Siska Dorong Sapi Nasional, Lahan Sawit Bisa Tampung 20 Ribu Ekor

Author: Cung Media

Integrasi kelapa sawit dan sapi mulai dipandang sebagai salah satu jalan paling realistis untuk mengejar kebutuhan daging nasional. Di Kalimantan Selatan, model ini sudah menunjukkan hasil yang konkret, mulai dari kenaikan populasi ternak sampai efisiensi biaya perawatan lahan.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq meninjau penerapan Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi atau Siska di perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Tanah Bumbu, pada Jumat (19/6/2026). Dari kunjungan itu, pemerintah melihat integrasi sawit-sapi punya peluang besar untuk memperkuat breeding sekaligus menekan defisit pasokan.

Breeding Lebih Efisien di Area Sawit

Hanif menilai sistem ini cocok untuk pengembangbiakan sapi karena memanfaatkan proses alamiah di lingkungan perkebunan. Menurut dia, kebutuhan hormon reproduksi sapi betina dapat terpenuhi secara natural sehingga biaya operasional berpotensi lebih rendah dibanding inseminasi buatan.

Pola itu juga membantu fase pemeliharaan anak sapi agar pertumbuhannya lebih seragam. Anak sapi kemudian disapih dan dipisahkan dari induknya saat berusia tiga hingga sembilan bulan.

Di lahan sawit seluas 16.000 hektare milik PT Buana Karya Bhakti, penerapan Siska mencatat hasil yang menonjol. Populasi sapi naik dari 300 ekor menjadi 1.500 ekor dalam skema tersebut.

Peluang dari Sisa Lahan Sawit

Keberhasilan di satu lokasi itu membuat pemerintah melirik potensi penerapan yang lebih luas di Kalimantan Selatan. Hanif menyebut, jika 250 ribu hektare lahan bisa diintegrasikan, maka sekitar 20 ribu ekor sapi dapat dipelihara.

Di tingkat daerah, kebutuhan daging sapi Kalimantan Selatan masih lebih besar daripada produksi yang tersedia. Produksi saat ini baru sekitar 33.000 ekor, sementara kebutuhan tahunan mencapai 56.000 hingga 57.000 ekor.

Artinya, daerah itu masih kekurangan lebih dari 20 ribu ekor sapi. Selama ini, kekurangan tersebut masih ditutup melalui impor.

Efek Langsung ke Ketahanan Pangan

Program ini menjadi bagian dari upaya menjalankan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Pemerintah menempatkan integrasi sawit-sapi sebagai salah satu cara untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Potensi skema ini juga dinilai besar karena Indonesia memiliki total luas perkebunan kelapa sawit mencapai 17 juta hektare. Dengan basis lahan seluas itu, integrasi peternakan dan perkebunan dinilai membuka ruang ekspansi yang signifikan.

Selain menambah populasi ternak, pola ini memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha sawit. Kehadiran sapi dapat memangkas biaya pembersihan gulma hingga 50 sampai 70 persen.

Sapi-sapi digembalakan secara bergilir dari satu area ke area lain setiap hari. Pola ini membuat lahan tetap terkelola sekaligus membantu kebutuhan pakan ternak di lokasi yang sama.

Hanif menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu memaksakan model peternakan dari negara lain. Ia menilai sistem yang sesuai dengan karakter domestik justru lebih relevan untuk memperkuat produksi daging sapi nasional.

Terbaru