernah dipakai robin, rusty blackbird, canada jay, dan cedar waxwing. Kebiasaan ini sempat membuat lokasi sarang asli burung ini lama menjadi misteri bagi para ilmuwan.

Menurut All About Birds, struktur sarangnya baru berhasil ditemukan pengamat pada 1903. Padahal spesies ini sudah pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1813.

Migrasi sendirian dan cenderung agresif

Sifat menyendiri itu juga terlihat saat migrasi musiman. Audubon menyebut solitary sandpiper sebagai burung migran jarak jauh yang bergerak sendirian dan aktif pada malam hari menuju wilayah musim dingin.

Tujuan utamanya adalah rawa-rawa serta tepian sungai di Cekungan Amazon, Amerika Selatan. Selama perjalanan, burung ini dikenal agresif dan tidak toleran terhadap kehadiran sesamanya di area makan.

Mereka tidak bergerak dalam kelompok besar dan memilih mempertahankan teritori secara mandiri. Jika ada burung lain mendekat, ia akan mengusirnya dari lokasi persinggahan.

Strategi berburu yang efisien

Di lokasi mencari makan, solitary sandpiper memakai teknik berburu visual yang efektif. Mangsa utamanya terdiri atas serangga air beserta larvanya, capung, kumbang, krustasea, dan kadang katak kecil.

Burung ini berjalan perlahan di atas lumpur atau dedaunan basah, lalu mematuk mangsa dengan cepat menggunakan paruh rampingnya. Ia juga sering menghentikan langkah untuk menggetarkan salah satu kaki di air agar hewan kecil di dasar muncul karena panik.

Begitu mangsa bergerak, burung ini segera menyambar dengan akurat di permukaan air. Pola berburu itu menunjukkan bagaimana solitary sandpiper mengandalkan ketelitian, kesabaran, dan respons cepat untuk bertahan hidup di habitat yang berubah-ubah.

Source: www.idntimes.com
Terbaru