Kilang Asia Mulai Menahan Pembelian, Harga Minyak Timur Tengah Tertekan Pasokan Melimpah

Kilang-kilang minyak di Asia mulai mengerem pembelian minyak mentah dari Timur Tengah setelah gelombang borong besar dalam tiga pekan terakhir mereda. Pergeseran ini menunjukkan pasar kini bergerak dari perebutan pasokan menuju pencarian harga yang lebih menarik di tengah stok yang sudah menumpuk.

Di saat yang sama, pasokan yang terus mengalir membuat minyak mentah Timur Tengah makin sulit menarik minat pembeli. Harga di pasar spot ikut tertekan, sementara sebagian kilang memilih menunggu karena kondisi depan kurva harga dianggap belum cukup menarik.

Permintaan Melemah Setelah Stok Terpenuhi

Penurunan minat beli terlihat jelas pada aktivitas tender Abu Dhabi National Oil Co atau Adnoc. Setelah tiga putaran penjualan rampung, permintaan mulai melemah menjelang penutupan putaran keempat pada pekan ini.

Adnoc disebut telah melepas sekitar 60 juta barel minyak mentah untuk jadwal pengapalan periode Juni hingga Agustus 2026. Sebagian besar kargo itu diarahkan ke pasar Asia, dengan pengiriman berlangsung di kawasan Teluk Persia dan lewat transfer kapal ke kapal di luar Selat Hormuz.

Shell Plc dan Mercuria Energy Group Ltd termasuk pihak yang menyerap pasokan tersebut. Aktivitas itu menunjukkan masih ada pembeli besar yang bergerak ketika kargo tersedia, meski minat dari kilang Asia secara umum sudah mulai turun.

Para pelaku pasar menyebut banyak pengelola kilang telah menyelesaikan pengadaan stok untuk bulan ini dan bulan depan. Akibatnya, sisa minyak mentah di pasar spot harus ditawarkan dengan diskon besar agar tetap dilirik pembeli.

Harga Ditekan oleh Pasokan yang Terus Bertambah

Tekanan di pasar spot juga meningkat setelah Adnoc meminta pelanggan kontrak jangka panjang untuk segera mengangkut pasokan mereka. Langkah ini menambah kesan bahwa pasokan yang tersedia saat ini lebih banyak dibanding kebutuhan jangka pendek kilang.

Irak dan Kuwait juga terus menaikkan produksi mereka. Keduanya bersiap menghadapi kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz seiring kemajuan negosiasi damai terkait Iran.

Kondisi pasokan yang melimpah menekan harga minyak mentah Timur Tengah, termasuk dua acuan utama kawasan, Dubai dan Murban. Keduanya bahkan terjebak dalam struktur contango bearish yang menggambarkan pasar depan lebih lemah dibanding kontrak yang jatuh tempo belakangan.

Dalam situasi seperti ini, pembeli cenderung menunggu karena harga spot dinilai belum cukup menarik. Pasar juga menerima tambahan pasokan setelah kebijakan pelonggaran sanksi dari Amerika Serikat mengizinkan pembelian minyak Iran, meski isu pembiayaan dan asuransi kargo masih dianggap terlalu berisiko oleh sebagian kilang.

Perubahan arus pembelian ini memperlihatkan pasar minyak Asia sedang menyesuaikan diri dengan ketersediaan suplai baru. Saat stok sudah terpenuhi dan pasokan terus bertambah, kilang menjadi jauh lebih selektif terhadap kargo Timur Tengah yang masih beredar di pasar spot.

Terkait