Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut kembali mengguncang pasar energi dunia dan membuat satu pertanyaan besar mengemuka: bisakah minyak Amerika Serikat menutup lubang pasokan global yang terbentuk? Jalur sempit itu selama ini menjadi simpul penting perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung menekan pasokan dan memicu kekhawatiran harga.
Tekanan itu kini terasa semakin nyata karena pasokan global dinilai menyusut signifikan sejak jalur tersebut ditutup. Dalam situasi seperti ini, AS muncul sebagai penopang paling logis, tetapi kapasitas besar tidak otomatis berarti respons cepat dari industri pengeboran domestik.
Pasokan global tertekan, pasar ikut waspada
Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari pasokan minyak global terhenti sejak Selat Hormuz ditutup, menurut Bloomsbury Intelligence and Security Institute. Dampaknya terlihat dari penjatahan energi di sejumlah negara dan tambahan tekanan pada harga minyak mentah internasional.
Selama jalur itu belum kembali normal, pasar akan terus memandang Teluk Persia sebagai faktor penentu arah harga energi. Ketahanan pasokan global pun tetap rapuh dan sangat sensitif terhadap setiap perubahan geopolitik di kawasan tersebut.
AS punya kapasitas besar, tetapi belum jadi solusi penuh
Amerika Serikat kini dipandang sebagai alternatif utama untuk menggantikan sebagian minyak yang hilang dari kawasan Teluk Persia. Kapasitas produksi minyak mentah AS disebut mencapai 13,6 juta barel per hari pada 2025, sehingga negara itu punya ruang untuk membantu meredakan kekurangan pasokan.
BISI mencatat sekitar 172 kapal tanker minyak menuju Pantai Teluk AS untuk mengangkut ekspor minyak Amerika per 12 April 2026 lalu. Sejak konflik pecah, ekspor minyak mentah dan produk turunannya juga naik sekitar 1 juta barel per hari, didorong lonjakan harga minyak dunia akibat ketidakpastian geopolitik.
Namun, ekspor yang lebih besar tidak serta-merta menyelesaikan defisit energi global. Jika produksi domestik tidak ikut naik secara signifikan, pasokan di pasar dalam negeri AS bisa tertekan dan harga energi domestik berisiko ikut naik.
Pengebor AS masih berhitung ketat
Kenaikan harga minyak belum cukup membuat perusahaan pengebor AS bergerak agresif. Survei Federal Reserve Bank of Dallas atau Dallas Fed pada kuartal pertama 2026 menunjukkan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak membutuhkan harga West Texas Intermediate atau WTI stabil di level US$ 67 per barel agar pengeboran sumur baru tetap menguntungkan.
Sebelum konflik AS-Iran memanas, harga WTI sempat berada di bawah US$ 60 per barel. Kini harganya sudah melonjak lebih dari 50% sejak awal konflik, tetapi masih sangat fluktuatif di kisaran US$ 84 hingga US$ 113 per barel.
Volatilitas itu membuat banyak perusahaan shale oil tetap konservatif. Pengalaman boom dan bust sebelumnya masih membayangi, terutama ketika ekspansi terlalu cepat justru memicu kelebihan pasokan dan menekan harga minyak dunia.
Investor juga cenderung mendorong perusahaan energi untuk menjaga keuntungan dan membagikan dividen, bukan mengejar pertumbuhan produksi besar-besaran. ExxonMobil dan Chevron termasuk yang tetap mempertahankan strategi hati-hati dengan fokus pada arus kas bebas.
Survei Dallas Fed juga menunjukkan 53% perusahaan eksplorasi dan produksi tidak mengubah rencana jumlah sumur baru yang akan dibor sepanjang 2026, meski harga minyak sedang tinggi. Angka itu menegaskan bahwa lonjakan harga belum cukup kuat untuk memicu ledakan produksi baru.
Ada bayang-bayang pasokan dari produsen lain
Posisi minyak AS semakin menantang karena produsen lain diperkirakan akan segera bergerak saat ketegangan mereda. Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC pada akhir April 2026 lalu, langkah yang disebut dipicu ketidakpuasan terhadap pembatasan produksi organisasi tersebut.
Di sisi lain, OPEC juga memberi sinyal akan meningkatkan produksi setelah konflik selesai. Artinya, begitu situasi geopolitik membaik, pasar bisa kembali dibanjiri pasokan dari negara-negara dengan kapasitas cadangan besar.
Kondisi seperti ini berpotensi menekan harga minyak global sebelum investasi baru dari pengebor AS sempat menghasilkan tambahan produksi yang berarti. Pasar bisa bergerak lebih cepat daripada respons industri shale di Amerika.
Prospek yang masih terbatas
Dalam jangka pendek, ketidakpastian konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz masih menghambat ekspansi shale oil AS. Perusahaan energi belum melihat insentif yang cukup kuat untuk mengambil risiko investasi besar saat harga tinggi sudah memberi keuntungan cepat.
Dalam jangka menengah, produksi minyak AS masih bisa naik jika krisis berlangsung lebih lama dan harga tetap tinggi. Namun kenaikannya diperkirakan moderat dan sangat bergantung pada arah konflik geopolitik.
Dalam jangka panjang, peluang ledakan produksi shale oil seperti satu dekade lalu dinilai makin kecil. Investor yang lebih berhati-hati dan transisi energi global menuju sumber alternatif membuat tambahan produksi minyak AS cenderung bertahap, sehingga perannya lebih realistis sebagai penopang sementara daripada penutup penuh defisit energi dunia.
Source: www.beritasatu.com






