Indonesia memperoleh skor 0,33 dalam Academic Freedom Index (AFI) 2025. Angka ini menempatkan perlindungan kebebasan akademik di Indonesia jauh di bawah negara-negara yang mencatat skor tertinggi.
Indeks menggunakan skala 0,0 sampai 1,0, dengan angka yang mendekati 1,0 menunjukkan perlindungan lebih kuat. Jarak skor tersebut menjadi penting ketika kebebasan akademik secara global justru mengalami kemunduran dalam satu dekade terakhir.
Selisih Besar dengan Negara Berskor Tinggi
Austria, Denmark, Jerman, Swedia, dan Australia menjadi contoh negara yang memiliki skor AFI di atas 0,8 pada 2025. Perbandingan ini menunjukkan selisih lebar antara posisi Indonesia dan kelompok negara dengan perlindungan akademik paling kuat.
| Negara atau Kelompok | Skor AFI 2025 | Gambaran |
|---|---|---|
| Indonesia | 0,33 | Skor nasional dalam AFI 2025 |
| Austria, Denmark, Jerman, Swedia, Australia | Di atas 0,8 | Kelompok negara dengan AFI tinggi |
AFI tidak hanya menilai kebebasan seseorang untuk berbicara di lingkungan kampus. Indeks ini memotret lima unsur yang menentukan apakah perguruan tinggi dapat menjalankan fungsi akademiknya secara mandiri dan terbuka.
Lima unsur tersebut meliputi kebebasan meneliti dan mengajar, kebebasan pertukaran serta penyebarluasan akademik, otonomi institusional, integritas kampus, serta kebebasan berekspresi akademik dan budaya. Dengan cakupan itu, skor AFI menggambarkan kondisi kampus sebagai ruang belajar, produksi pengetahuan, dan penyampaian pandangan akademik.
Penurunan Terjadi di Banyak Negara
Tekanan terhadap kebebasan akademik bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, 50 negara mengalami kemunduran, sementara hanya sembilan negara yang mencatat peningkatan.
Penurunan secara global mulai terlihat sekitar 2012. Perkembangan di Amerika Latin, Asia, serta kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi pendorong utama kemunduran tersebut.
Pada 2025, Amerika Latin, Eropa, Amerika Utara, Oseania, serta sebagian besar Afrika Selatan dan Afrika Barat dinilai memiliki kondisi yang lebih baik. Kawasan-kawasan itu berada di atas Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara dalam gambaran kebebasan akademik.
Penilaian Melibatkan Ribuan Pakar
Indeks ini mencakup 179 negara dan wilayah dengan penilaian dari 2.357 pakar negara di berbagai belahan dunia. Proyek V-Dem menyusun pengukuran tersebut melalui kuesioner terstandar dan model statistik untuk membandingkan kondisi lintas negara.
Pengagregasian data AFI menggunakan model pengukuran Bayesian. Metode ini tidak hanya menghasilkan estimasi skor pada setiap negara, tetapi juga melaporkan tingkat ketidakpastian dalam pengukurannya.
Pendekatan tersebut membuat angka 0,33 perlu dibaca sebagai bagian dari pemetaan kondisi yang lebih luas, bukan sekadar peringkat tunggal. Integritas kampus, otonomi lembaga, kebebasan mengajar, dan kebebasan riset menjadi unsur yang sama-sama menentukan hasil penilaian.
Amerika Serikat Juga Mengalami Kemerosotan
AFI turut mencatat penurunan kebebasan akademik di Amerika Serikat yang dimulai sekitar 2020. Kemerosotan itu disebut terutama dipicu tindakan di sejumlah negara bagian oleh pejabat yang bersekutu dengan gerakan Make America Great Again atau MAGA.
Pada 2025, selama periode kedua pemerintahan Trump, tekanan di tingkat negara bagian disebut semakin intensif. Sejumlah tindakan di tingkat federal juga disebut memperkuat tekanan terhadap kebebasan akademik.
Gambaran ini menegaskan bahwa kebebasan akademik Indonesia perlu dipahami di tengah persoalan yang juga dihadapi banyak negara. Perlindungan terhadap riset, pengajaran, ekspresi akademik, dan otonomi institusi tetap menjadi perhatian bahkan di negara yang memiliki sistem pendidikan kuat.







