Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan udara balasan AS menghantam wilayah dekat Selat Hormuz. Insiden ini langsung memicu kekhawatiran baru karena kawasan tersebut adalah jalur vital distribusi energi dunia.
Pentagon menyebut operasi itu sebagai respons bela diri yang terukur, sementara CENTCOM mengatakan serangan dimulai atas arahan langsung Gedung Putih. Balasan itu dilakukan setelah jatuhnya helikopter serbu Apache milik Angkatan Darat AS di perairan dekat Oman.
Target serangan berada di pesisir selatan Iran
Menurut laporan yang dikutip CNBC, rudal AS menghantam beberapa titik pertahanan udara di sepanjang pesisir selatan Iran yang berbatasan dengan Selat Hormuz. Wilayah ini menjadi sorotan karena posisinya sangat strategis bagi arus kapal tanker dan pergerakan energi global.
CENTCOM menyatakan operasi dimulai pada pukul 17.00 ET dan diarahkan sebagai balasan atas jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS. Dalam pernyataannya di media sosial X, lembaga itu menyebut langkah tersebut sebagai “tanggapan proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan.”
Iran melaporkan ledakan di beberapa wilayah
Dari sisi Iran, media pemerintah melaporkan adanya penetrasi proyektil asing yang melintasi batas negara. Televisi negara Iran menyebut hantaman rudal di kawasan Sirik telah dikonfirmasi, meski lokasi pastinya masih belum ditentukan.
Media yang sama juga melaporkan ledakan dan aktivitas pertahanan udara terdengar di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik. Sirik berada di pesisir yang menempel langsung dengan Selat Hormuz, sehingga setiap insiden di wilayah itu segera mendapat perhatian keamanan yang tinggi.
Kronologi jatuhnya Apache di perairan Oman
Konfrontasi ini dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter AH-64 Apache yang sedang menjalankan patroli rutin di perairan dekat Oman. Helikopter tersebut hilang kontak dan menghantam permukaan air pada pukul 19.33 ET malam sebelumnya.
Dua awak helikopter berhasil diselamatkan dengan aman oleh tim penyelamat. CENTCOM mengatakan kondisi kedua personel stabil, sementara penyelidikan atas penyebab jatuhnya helikopter masih berlangsung.
Trump menyebut balasan itu perlu dilakukan
Presiden Donald Trump merespons insiden tersebut dengan pernyataan keras di media sosial. Ia menyebut bahwa militer AS telah melaporkan jatuhnya salah satu helikopter Apache canggih milik mereka saat berpatroli di Selat Hormuz.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat harus membalas serangan itu. Dalam pernyataannya, ia menyebut langkah militer tersebut sebagai tindakan yang diperlukan untuk merespons agresi terhadap aset dan personel AS.
Selat Hormuz kembali jadi titik rawan
Ketegangan terbaru ini kembali menyorot pentingnya Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia. Sekitar sepertiga pasokan minyak mentah global melintas di jalur itu setiap hari, sehingga gangguan sekecil apa pun bisa cepat berdampak pada pasar energi internasional.
AS selama ini menempatkan kekuatan militernya di Teluk untuk menjaga arus logistik energi tetap aman. Di sisi lain, Iran memandang kehadiran militer asing di dekat wilayahnya sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional.
Situasi terbaru menunjukkan bagaimana satu insiden udara dapat berubah cepat menjadi serangan balasan berskala besar. Dengan posisi Sirik, Bandar Abbas, dan Selat Hormuz yang saling berdekatan, kawasan itu tetap berada dalam pengawasan ketat saat kedua negara menyiapkan langkah berikutnya.
Source: www.suara.com






