Sampah Plastik Kini Bisa Jadi Solar Bersih, Petasol BRIN Tembus Angka Setana 51

Author: Cung Media

Sampah plastik yang biasanya berakhir menumpuk di TPST atau bank sampah kini mulai dilirik sebagai sumber energi baru. BRIN memperkenalkan teknologi yang mengubah plastik residu bernilai rendah menjadi bahan bakar cair Petasol lewat proses pirolisis Fastpol.

Yang menarik, hasil pengujiannya disebut punya kualitas pembakaran yang lebih baik dari solar umum. Dengan angka setana 51, Petasol diposisikan sebagai bahan bakar diesel alternatif yang tidak hanya membantu urusan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Plastik residu yang selama ini sulit laku

Teknologi Fastpol dirancang untuk mengolah sampah plastik residu yang selama ini paling sulit ditangani. Jenis yang bisa masuk proses ini antara lain kemasan multilayer, plastik campuran, dan plastik yang tidak punya nilai jual.

BRIN bersama sejumlah mitra mengembangkan proses ini sebagai jawaban atas problem sampah plastik yang sulit didaur ulang. Dalam pendekatan ini, limbah berbasis minyak bumi itu diolah kembali menjadi bahan bakar cair.

Aspek Detail
Bahan baku Sampah plastik residu, termasuk kemasan multilayer dan plastik campuran
Proses Pirolisis Fastpol pada suhu 250-350 derajat Celcius dengan sedikit atau tanpa oksigen
Hasil Petasol, bahan bakar cair
Konversi 1 kilogram sampah plastik residu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter Petasol
Waktu proses Sekitar 7 hingga 8 jam, lalu masih perlu dijernihkan dan disaring

Hasil uji pembakaran di atas solar umum

Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, menyebut hasil pengujian menunjukkan angka setana Petasol berada di level 51. Angka ini lebih tinggi dibandingkan standar solar yang umumnya berada di kisaran 48.

Menurut BRIN, angka setana menjadi indikator kualitas pembakaran pada bahan bakar diesel. Karena itu, Petasol dinilai memiliki performa pembakaran yang sangat baik untuk mesin diesel.

Meski begitu, BRIN masih menyempurnakan sejumlah parameter agar bahan bakar ini memenuhi standar yang berlaku. Aspek yang masih dibenahi mencakup berat jenis dan regulasi, meski pada prinsipnya bahan bakar tersebut dinilai aman digunakan untuk kendaraan.

Kolaborasi jadi penentu agar tidak berhenti di mesin

BRIN menilai keberhasilan pengolahan sampah tidak cukup hanya bergantung pada teknologi. Pemilahan sampah dari rumah masih menjadi tantangan karena biaya pemilahan dinilai tinggi.

Heru Susanto dari Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN menegaskan kolaborasi antara teknologi dan sistem pengelolaan sampah yang baik menjadi kunci keberlanjutan program. Ia mencontohkan kerja sama Fastpol Petasol dengan pegiat lingkungan yang menyediakan layanan pengangkutan sampah terpilah dan basis data real-time.

Model seperti itu dinilai bisa memperkuat manajemen sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. BRIN juga membuka peluang kerja sama lebih luas dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor industri untuk memperbanyak pemanfaatan teknologi pirolisis.

Respons daerah dan potensi ekonomi

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menilai inovasi ini menjawab dua persoalan sekaligus, yakni penanganan sampah dan penyediaan energi alternatif. Ia menyebut bahan bakar yang dihasilkan setara solar dengan kualitas yang bagus.

Bantul menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari, dan sekitar 30 persennya berupa sampah plastik. Kondisi itu membuat potensi pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar dinilai besar, terutama jika pengelolaannya dilakukan secara terpadu.

BRIN berharap Petasol bisa menjadi model yang direplikasi di daerah lain melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Inovasi ini diposisikan sebagai contoh hilirisasi riset yang mendukung ekonomi sirkular sekaligus memberi solusi nyata bagi persoalan lingkungan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru