Rumah Anggota BPK Digeledah KPK, Jejak Suap Muara Enim Kian Meluas

Penggeledahan rumah anggota V BPK RI, Bobby Adhityo Rizaldi, membuat penyidikan dugaan suap di Muara Enim semakin melebar. KPK mengamankan barang bukti elektronik dari rumah di Jakarta itu untuk mendalami kaitannya dengan perkara audit BPK di Pemkab Muara Enim.

Langkah ini menambah panjang rangkaian penelusuran kasus yang sebelumnya sudah menyeret pejabat daerah, pihak swasta, hingga ASN BPK. Dari awal perkara, KPK telah menemukan dugaan aliran uang, pertemuan perantara, dan upaya mengubah hasil audit yang berkaitan dengan laporan keuangan Pemkab Muara Enim.

Berawal dari OTT Bupati Muara Enim

Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan terhadap Bupati Muara Enim nonaktif Edison pada Senin (8/6). Sehari setelahnya, KPK menetapkan Edison sebagai tersangka bersama tiga orang lain yang terseret dalam dugaan suap di lingkungan Pemkab Muara Enim.

Empat tersangka awal itu adalah Edison, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2026 Abi Nurwardani, keponakan bupati Adi Triyadi, dan marketing PT Millenium Solusi Abadi Cory Erin Hardi. KPK menduga Edison menerima suap Rp 500 juta dari Cory melalui Abi Nurwardani, dengan dugaan uang itu berkaitan dengan upaya menjaga hubungan baik karena PT MSA selaku supplier smart board telah mendapat proyek dari Pemkab Muara Enim tahun 2025.

KPK juga menyebut Abi diduga menerima setoran uang dari rekanan dinas lainnya di Muara Enim. Dalam perkara ini, penyidik telah menyita sekitar Rp 1,9 miliar.

Tersangka AwalPeranPokok Dugaan
EdisonBupati Muara Enim nonaktifMenerima dugaan suap Rp 500 juta
Abi NurwardaniSekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2026Diduga menjadi perantara aliran uang
Adi TriyadiKeponakan bupatiMenjadi salah satu tersangka awal
Cory Erin HardiMarketing PT Millenium Solusi AbadiDiduga memberi uang melalui Abi

OTT Lain Menyasar ASN BPK

Perkembangan berikutnya terjadi pada Rabu (10/6) saat KPK melakukan OTT terhadap lima ASN BPK. Kelima orang itu kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan suap terkait pengubahan hasil audit.

Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein mengatakan, perkara ini berawal dari temuan BPK pada laporan keuangan Pemkab Muara Enim. Menurut dia, pihak BPK meminta Rp 1,6 miliar untuk mengubah hasil audit.

Pada Mei 2026, Edison diduga meminta Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Rusdi Hairullah untuk mengurus LHP audit BPK lewat pihak swasta bernama Augusz Dewanggara atau Angga. Rusdi lalu diduga memerintahkan Abi Nurwardani menemui Angga melalui perantara Mulyono untuk menegosiasikan fee demi menyulap hasil audit BPK.

Angga kemudian diduga menyampaikan kebutuhan fee sekitar Rp 1,6 miliar, yang diambil dari 1% pagu anggaran pekerjaan infrastruktur atau 2% pagu anggaran pengadaan dari Pemkab Muara Enim. Setelah kesepakatan terbentuk, Angga diduga menyiapkan pihak-pihak yang akan membantu mengubah hasil audit Pemkab Muara Enim.

Aliran Dana Masih Ditelusuri

Dalam pengembangan kasus, Abi diduga menerima Rp 500 juta dari pihak PT MSA. Dari jumlah itu, sekitar Rp 100 juta disebut diberikan kepada Angga dan Rp 100 juta kepada Mulyono.

Sekitar Rp 300 juta lainnya disebut diserahkan Abi ke Sumatera Selatan, yang di antaranya untuk Edison. KPK juga menyebut Angga sebelumnya diduga menerima Rp 50 juta dari Abi, dan aliran dana itu masih akan ditelusuri lebih lanjut.

KPK telah menyita sejumlah barang bukti berupa dokumen, mobil, barang bukti elektronik, serta uang Rp 200 juta dari Angga dan Mulyono. Dari rangkaian penyidikan ini, lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni Angga selaku pihak swasta, Titin Rita Lestari selaku ASN atau pengendali teknis, Edison selaku Bupati Muara Enim, Cory Erin Hardi selaku marketing PT Millenium Solusi Abadi, dan Fika selaku pihak direktur PT Millenium Solusi Abadi.

Fokus Penyidikan Kian Meluas

KPK juga mengungkap Angga merupakan mantan staf ahli di DPR. Penyidik kini menelusuri apakah Angga masih digunakan sebagai staf anggota DPR yang kini menjabat di BPK RI.

“Apakah setelah yang bersangkutan, pejabat yang bersangkutan di BPK, itu tetap ini dipakai? Nah, itu juga menjadi fokus penyidikan berikutnya,” kata Taufik. Penggeledahan rumah Bobby Adhityo Rizaldi membuat penyidikan semakin meluas ke lingkaran yang diduga berkaitan dengan upaya mengubah hasil audit di Pemkab Muara Enim.

Barang BuktiKeterangan
Bukti elektronikDiamankan dari rumah Bobby Adhityo Rizaldi
DokumenDisita dalam pengembangan perkara
MobilDisita dalam pengembangan perkara
Uang Rp 200 jutaDisita dari Angga dan Mulyono

Rangkaian temuan itu menunjukkan penyidikan KPK tidak berhenti pada dugaan suap awal di lingkungan Pemkab Muara Enim. Penelusuran kini bergerak ke hubungan antara pihak daerah, perantara, dan orang-orang yang diduga punya kaitan dengan proses audit BPK.

Source: news.detik.com
Terkait