Kasus hantavirus yang ramai dibahas membuat perhatian publik kembali tertuju pada risiko kesehatan dari tikus. Hewan pengerat ini bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga dapat membawa penyakit serius yang menular lewat urine, kotoran, air liur, gigitan, atau makanan yang terkontaminasi.
Risiko itu meningkat saat tikus berada dekat rumah, dapur, saluran air, atau lingkungan lembab. Karena itu, mengenali penyakit yang bisa dibawa tikus menjadi penting agar gejala awal dan sumber penularannya lebih cepat dikenali.
Leptospirosis dan ancaman dari air terkontaminasi
Leptospirosis adalah salah satu infeksi bakteri yang paling sering dikaitkan dengan tikus. Penularannya biasanya terjadi saat seseorang bersentuhan dengan urine tikus atau air yang sudah terkontaminasi bakteri leptospira.
Bakteri ini dapat bertahan di lingkungan lembab dan genangan air. Karena itu, risikonya cenderung meningkat saat musim hujan atau banjir.
Gejala leptospirosis dapat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, serta kulit dan mata yang menguning. Dalam kondisi tertentu, infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan ginjal atau hati.
Salmonelosis dari makanan yang terpapar
Tikus juga dapat membawa bakteri salmonela yang menyerang sistem pencernaan. Penularan umumnya terjadi lewat makanan atau permukaan yang sudah terkontaminasi, terutama jika makanan dibiarkan terbuka di area yang sering dilewati tikus.
Keluhan yang muncul biasanya meliputi diare, muntah, demam, dan keram perut. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian dan berlangsung selama beberapa hari.
Karena jalur penularannya erat dengan makanan, kebersihan dapur dan penyimpanan makanan menjadi langkah pencegahan yang penting. Risiko ini kerap luput karena kontaminasi bisa terjadi tanpa disadari.
Pes yang dibawa kutu dari tikus
Pes atau plague disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini umumnya menular melalui gigitan kutu yang sebelumnya mengisap darah tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi.
Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah bubonic plague. Gejalanya berupa pembengkakan kelenjar getah bening, demam tinggi, dan tanda-tanda mirip flu yang berkembang cepat.
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menyebut rata-rata masih ada sekitar tujuh kasus pes setiap tahun di Amerika Serikat. Angka itu menunjukkan penyakit ini tetap ada meski jarang muncul di pembicaraan sehari-hari.
Rat-bite fever setelah gigitan atau cakaran
Rat-bite fever atau demam akibat gigitan tikus muncul akibat bakteri dari air liur tikus. Penularan biasanya terjadi setelah seseorang tergigit atau tercakar tikus yang terinfeksi.
Gejalanya meliputi demam, muntah, nyeri otot, dan ruam pada tubuh. Jika tidak ditangani, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi yang memengaruhi jantung, otak, dan paru-paru.
Karena datang dari luka kontak langsung, kasus ini menuntut kewaspadaan tinggi. Luka akibat gigitan atau cakaran tikus tidak seharusnya dianggap sepele.
LCMV yang sering tampak seperti flu
Lymphocytic choriomeningitis virus atau LCMV adalah infeksi virus yang bisa menular melalui urine, kotoran, dan air liur tikus. Banyak kasus awal tidak disadari karena gejalanya kerap ringan dan menyerupai flu.
Keluhan yang muncul bisa berupa demam, sakit kepala, dan tubuh lemas. Namun, dalam beberapa kasus, infeksi dapat berkembang menjadi meningitis atau peradangan otak yang serius.
Ibu hamil juga perlu lebih waspada karena infeksi ini dapat berdampak pada janin. Itu membuat LCMV penting dikenali, terutama ketika ada paparan tikus di lingkungan rumah.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko penyakit dari tikus. Menjaga kebersihan rumah, menutup makanan rapat, membersihkan area dapur secara rutin, dan segera menangani luka akibat gigitan atau cakaran dapat membantu mengurangi peluang penularan berbagai infeksi tersebut.
Source: www.beritasatu.com






