Rp2.576 Triliun Kredit Belum Cair, OJK Yakin Ini Jadi Bahan Bakar Berikutnya

Author: Cung Media

Fasilitas kredit yang belum ditarik debitur atau undisbursed loan justru dinilai Otoritas Jasa Keuangan sebagai cadangan penting bagi pertumbuhan pembiayaan berikutnya. Nilainya yang mencapai Rp2.576 triliun dipandang bukan tanda lesu, melainkan dana yang siap masuk ke sistem saat proyek dan rencana bisnis mulai berjalan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan fasilitas itu sudah disetujui perbankan, tetapi pencairannya masih menunggu tahap pelaksanaan. Dengan begitu, ruang penarikan masih terbuka lebar ketika kebutuhan pembiayaan benar-benar muncul di lapangan.

Ruang dorong kredit masih terbuka

OJK menilai undisbursed loan punya peluang besar untuk ikut menggerakkan kredit pada periode berikutnya. Dana yang belum dicairkan itu bisa masuk ke sistem begitu debitur mulai merealisasikan usaha dan proyek yang sudah disiapkan.

Prospek itu juga ditopang oleh perbaikan ekonomi, naiknya kepercayaan pelaku usaha, dan pasar yang masih kondusif. Dalam pandangan OJK, stabilitas sistem keuangan memberi ruang bagi debitur untuk memanfaatkan fasilitas pinjaman yang sudah tersedia.

Dian menegaskan, ketika dana tersebut mulai ditarik, fungsi intermediasi perbankan akan semakin kuat. Arus pembiayaan ke sektor riil pun berpotensi meningkat seiring ekspansi usaha dan aktivitas investasi.

Angka kredit dan likuiditas masih solid

Bank Indonesia sebelumnya menyampaikan bahwa undisbursed loan pada Mei 2026 mencapai Rp2.576 triliun atau 22,41% dari plafon kredit yang tersedia. Besarnya fasilitas yang belum digunakan itu menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat proyeksi pertumbuhan kredit di kisaran 8—12% tahun ini.

Di saat yang sama, OJK mencatat penyaluran kredit pada Mei 2026 tumbuh 11,51% secara tahunan menjadi Rp8.918 triliun. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat 9,98% secara tahunan.

Indikator Nilai Keterangan
Undisbursed loan Rp2.576 triliun 22,41% dari plafon kredit
Kredit perbankan Rp8.918 triliun Tumbuh 11,51% YoY
DPK Rp10.294 triliun Tumbuh 13,49% YoY

Kinerja kredit masih ditopang oleh pembiayaan investasi yang tumbuh paling tinggi, yakni 21,95% YoY. Kredit konsumsi naik 5,89% YoY, sedangkan kredit modal kerja bertambah 8,09% YoY.

Berdasarkan kelompok debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,39% YoY. Sementara itu, kredit UMKM mulai membaik meski masih terbatas, dengan pertumbuhan 0,60% YoY dari 0,16% pada bulan sebelumnya.

Bank BUMN dan likuiditas masih jadi penopang

Dari sisi kelompok bank, kredit yang disalurkan bank BUMN tumbuh paling tinggi, yakni 15,98% YoY. Ini menunjukkan peran bank milik negara masih besar dalam menjaga momentum pembiayaan.

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga atau DPK tumbuh 13,49% YoY menjadi Rp10.294 triliun. Kenaikan itu ditopang oleh giro yang tumbuh 20,53% YoY, deposito 10,17% YoY, dan tabungan 10,21% YoY.

OJK menilai kondisi likuiditas industri perbankan masih memadai untuk mendukung penyaluran kredit. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit atau AL/NCD tercatat 108,20%, sementara AL/DPK berada di level 24,78%.

Selain itu, Liquidity Coverage Ratio atau LCR berada di level 186,54%. Dengan ruang likuiditas yang masih longgar, perbankan dinilai tetap mampu menyalurkan pembiayaan ketika debitur mulai menarik fasilitas kredit yang sudah disetujui.

Source: finansial.bisnis.com
Terbaru