Pemerintah mulai menarik dana Saldo Anggaran Lebih atau SAL yang selama ini ditempatkan di bank-bank milik negara. Penarikan dilakukan bertahap untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan belanja negara yang sedang berjalan.
Langkah ini membuat likuiditas bank-bank Himbara ikut menjadi perhatian. Sebab, sebagian dana yang semula ditempatkan pemerintah sudah terlanjur masuk ke penyaluran kredit produktif.
Penarikan berjalan bertahap
Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto Bhakti, memastikan proses pengurangan simpanan pemerintah itu sudah berjalan sesuai skema yang disiapkan. Ia menegaskan penarikan dana dari ekosistem perbankan pelat merah dilakukan secara bertahap.
“Iya, kan secara bertahap,” ujar Astera saat menjelaskan penarikan dana dari bank-bank Himbara dan bank terkait lainnya.
OJK minta transisi dijaga
Otoritas Jasa Keuangan menilai penarikan dana pemerintah perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu dana pihak ketiga maupun kondisi likuiditas bank-bank BUMN. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan proses itu memang ada dan akan berlangsung melalui tahapan.
“Kalau memang pemerintah membutuhkan, memang yang namanya ketentuan APBN ya kalau begitu mereka butuh mereka harus bisa menarik (dana SAL di Himbara),” kata Dian.
OJK berharap masa transisi ini memberi ruang bagi bank-bank BUMN untuk menata ulang posisinya. Dian menekankan perubahan di tengah jalan membutuhkan penyesuaian agar penarikan dana tidak memunculkan tekanan baru pada likuiditas.
Perlu koordinasi dengan Bank Indonesia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kebijakan ini perlu dibahas lebih lanjut dengan Bank Indonesia. Menurutnya, koordinasi dibutuhkan agar pengelolaan likuiditas tetap terjaga saat dana cadangan pemerintah bergerak keluar dari perbankan.
“Oh, itu mesti diskusi dengan bank sentral deh seperti apa,” kata Purbaya.
Pergerakan dana SAL yang besar
Dana pemerintah yang dipindahkan ke perbankan pelat merah bukan jumlah kecil. Berdasarkan catatan historis, penempatan dana negara di bank-bank BUMN telah mengalami beberapa kali perubahan sejak akhir tahun lalu dan sempat bergerak dari Rp200 triliun ke angka yang lebih tinggi.
Pada September 2025, pemerintah menempatkan dana di Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp55 triliun. Pada periode yang sama, BTN menerima Rp25 triliun, sementara BSI mendapat Rp10 triliun.
| Periode | Penempatan Dana |
|---|---|
| November 2025 | Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp25 triliun; Bank Jakarta Rp1 triliun |
| Maret 2026 | Total penempatan dana di Himbara tercatat Rp100 triliun |
Dari rangkaian penempatan dan penyesuaian itu, posisi terakhir dana cadangan pemerintah diperkirakan berada di sekitar Rp300 triliun. Jumlah itu kini mulai ditarik bertahap seiring kebutuhan pembiayaan belanja negara.
Dampak ke kredit dan strategi bank
Karena sebagian dana sudah dipakai bank untuk mendukung pembiayaan ke masyarakat, penarikan kembali SAL harus mempertimbangkan ritme penyesuaian bank. OJK menilai tenggat penempatan yang semula dijadwalkan selesai pada akhir kuartal ketiga tahun ini menjadi salah satu acuan penting dalam proses tersebut.
Dengan ruang penyesuaian itu, bank diharapkan bisa menata sumber dana dan menjaga strategi likuiditasnya tetap stabil. Di sisi pemerintah, penarikan SAL menjadi bagian dari upaya menjaga pembiayaan anggaran belanja negara tanpa mengguncang perbankan pelat merah.







