Yamaha 0W23 Tak Langsung Sempurna, Motor Bermasalah yang Buka Jalan ke Gelar GP500

Author: Cung Media

Yamaha 0W23 memang tidak langsung tampil sempurna saat pertama kali turun lintasan. Namun motor inilah yang kemudian menjadi fondasi penting menuju gelar juara dunia pertama Yamaha di kelas GP500.

Di GP Belgia 1974, Yamaha memperkenalkan motor yang dirancang khusus untuk kelas 500cc itu dengan pendekatan berbeda dari TZ750. Fokusnya ada pada bobot yang lebih ringan, dimensi yang lebih ringkas, dan sasis yang lebih padat.

Langkah besar dari motor 500cc khusus

Yamaha menyiapkan 0W23 setelah menilai motor empat silinder 500cc mereka belum cukup matang untuk mengejar gelar dunia. OW20 memang dinilai punya potensi, tetapi masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Perubahan paling mencolok ada pada pengurangan bobot. Dibanding pendahulunya, motor ini disebut 21 kg lebih ringan, dengan banyak komponen dipangkas agar paket keseluruhan lebih efisien.

Penghematan massa dilakukan di beberapa bagian, termasuk penggunaan magnesium pada bak engkol yang sebelumnya memakai aluminium. Yamaha juga memperkecil poros engkol dan rangkaian gigi rasio, sehingga mesin empat silinder segaris itu menjadi lebih ramping 20 mm dan lebih pendek 30 mm.

Efeknya terasa pada kemasan motor secara keseluruhan. Wheelbase dipendekkan, ukuran mesin dan sasis dipangkas, lalu distribusi massa dibuat lebih terpusat.

Teknologi yang maju untuk zamannya

Salah satu terobosan terpenting pada 0W23 adalah transmisi tipe kaset. Pada sistem ini, poros utama, poros penggerak, dan mekanisme perpindahan gigi bisa ditarik keluar sebagai satu kesatuan.

Keuntungan sistem itu besar bagi tim balap karena waktu perawatan bisa dipangkas drastis. Mekanik tidak perlu membongkar mesin secara menyeluruh hanya untuk mengakses rasio gigi.

Motor ini juga dibekali knalpot baru tipe stepped tapered. Desainnya memakai diffuser berbentuk terompet yang melebar landai dan bagian belakang ruang ekspansi berbentuk mangkuk.

Rancangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan tenaga puncak dan karakter torsi pada kecepatan tinggi. Targetnya jelas, yaitu mengejar performa maksimum di putaran atas yang sangat penting di GP500.

Potensinya besar, tetapi belum beres di lintasan

Meski membawa banyak pembaruan, 0W23 belum langsung terasa unggul saat balapan. Di Belgia, Giacomo Agostini justru menilai motor baru itu lebih lambat daripada model lama.

Musim 1974 juga berjalan sulit bagi Yamaha setelah Agostini mengalami kecelakaan di Swedia dan harus dirawat karena patah tulang bahu. Di sisi lain, Teuvo Länsivuori sudah berusaha maksimal sepanjang musim.

Namun gelar juara dunia akhirnya jatuh ke tangan Phil Read dari MV Agusta. Hasil itu memperlihatkan bahwa 0W23 masih butuh pengembangan lanjutan sebelum benar-benar siap bersaing penuh.

Dari 0W23 ke OW26, lalu gelar dunia

Selama jeda musim, Yamaha melakukan sejumlah revisi pada 0W23. Motor ini dikenal sangat boros bahan bakar, sehingga perubahan dilakukan pada ukuran dan timing port silinder serta setelan karburator.

Karakter mesinnya juga sangat peaky, dengan tenaga yang baru benar-benar keluar di putaran tinggi meskipun sudah memakai reed valve. Karena itu, perubahan rasio gigi internal menjadi bagian penting untuk menyesuaikan motor dengan tiap sirkuit.

Di titik inilah transmisi kaset memberi manfaat besar. Jika sebelumnya penggantian gigi rasio menuntut pembongkaran total, revisi desain membuat mekanik cukup melepas rangkaian kopling untuk mengakses bagian tersebut.

Pengembangan lanjutan itu melahirkan OW26 untuk musim 1975. Motor inilah yang kemudian menjadi tumpuan Yamaha dalam perebutan gelar dunia GP500.

Musim itu tetap tidak mudah bagi Agostini. Dari sembilan balapan, ia tiga kali gagal finis, dua kali karena mesin macet dan sekali akibat ban bocor.

Tekanan yang sama juga dialami Phil Read, yang harus memaksa motor MV Agusta lawasnya bekerja lebih keras untuk menutup kelemahan desain yang sudah menua. Pertarungan gelar pun berjalan ketat hingga akhir musim.

Pada balapan terakhir, GP Ceko, finis kedua di belakang Read sudah cukup bagi Agostini untuk mengunci gelar juara dunia dengan selisih delapan poin. Dari situ terlihat jelas, 0W23 bukan motor yang langsung sempurna, tetapi mesin inilah yang membuka jalur Yamaha menuju mahkota GP500 pertama.

Source: kabaroto.com
Terbaru