Dari PHK ke Panggung Dunia, Cara Dara Baro Mengubah Sisa Kain Jadi Fesyen Bernilai Tinggi

PHK sering dianggap sebagai akhir, tetapi bagi Dara Baro justru menjadi titik awal lahirnya bisnis fesyen yang terus naik kelas. Brand ini tumbuh dari modal kecil, lalu berkembang menjadi label wastra yang kini menembus pasar internasional dengan konsep daur ulang kain.

Dimita Agustin merintis Dara Baro setelah terkena PHK pada 1998. Dari situ, ia mulai mengolah sisa kain produksi menjadi produk yang punya nilai jual, lalu perlahan membangun usaha yang lebih kuat dan lebih terarah.

Berawal dari produk rumah tangga sederhana

Langkah pertama Dara Baro bukan langsung busana, melainkan sarung bantal. Produk itu dijual ke teman dan ternyata laku, sehingga modal yang ada kembali diputar untuk produksi berikutnya.

Modal awalnya sekitar Rp600 ribu. Dengan sistem jual titip ke teman dan ikut pameran kecil, usaha rumahan ini bergerak perlahan dari skala sangat kecil menjadi brand yang lebih mapan.

Pada fase awal, Dara Baro banyak membuat produk rumah tangga berbahan batik, termasuk dekorasi interior. Namun permintaan pasar menggeser arah usaha karena banyak orang mulai menanyakan kapan baju dan rok akan dibuat.

Wastra Indonesia jadi identitas utama

Respons itu mendorong Dimita membuat kebaya sederhana, lalu berkembang ke koleksi pakaian wanita berbasis wastra Indonesia. Sejak 2005, ia semakin serius menekuni busana dan rutin tampil di pameran besar seperti Gelar Batik dan Kriyanusa.

Dara Baro tidak hanya memakai batik. Brand ini juga mengolah jumputan, tenun, dan shibori dengan bahan dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Garut, Palembang, dan Makassar.

Dimita memaknai wastra sebagai kain-kain dari seluruh Indonesia, sementara batik hanya salah satu bagiannya. Untuk menjaga kualitas, ia terus belajar lewat kursus dan pelatihan di Balai Besar Batik Yogyakarta serta Balai Tekstil Jakarta.

Nama Dara Baro sendiri diambil dari bahasa Aceh yang berarti calon pengantin perempuan. Pilihan nama itu punya makna personal karena usaha ini dirintis saat Dimita berada di fase hidup yang dekat dengan makna tersebut.

Sisa kain diolah ulang, bukan dibuang

Perubahan penting terjadi ketika Dara Baro mulai serius masuk ke fesyen berkelanjutan. Sejak 2022, sisa kain dari produksi ready to wear berbasis wastra diolah kembali agar tidak menumpuk dan terbuang percuma.

Ide ini muncul saat pandemi covid-19 ketika aktivitas usaha melambat dan gudang penyimpanan penuh oleh sisa bahan. Dari situ, Dimita mulai memilah potongan kain yang selama ini hanya disimpan, lalu mencari cara agar tetap punya nilai ekonomi.

Pada tahap awal, sisa kain diubah menjadi masker, pouch, dan selop. Setelah itu, potongan yang lebih kecil digabungkan kembali hingga bisa menjadi bahan baju, rok, celana, kemeja, sampai outer.

Prosesnya juga memakai teknik jahit tradisional Jepang bernama Boro. Metode ini menggunakan lapisan kain kecil atau kain bekas yang dijahit ulang dengan tusuk tangan yang sengaja terlihat sebagai bagian dari estetika produk.

Harga produk dan respons pelanggan

Dengan pendekatan itu, Dara Baro menawarkan produk fesyen dengan rentang harga yang cukup lebar. Setiap item dibanderol mulai dari Rp475 ribu hingga sekitar Rp5 juta, tergantung jenis produk dan tingkat kerumitan pengerjaannya.

Konsep daur ulang itu membuat produk Dara Baro punya ciri yang kuat. Salah satu pelanggan, Afifah Zahwah, menilai koleksinya kreatif, unik, eksklusif, tidak pasaran, dan menonjolkan sentuhan sustainable fashion melalui teknik patchwork.

Membaca selera pasar tanpa meninggalkan identitas

Bagi Dimita, tantangan terbesar bukan hanya memproduksi barang, tetapi mengikuti perubahan selera konsumen. Ia rutin memantau tren lewat pameran, masukan pelanggan, dan pengamatan di pusat perdagangan seperti Tanah Abang dan Thamrin City.

Ia menyebut pelanggan sebagai guru karena merekalah yang memakai produk dan memberi umpan balik langsung. Dari situ, Dara Baro melihat bahwa pasar global kini cenderung menyukai desain yang lebih sederhana, tidak ramai, dan bisa dipakai dalam banyak kesempatan.

Dimita juga memanfaatkan referensi budaya populer dan film untuk membaca arah tren. Cara itu membantu penyesuaian desain tanpa menghilangkan identitas wastra Indonesia yang menjadi ciri brand ini.

Jaringan perajin ikut tumbuh bersama bisnis

Dara Baro melibatkan lebih dari 10 perajin dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari Solo, Cirebon, Garut, Bogor, Palembang, hingga sejumlah perajin tenun di Pulau Jawa.

Kemitraan itu memberi kepastian pasar bagi para perajin. Dengan pembelian rutin, mereka tidak lagi harus mencari pembeli sendiri, sementara Dara Baro menjaga pasokan kain tetap tersedia untuk produksi.

Dalam satu transaksi, Dara Baro biasanya membeli minimal 20 lembar kain dari tiap perajin. Nilai pembelian dari satu perajin rata-rata mencapai Rp5 juta, dan jika dihitung dengan sekitar tujuh perajin utama, nilainya bisa mencapai sekitar Rp35 juta per periode.

Pasar ekspor dan tekanan biaya produksi

Pasar Dara Baro sudah menembus Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rumania, Belanda, Prancis, Turki, Jepang, dan Korea Selatan. Salah satu momen penting terjadi saat Dimita diundang ASEAN–Korea Centre untuk mengikuti pameran B2B di Seoul pada 2011.

Di tengah ekspansi itu, tekanan biaya bahan baku tetap menjadi tantangan. Dimita menjelaskan bahwa kain mori sebagai bahan dasar batik dan jumputan umumnya masih bergantung pada impor dari Tiongkok sebelum diolah para perajin.

Ia juga menyebut kenaikan harga bisa mencapai sekitar 10% ketika dolar naik. Dampaknya tidak hanya pada kain, tetapi juga pada benang, kancing, logistik, hingga packaging.

Karena itu, Dara Baro memilih efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. Strateginya mencakup penghematan listrik, penggunaan ulang material sisa, serta pemanfaatan tas dan kantong belanja yang sudah ada.

Saat ini, produksi banyak bergantung pada stok bahan yang tersedia. Karya baru dibuat ketika sisa kain kembali terkumpul, sehingga alur produksi tetap sejalan dengan konsep keberlanjutan yang menjadi ciri brand ini sejak awal.

Dara Baro juga ikut dalam UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur 2023. Ajang itu memperluas akses pasar dan membuka pertemuan dengan buyer dari mancanegara, sekaligus menegaskan posisi Dara Baro sebagai pelaku fesyen wastra yang terus bertumbuh lewat inovasi dan kolaborasi.

Source: mediaindonesia.com

Terkait