Saham Dunia Pecah Rekor Saat Minyak Anjlok, Pasar Bertaruh Damai Iran Dan Ledakan AI

Bursa saham global melesat ke rekor tertinggi ketika harga minyak mentah dunia justru anjlok tajam. Pasar membaca kombinasi itu sebagai tanda bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, sementara selera risiko investor kembali menguat.

Dorongan terbesar datang dari harapan bahwa Amerika Serikat semakin dekat dengan kesepakatan bersama Iran. Jika tercapai, perjanjian itu dinilai bisa membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan pasokan minyak mentah, dua faktor yang langsung menekan harga energi dan meredakan kekhawatiran inflasi.

Minyak jatuh, saham naik

Kontrak berjangka S&P 500 naik 1 persen dan Nasdaq 100 melesat 1,4 persen. Pada saat yang sama, indeks dunia MSCI All Country menguat 0,5 persen ke level penutupan tertinggi sepanjang sejarah.

Harga minyak mentah WTI turun lebih dari 6 persen ke kisaran US$90 per barel. Pasar melihat penurunan itu sebagai sinyal bahwa arus minyak melalui jalur penting di Timur Tengah berpeluang pulih jika kesepakatan baru benar-benar terbentuk.

Kenaikan juga terlihat jelas di Eropa, meski perdagangan berjalan relatif sepi karena sejumlah pasar utama tutup libur nasional. Inggris, Swiss, Norwegia, dan Denmark tidak beroperasi, tetapi minat beli tetap kuat dan menjaga indeks kawasan di area rekor.

Indeks Stoxx 600 menguat selama enam sesi berturut-turut dan ditutup pada level tertinggi sejak perang Iran. Di Italia, indeks saham acuan bahkan menembus rekor penutupan tertinggi yang terakhir tercatat pada tahun 2000, ditopang reli saham energi dan chip.

Diplomasi Iran jadi pusat perhatian

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik. Delegasi Iran juga dilaporkan pergi ke Doha untuk berkonsultasi dengan pejabat senior Qatar, termasuk membahas pencairan dana Iran yang dibekukan.

Meski sentimen pasar membaik, Trump menegaskan dirinya tidak ingin terburu-buru mencapai perjanjian. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyebut kesepakatan itu masih dalam proses dan pemerintah AS akan memberi setiap peluang bagi diplomasi untuk berhasil.

Perubahan nada pasar terjadi setelah berminggu-minggu kebuntuan antara AS dan Iran. Sejumlah upaya sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan, sehingga kabar terbaru langsung memicu penyesuaian posisi di banyak aset berisiko.

Dolar AS ikut melemah terhadap seluruh mata uang utama negara-negara G-10. Pelemahan itu menambah dorongan bagi aset berisiko dan memperkuat reli saham global.

AI ikut mengangkat sentimen

Selain kabar geopolitik, antusiasme terhadap kecerdasan buatan atau AI kembali memberi tenaga pada pasar saham. Tema itu membuat investor semakin nyaman masuk ke saham teknologi, di saat sektor energi juga bergerak mengikuti perubahan harga minyak.

Strategist SEB, Dana Malas, menilai dorongan FOMO ikut memperkuat minat terhadap aset berisiko. Menurut dia, investor tidak ingin tertinggal jika perang Iran berakhir sementara tema AI terus menopang pasar saham.

Roberto Scholtes Ruiz dari Singular Bank mengatakan skenario yang paling mungkin tampaknya sudah banyak diperhitungkan pasar setelah lonjakan hari ini. Ia juga memperkirakan akan muncul dinamika “sell the news” begitu kesepakatan benar-benar tercapai.

Pasar belum lepas dari inflasi dan Fed

Di tengah reli saham, perhatian investor belum bergeser jauh dari inflasi dan arah suku bunga. Pasar kini sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun.

Pekan ini, data Personal Consumption Expenditures atau PCE AS serta data inflasi Eropa akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter berikutnya. Karena itu, fokus pasar tidak hanya tertuju pada Iran dan minyak, tetapi juga pada sinyal baru dari bank sentral.

Warsh resmi dilantik pada Jumat lalu dengan janji perubahan terbesar dalam beberapa dekade di bank sentral AS. Trump mengatakan ingin Warsh memimpin The Fed secara independen, sementara BlackRock Inc menilai bank sentral justru mungkin punya alasan cukup untuk memangkas suku bunga di bawah kepemimpinan baru itu.

Di sisi lain, China meluncurkan kampanye besar-besaran terhadap perdagangan lintas batas ilegal untuk menahan arus keluar modal. Beijing juga mengancam hukuman berat bagi broker populer dan memerintahkan akun yang tidak patuh untuk dilikuidasi dalam waktu dua tahun.

Terkait