Solana semakin sering disebut sebagai ancaman paling serius bagi posisi Ethereum di puncak daftar altcoin. Dorongan utamanya datang dari pertumbuhan yang lebih cepat, biaya yang lebih murah, dan penggunaan yang mulai menekan dominasi Ethereum di sejumlah area penting.
Pertarungan ini tidak lagi sekadar soal kapitalisasi pasar. Perpindahan pengguna dan pengembang ke Solana menunjukkan bahwa daya saing jaringan kini ikut ditentukan oleh kecepatan, efisiensi, dan seberapa besar manfaat langsung yang dirasakan pasar.
Solana Menekan Dari Sisi Penggunaan
Solana disebut tumbuh lebih cepat daripada Ethereum saat ini, terutama karena performanya dianggap lebih unggul oleh sebagian pengguna dan pengembang. Salah satu tanda paling jelas muncul pada pertengahan 2024, ketika volume perdagangan bulanan di bursa terdesentralisasi Solana mulai melampaui Ethereum.
Di sisi lain, dominasi Ethereum di decentralized finance sudah tergerus selama hampir tiga tahun. Perubahan itu memperlihatkan bahwa persaingan antarrantai blok tidak lagi hanya terjadi di level nilai pasar, tetapi juga pada aktivitas nyata di jaringan.
Peta Baru Mengarah ke Stablecoin Dan Tokenisasi
Solana juga mulai menggeser fokusnya dari meme coin ke stablecoin dan aset tokenisasi. Arah baru ini membawa jaringan tersebut lebih dekat ke segmen yang disorot sebagai salah satu area pertumbuhan tercepat di DeFi.
Pergeseran strategi itu penting karena stablecoin dan tokenisasi aset dinilai punya peluang besar untuk menarik institusi keuangan dan investor institusional. Jika tren ini berlanjut, Solana berpotensi menjaga laju pertumbuhan yang lebih cepat daripada Ethereum untuk waktu yang lebih panjang.
2030 Bisa Menjadi Titik Balik
Meski demikian, jarak keduanya masih lebar. Kapitalisasi pasar Ethereum berada di $200 miliar, sedangkan Solana masih di $40 miliar, yang berarti Ethereum sekitar 5 kali lebih besar.
Namun ada skenario yang membuat 2030 menjadi tahun krusial. Dalam proyeksi itu, Solana naik dua kali lipat setiap tahun sementara Ethereum tumbuh stabil 20% per tahun, sehingga pada pertengahan 2029 Solana bisa bernilai $320 miliar dan Ethereum $346 miliar.
Jika skenario tersebut terjadi, 2030 menjadi momen saat Solana berpeluang melewati Ethereum. Angka itu belum pasti, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa jarak yang terlihat aman bagi Ethereum belum tentu bertahan selamanya.
Rekam Jejak Solana Sudah Menunjukkan Lonjakan Besar
Target itu terdengar agresif, tetapi Solana sudah membuktikan bahwa pertumbuhan ekstrem bukan hal baru. Pada 2023, nilainya melonjak 924%, lalu naik lagi 86% pada 2024.
Cathie Wood dari Ark Invest juga sempat menyoroti potensi disruptif Solana pada November 2023. Ia menekankan bahwa kecepatan lebih tinggi dan biaya lebih rendah penting bagi pengguna dan pengembang, sekaligus bisa menjadi kunci untuk mengguncang posisi Ethereum.
Dengan kombinasi adopsi yang makin kuat, strategi yang bergeser ke stablecoin dan tokenisasi, serta rekam jejak pertumbuhan yang tajam, Solana kini berada di jalur yang paling diperhatikan dalam persaingan menuju tahta altcoin nomor satu.
