Perahu-perahu wisata di Situ Gede Tasikmalaya kini lebih banyak bersandar setelah debit air danau menyusut drastis selama musim kemarau. Aktivitas berkeliling danau yang biasanya menjadi daya tarik kawasan itu pun terhenti, diikuti penurunan jumlah pengunjung.
Penyusutan air tidak hanya memukul pelaku wisata, tetapi juga mempersempit pasokan bagi sawah warga di sejumlah wilayah sekitar. Dari luas genangan normal 47 hektare, air yang tersisa kini diperkirakan hanya menggenangi sekitar 20 hektare.
Genangan Menyusut dalam Tiga Bulan
Kondisi air Situ Gede dilaporkan terus menurun dalam sekitar tiga bulan terakhir. Saat ini, genangan yang masih bertahan terutama bergantung pada sumber mata air yang tersisa di kawasan tersebut.
Pasokan utama dari irigasi Cibanjaran disebut sudah tidak lagi mengalir ke Situ Gede. Berhentinya suplai itu membuat permukaan air turun tajam dan mengubah kondisi kawasan yang biasanya menjadi tujuan wisata air.
Penjaga Pintu Air Situ Gede, Satia Triadi, menyampaikan kondisi tersebut kepada Media Indonesia pada Kamis (16/7/2026). Penyusutan genangan turut membatasi kemampuan pintu air untuk mendistribusikan pasokan ke area pertanian.
| Indikator | Kondisi Normal | Kondisi Saat Ini |
|---|---|---|
| Luas genangan Situ Gede | 47 hektare | Sekitar 20 hektare |
| Pintu air beroperasi | 5 pintu | 1 pintu |
| Lahan sawah terairi | Sekitar 250 hektare | Sekitar 60 hektare |
Satu Pintu Air Melayani Area Terbatas
Sebelumnya, lima pintu air di Situ Gede dapat mengairi sekitar 250 hektare sawah. Kini hanya satu pintu yang masih beroperasi untuk menyuplai sekitar 60 hektare lahan di wilayah Mangkubumi.
Wilayah pertanian di Kecamatan Cihideung dan Kecamatan Bungursari ikut terdampak oleh menyusutnya distribusi air. Petugas di lapangan harus mengatur suplai lebih lama agar lahan yang masih terlayani tetap memperoleh pasokan.
Terbatasnya air membuat kebutuhan pertanian harus dibagi dalam kondisi yang semakin ketat. Situasi ini menunjukkan peran Situ Gede bukan sekadar kawasan wisata, melainkan juga salah satu penopang kebutuhan air bagi sawah di sekitarnya.
Wisata Perahu Kehilangan Daya Tarik
Dampak kemarau paling terlihat di sektor wisata air karena perahu tidak lagi dapat digunakan untuk membawa pengunjung berkeliling danau. Pemilik perahu wisata bernama Deni, 44 tahun, menyebut penurunan debit air telah membuat operasional perahu berhenti selama sekitar tiga bulan.
Untuk sementara, Deni beralih bekerja membangun Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP untuk menyambung hidup. Perubahan pekerjaan itu menggambarkan dampak langsung surutnya air terhadap warga yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas wisata.
Petugas tiket wisata Situ Gede, Dodi, juga menyatakan suasana kawasan menjadi lesu karena kunjungan berkurang. Loket tiket tetap dibuka dan rumah makan di sekitar lokasi masih melayani pembeli, tetapi ketiadaan wisata perahu mengurangi daya tarik utama kawasan.
Turunnya debit air memperlihatkan bagaimana kemarau dapat menekan beberapa sektor sekaligus di Tasikmalaya. Ketika genangan menyusut, wisata air berhenti bergerak sementara sawah di sekitar Situ Gede harus menunggu pasokan yang semakin terbatas.
