Rupiah Tembus Rp 17.500, Money Changer Dipadati Warga yang Mau Untung dan Bepergian

Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.500 per dolar AS langsung menarik perhatian warga ke money changer. Di tengah kurs yang masih bergerak naik turun, transaksi jual beli dolar AS berlangsung lebih ramai dari biasanya karena banyak orang ingin menyesuaikan kebutuhan masing-masing.

Di salah satu tempat penukaran uang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, suasana terlihat jauh lebih sibuk. Warga datang silih berganti, sebagian untuk menukar dolar ke rupiah, sementara yang lain justru membeli dolar untuk kebutuhan perjalanan ke luar negeri.

Kebutuhan warga tidak sama

Lonjakan aktivitas itu tidak hanya dipicu oleh spekulasi kurs. Sejumlah warga datang dengan tujuan yang sangat praktis, mulai dari kebutuhan keluarga hingga rencana penggunaan dana di kampung halaman.

Ada pula yang memilih membeli dolar karena akan bepergian saat libur panjang akhir pekan. Dalam kondisi rupiah yang melemah, keputusan menukar uang asing menjadi bagian dari perhitungan kebutuhan harian, bukan semata-mata mengejar untung dari pergerakan kurs.

Fonda termasuk nasabah yang memanfaatkan momen tersebut. Ia baru kembali dari perjalanan kerja sebagai pelaut di Amerika Serikat dan Taiwan, lalu menukarkan dolar AS ke rupiah sebelum pulang ke Lampung.

Ia menilai kurs saat ini lebih menguntungkan untuk penukaran. Menurut dia, selisih sekitar Rp 200 hingga Rp 300 per dolar sudah terasa signifikan, terutama jika jumlah yang ditukar cukup besar.

Rupiah lemah, minat ke dolar ikut naik

Bagi sebagian orang, pelemahan rupiah justru membuka peluang untuk mendapat nilai tukar lebih baik saat menjual dolar. Karena itu, sebagian warga memilih menunggu momentum yang dianggap pas sebelum menukar simpanan mereka.

Namun kondisi yang sama juga membuat sebagian warga menahan langkah. Mereka menunggu kurs bergerak sesuai harapan agar nilai yang diterima lebih optimal.

Fonda menilai pergerakan rupiah saat ini lebih fluktuatif dibanding masa pandemi Covid-19. Meski ia memperoleh keuntungan dari penguatan dolar, ia berharap rupiah tetap stabil karena pelemahan yang terlalu dalam bisa berdampak luas ke masyarakat.

Stefani datang ke money changer dengan alasan berbeda. Ia membeli dolar AS karena memiliki rencana bepergian ke luar negeri, dan kebutuhan traveling menjadi salah satu alasan utama warga mendatangi tempat penukaran uang saat rupiah melemah.

Transaksi valuta asing ikut dipengaruhi kebutuhan praktis

Situasi ini memperlihatkan bahwa transaksi valuta asing tidak hanya mengikuti arah pasar. Kebutuhan praktis masyarakat tetap menjadi faktor besar yang mendorong pergerakan di money changer.

Sebagian warga memilih menjaga nilai simpanan dalam dolar, sementara yang lain memanfaatkan kurs tinggi untuk menukar dolar ke rupiah. Dalam kondisi seperti ini, keputusan pembeli dan penjual mata uang sangat bergantung pada tujuan masing-masing.

Stefani menilai money changer memang cenderung lebih ramai ketika rupiah tertekan. Ia melihat dolar dianggap lebih stabil menghadapi inflasi, sehingga banyak orang menjadikannya pilihan saat harus mengatur keuangan untuk perjalanan atau kebutuhan lain.

Meski sempat berada di level Rp 17.500 per dolar AS, rupiah akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,30% atau 53 poin menjadi Rp 17.475 per dolar AS, tetapi perhatian masyarakat terhadap pergerakan kurs masih terlihat jelas di lapangan.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button