Rupiah Tembus Rp 18.000, Harga Besi Melonjak dan Margin Pengusaha Lamongan Terjepit

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS langsung memukul hitung-hitungan pelaku usaha besi di daerah. Di Lamongan, kenaikan kurs itu membuat harga material impor naik, sementara margin distributor dan penjual eceran makin sempit.

Dampaknya terasa di Duta Merpati Depo Lamongan, pemasok besi untuk kontraktor, bengkel las, dan toko besi skala kecil di Lamongan dan sekitarnya. Saat harga bahan baku bergerak naik, keluhan pelanggan ikut bertambah karena ongkos pembelian material dan produksi menjadi lebih mahal.

Ketergantungan pada impor masih sangat besar

Store Manager Duta Merpati Depo Lamongan, Muhammad Zaki, menyebut sekitar 90% kebutuhan besi masih berasal dari impor, terutama dari China. Kondisi itu membuat setiap pergerakan dolar AS cepat tercermin pada harga jual di pasar domestik.

Zaki mengatakan, hampir semua jenis besi mengalami kenaikan harga. Menurut dia, ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat industri besi dan baja sangat sensitif terhadap gejolak nilai tukar.

Harga coil naik tajam

Salah satu yang paling terasa adalah harga coil atau besi gulungan yang banyak dipakai di sektor manufaktur dan konstruksi. Zaki menyebut harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.500 per kilogram kini sudah menembus lebih dari Rp 20.000 per kilogram.

Kenaikan ini tidak hanya menekan distributor, tetapi juga bengkel las dan pelaku usaha kecil yang memakai besi sebagai bahan baku utama. Di tingkat hilir, harga jual ikut didorong naik agar biaya pembelian material tetap tertutup.

Keluhan naik, penjualan belum turun

Meski harga naik, volume penjualan di Duta Merpati Depo Lamongan sejauh ini masih relatif stabil. Pelanggan memang banyak mengeluh, tetapi kebutuhan dari sektor konstruksi dan usaha kecil masih berjalan sehingga transaksi tetap terjadi.

Zaki menjelaskan, pihaknya masih memasok kebutuhan kontraktor dan toko besi skala kecil di Lamongan. Situasi ini menunjukkan permintaan pasar masih bertahan, meski tekanan biaya semakin besar.

Tekanan biaya membayangi usaha daerah

Bagi pelaku usaha besi, kurs rupiah bukan sekadar angka di pasar valuta asing. Perubahan itu langsung memengaruhi biaya pembelian material, harga jual, dan ruang keuntungan yang tersisa.

Selama bahan baku masih sangat bergantung pada impor, pergerakan dolar AS akan terus menjadi faktor utama yang menentukan arah harga besi di dalam negeri. Pelaku industri berharap rupiah kembali stabil agar tekanan biaya impor mereda dan aktivitas perdagangan di daerah tetap bergerak.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button