Rupiah Melemah, Ongkos Truk Logistik Naik Sampai 10 Persen

Author: Cung Media

Pelemahan rupiah mulai menekan biaya distribusi barang di lapangan. Di Jawa Timur, pengusaha truk angkutan barang menyebut tarif pengiriman sudah naik hingga 10 persen karena ongkos operasional ikut terdorong.

Tekanan itu datang dari komponen yang masih bergantung pada impor, mulai dari suku cadang, oli, hingga ban. Saat nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.933 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/6/2026), biaya perawatan armada menjadi semakin berat bagi pelaku usaha.

Komponen impor membuat ongkos membengkak

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur, Sundoro, menjelaskan bahwa kenaikan biaya tidak terjadi pada satu pos saja. Banyak kebutuhan operasional kendaraan masih memakai acuan dolar AS, sehingga pelemahan rupiah cepat terasa pada biaya harian perusahaan.

Menurut Sundoro, kenaikan ongkos angkutan di wilayahnya berada pada kisaran 5 persen sampai 10 persen. Penyesuaian itu dilakukan agar armada tetap bisa beroperasi di tengah biaya yang terus bergerak naik.

“Situasi ini tentu menyulitkan kami para pengusaha truk logistik, karena kami harus bernegosiasi ulang dengan pemilik barang karena ada kenaikan tarif ongkir hingga 10 persen,” kata Sundoro di kawasan Ngagel Jaya, Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Tarif angkutan tidak sesederhana jarak tempuh

Sundoro juga menegaskan bahwa ongkos pengiriman tidak bisa dihitung hanya dari jarak. Berat muatan, lokasi pemuatan, lokasi pembongkaran, dan karakteristik barang ikut memengaruhi besaran tarif yang harus disepakati.

Karena itu, angka kenaikan di tiap industri bisa berbeda. Ia menilai perhitungan biaya logistik memang rumit karena ada banyak variabel dalam satu perjalanan distribusi.

“Memang agak susah untuk menentukan angkanya karena masing-masing industri itu banyak sekali variabel yang harus dihitung seperti berat, jarak, kemudian dari tempat muatnya, dari tempat bongkarnya,” ujarnya.

Tekanan juga datang dari suku bunga

Selain pelemahan rupiah, industri logistik ikut menanggung beban dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate yang berada di level 5,75 persen. Kondisi ini menambah tekanan pada perusahaan yang membutuhkan modal besar untuk pengadaan armada dan pembiayaan operasional.

Bagi pelaku usaha truk, bunga pinjaman yang lebih tinggi berarti beban keuangan bertambah. Ruang untuk menahan kenaikan tarif pun makin sempit, terutama ketika biaya komponen kendaraan masih terus naik.

Risiko ikut dirasakan konsumen

Kenaikan ongkos logistik biasanya tidak berhenti di perusahaan angkutan. Biaya itu berpotensi diteruskan ke rantai distribusi yang lebih luas dan pada akhirnya memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.

Sundoro berharap kondisi rupiah segera membaik agar biaya operasional tidak terus menanjak. Ia juga membuka kemungkinan tarif angkutan kembali naik bila pelemahan rupiah berlangsung lebih lama.

“Kami berharapnya ini segera teratasi. Hitungan kami kenaikan tarif masih di angka 5 persen hingga 10 persen, tetapi jika ini terus berlarut besar kemungkinan tarif ongkir akan kembali dinaikkan,” tutupnya.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru