AGIBOT mulai menancapkan ekspansi di Indonesia dengan pesan yang cukup jelas: robot humanoid tidak lagi sekadar wacana futuristis, tetapi sudah masuk ke area bisnis nyata. Dalam konferensi mitra perdananya di Jakarta, perusahaan AI berwujud asal China itu memamerkan robot humanoid sekaligus solusi yang sudah dilokalkan.
Langkah ini datang ketika Indonesia makin dipandang sebagai pasar penting untuk teknologi AI berwujud. Sejumlah pejabat pemerintah dan perwakilan industri juga memberi sinyal bahwa ekosistem dalam negeri perlu bersiap menghadapi gelombang baru robotika.
Indonesia diposisikan sebagai pasar awal yang strategis
Achmad Adhitya, staf khusus Wakil Presiden RI, menilai robotika bukan lagi konsep jauh. Menurut dia, teknologi ini bergerak cepat masuk ke kehidupan sehari-hari, sehingga Indonesia perlu bersiap menghadapi era berikutnya.
Ia juga berharap AGIBOT bisa menjadi salah satu pelopor industri robot humanoid di Indonesia. Harapan serupa datang dari pemerintah yang ingin kehadiran perusahaan ini memberi kontribusi bagi perkembangan teknologi dan sosial di Tanah Air.
Dukungan lain disampaikan dari sektor komunikasi dan ekonomi kreatif. Aju Widya Sari, direktur Kecerdasan Buatan dan Ekosistem Teknologi Baru di Kementerian Komunikasi dan Digital RI, berharap AGIBOT mendorong kerja sama riset ilmiah, pengembangan talenta, dan inovasi kolaboratif antara industri, akademisi, serta pemerintah.
Dandy Yudha Feryawan, direktur Teknologi Digital Baru di Kementerian Ekonomi Kreatif RI, menambahkan bahwa kehadiran AGIBOT bukan hanya soal membawa teknologi dan produk canggih. Ia menilai masuknya perusahaan itu juga dapat membuka transfer pengetahuan dan pengembangan talenta lokal.
AGIBOT incar model RaaS dan solusi lokal
Deng Feng, presiden AGIBOT untuk kawasan Timur Tengah dan Asia-Pasifik, menyebut Indonesia bukan hanya ekonomi terbesar di ASEAN. Dia menilai Indonesia juga menjadi salah satu pasar paling dinamis dan strategis bagi industri AI berwujud global.
AGIBOT berencana mengenalkan model Robot-as-a-Service atau RaaS di Indonesia. Perusahaan itu juga ingin mendorong solusi yang terlokalisasi dan memperluas penerapannya ke berbagai sektor.
Arah ini sejalan dengan kebijakan industri dalam negeri yang selama beberapa tahun terakhir mendorong Making Indonesia 4.0 dan menempatkan kecerdasan buatan sebagai bidang prioritas untuk dikembangkan.
Robot humanoid dan arsitektur terintegrasi jadi andalan
Di konferensi tersebut, AGIBOT menampilkan beberapa robot humanoid yang menunjukkan kemampuan mobilitas otonom, interaksi manusia-mesin, dan pelaksanaan tugas. Demonstrasi itu menjadi salah satu pusat perhatian dalam peluncuran ekspansi pasar mereka.
Perusahaan menjelaskan produknya dibangun dengan arsitektur terintegrasi. Sistem ini menggabungkan kecerdasan gerak, kecerdasan interaktif, dan kecerdasan operasional dalam satu rangkaian kemampuan.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk berbagai penerapan, mulai dari manufaktur industri, layanan komersial, penelitian ilmiah, hingga pendidikan. Dengan kombinasi itu, AGIBOT tampak ingin menempatkan robot humanoid bukan sebagai pajangan teknologi, melainkan alat kerja yang siap masuk ke sektor nyata.
Kehadiran AGIBOT di Indonesia menunjukkan kompetisi robotika humanoid mulai bergerak lebih dekat ke Asia Tenggara. Di tengah kebijakan yang pro-AI dan kebutuhan industri yang terus berkembang, Indonesia kini menjadi salah satu titik penting untuk uji ekspansi teknologi AI berwujud dari China.
