Saat Bos Teknologi Dicemooh Soal AI, Wozniak Malah Dipuji Karena Kalimat Ini ke Mahasiswa

Reaksi mahasiswa terhadap AI di panggung wisuda kampus-kampus Amerika Serikat belakangan makin sulit diprediksi. Saat sejumlah tokoh teknologi dicemooh karena membahas kecerdasan buatan, Steve Wozniak justru menuai tepuk tangan karena memilih sudut pandang yang berbeda.

Pendiri Apple itu berbicara dalam pidato wisuda Class of 2026 di Grand Valley State University. Alih-alih menempatkan mesin dan algoritma sebagai pusat perhatian, ia mengajak para lulusan melihat bahwa manusia sudah memiliki “AI” versi mereka sendiri: “actual intelligence”.

Pesan yang langsung kena ke audiens

Ucapan itu disambut tawa dan tepuk tangan dari para mahasiswa. Respons spontan tersebut cepat menyebar di media sosial melalui video yang memperlihatkan momen saat Wozniak berbicara di hadapan para lulusan.

Di tengah kecemasan yang meningkat soal dampak AI terhadap masa depan kerja, pendekatan Wozniak terasa menonjol. Ia tidak menjadikan teknologi sebagai bintang utama pidato, melainkan mengarahkan perhatian ke kreativitas, keunikan, dan kemampuan memecahkan masalah yang dimiliki manusia.

Pesan itu muncul pada saat topik AI makin sensitif di berbagai upacara kelulusan di AS. Banyak mahasiswa kini tidak lagi mendengar AI sebagai simbol kemajuan semata, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa mengubah pasar kerja secara drastis.

Ketegangan di kampus soal AI

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pembicara dari industri teknologi justru mendapat sambutan dingin ketika menyinggung AI. Kekhawatiran utama mahasiswa berpusat pada dampak teknologi tersebut terhadap pekerjaan dan prospek karier mereka setelah lulus.

Mantan CEO Google Eric Schmidt menjadi salah satu contoh paling jelas dari respons negatif itu. Saat berbicara tentang AI dalam pidato wisuda di University of Arizona awal bulan ini, ia dicemooh oleh audiens.

Schmidt juga mengakui kegelisahan yang ia rasakan di ruangan itu. Ia mengatakan bisa mendengar ketakutan dari para anak muda yang khawatir teknologi akan memengaruhi peluang karier mereka.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa AI tidak lagi diterima begitu saja sebagai simbol kemajuan di ruang publik kampus. Bagi banyak lulusan, pembahasan soal AI kini langsung terkait dengan ketidakpastian ekonomi dan perubahan pasar kerja.

Mengapa Wozniak terasa berbeda

Di tengah suasana itu, komentar Wozniak dianggap berbeda karena menempatkan mahasiswa sebagai pusat perhatian. Ia tidak membingkai AI sebagai kekuatan yang harus diterima tanpa syarat, melainkan mengingatkan bahwa nilai utama tetap berada pada kecerdasan manusia.

Pendekatan seperti ini juga kontras dengan gaya sebagian eksekutif teknologi yang kerap menonjolkan AI sebagai perubahan yang tak terelakkan. Bagi audiens wisuda yang sedang bersiap memasuki dunia kerja, penekanan pada kemampuan manusia tampaknya lebih mudah diterima.

Adobe AI Evangelist Chris Duffey juga termasuk di antara tokoh teknologi yang menghadapi respons dingin dari para lulusan. Reaksi semacam itu menunjukkan bahwa skeptisisme terhadap AI tidak terjadi di satu kampus saja.

Nada yang lebih hati-hati dari tokoh teknologi lain

Kekhawatiran terhadap AI juga membayangi pidato wisuda yang akan disampaikan CEO Google Sundar Pichai di Stanford University. Ia dijadwalkan berbicara ketika kecemasan mahasiswa terhadap dampak AI pada pekerjaan sedang meningkat.

Berbeda dari sejumlah tokoh yang mempromosikan AI dengan optimisme penuh, Pichai terlihat mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Dalam podcast Hard Fork, ia mengakui bahwa orang-orang memang “rightfully” merasa cemas terhadap masa depan yang dibawa AI.

Pichai juga menyebut AI sebagai “the most profound technology humanity will ever work on”. Menurut dia, rasa tidak nyaman itu wajar karena perubahan yang terjadi berlangsung cepat dan dalam skala besar.

Meski banyak orang khawatir AI akan menggantikan pekerjaan dan mengubah jalur karier, Pichai menilai masa depan tetap akan “better than some of those dire predictions.” Ia juga menyatakan tetap optimistis terhadap generasi berikutnya dan peluang yang bisa dibuka oleh AI.

Pichai menilai para lulusan saat ini tidak hanya akan merasakan dampaknya, tetapi juga ikut membentuk arah perkembangan teknologi tersebut. Namun, respons terhadap Wozniak menunjukkan bahwa cara menyampaikan isu AI kini sama pentingnya dengan isi pesannya.

Ketika mahasiswa merasa masa depan mereka terancam, narasi yang mengangkat kemampuan manusia tampaknya lebih kuat daripada pidato yang sekadar merayakan otomatisasi. Ucapan Wozniak di Grand Valley State University menjadi sorotan justru karena sederhana, langsung, dan menyentuh rasa cemas audiens tanpa mengabaikannya.

Source: www.indiatoday.in
Terkait