Elon Musk Taruh AI ke Orbit, Janjinya Tenaga Nyaris Tak Terbatas Tapi Risikonya Besar

Author: Cung Media

Rencana membawa pusat data AI ke orbit mulai terdengar semakin serius, bukan lagi sekadar ide futuristis. SpaceX milik Elon Musk bahkan sudah mengajukan proposal ke Federal Communications Commission AS untuk membangun orbital data centre system dengan konstelasi hingga satu juta satelit bertenaga surya.

Di atas kertas, orbit menawarkan jawaban atas tiga masalah besar pusat data di Bumi: energi, pendinginan, dan konektivitas. Namun biaya peluncuran, perawatan, dan risiko teknis membuat jalur ini masih sangat jauh dari kata mudah.

Kenapa orbit begitu menarik

Daya tarik utamanya ada pada energi matahari yang jauh lebih stabil di luar angkasa. Panel surya di orbit bisa menerima sinar matahari yang tidak terputus dan tidak terfilter, sementara di Bumi efisiensinya turun karena cuaca dan jam terang.

Masalah pendinginan juga ikut mendorong minat terhadap konsep ini. Pusat data di darat harus menanggung biaya tinggi untuk pendingin udara dan sistem liquid cooling, sedangkan ruang hampa dengan suhu minus 270 derajat Celsius terlihat menjanjikan meski panas tetap harus dibuang lewat radiasi.

Konstelasi satelit juga berpotensi memangkas latensi dan membuka jalur layanan cloud antarbenua yang lebih langsung dibanding serat optik tradisional. Bagi sebagian beban kerja, ini bisa berarti pemrosesan data yang lebih cepat dan lebih efisien.

Masalahnya jauh lebih rumit

Walau menjanjikan, pusat data orbit masih dibayangi ongkos besar. Peluncuran perangkat keras ke luar angkasa tetap dinilai mahal dan kompleks, termasuk jika memakai roket reusable milik SpaceX.

Perawatan juga menjadi kendala berat karena perangkat di orbit sulit dijangkau untuk servis dan pembaruan. Di sisi lain, radiasi kosmik dan kondisi ekstrem membuat hardware lebih rentan dibanding sistem yang bekerja di darat.

Di Bumi, penolakan terhadap pusat data juga semakin sering muncul dari komunitas dan kelompok lingkungan. Kekhawatiran soal penggunaan energi dan air ikut menekan proyek-proyek pusat data darat yang diusulkan di sejumlah lokasi.

Pasar mendorong ke arah baru

Daniel Thorpe, kepala riset pusat data di Jones Lang LaSalle, melihat ada dua pendorong permintaan yang berbeda. Yang pertama adalah keterbatasan jangka panjang di darat, terutama energi dan lahan, ketika kebutuhan komputasi AI terus naik.

Pendorong kedua datang dari aktivitas luar angkasa yang makin padat. Satelit pengamatan kini dapat mengumpulkan terabyte data mentah per hari, sehingga pemrosesan langsung di orbit mulai dilihat sebagai cara untuk menghindari kemacetan data saat semuanya harus dikirim ke Bumi.

Sejumlah pemain sudah lebih dulu masuk. Axiom Space dan Starcloud termasuk di antaranya, sementara Starcloud menyebut dalam white paper Why we should train AI in space bahwa energi surya orbital bisa lebih hemat biaya dibanding listrik di Bumi jika biaya peluncuran dan deployment terus turun.

Dalam dokumen itu, Starcloud juga memperkirakan potensi penghematan $138m untuk klaster 40 MW selama 10 tahun. Meski begitu, pertanyaan soal kelayakan ekonomi pusat data orbital masih jauh dari tuntas.

Bukan pengganti total pusat data di darat

Thorpe menilai pusat data orbit tidak harus diposisikan sebagai pengganti total infrastruktur terrestrial. Menurutnya, kebutuhan tradisional tetap akan ada dan banyak aplikasi masih bisa berjalan baik di pusat data darat yang lebih umum.

Model orbital justru lebih cocok untuk use case khusus. Sektor seperti life sciences dan healthcare disebut berpotensi mendapat manfaat besar karena memerlukan pemrosesan spesialis, bukan sekadar komputasi massal biasa.

Jason Aspiotis dari Axiom Space juga melihat adopsi berlangsung bertahap. Ia menyebut fase awal kemungkinan menyasar pengguna militer, sipil, sains, dan komersial yang membutuhkan analitik hampir real time dari data luar angkasa pada rentang 2026-2030.

Soal kedaulatan data bisa jadi penentu

Isabel Al-Dhahir, principal analyst di GlobalData, menyoroti isu digital sovereignty yang bisa menjadi faktor penting. Pengguna, menurutnya, akan ingin tahu yurisdiksi mana yang mengatur data ketika penyimpanan dan pemrosesan dilakukan di orbit.

Persoalannya, tidak ada negara yang memiliki ruang angkasa, sehingga rezim hukum untuk data orbital berpotensi menjadi wilayah abu-abu. Itu bisa mengganggu kepastian yang selama ini ditawarkan oleh sovereign cloud.

Aspiotis menilai adopsi yang realistis akan mengikuti urutan teknologi dan model bisnis, bukan dipaksa serba cepat. Ia memperkirakan dari 2035 ke depan, saat layanan peluncuran makin komoditis dan ekonomi unit mulai masuk akal, cloud dan AI orbital baru bisa merambah kebutuhan darat yang lebih luas.

Terbaru