B50 Mulai Masuk SPBU Besok, Pengguna Mobil Diesel dan Genset Perlu Waspada Ini

Author: Cung Media

Distribusi solar B50 mulai berjalan bertahap di SPBU seluruh Indonesia besok, dan perubahan ini langsung membawa satu pertanyaan besar bagi pengguna mobil diesel serta genset: aman atau tidak dipakai sehari-hari. Jawabannya, aman pada dasarnya, tetapi ada risiko yang tidak boleh disepelekan pada masa awal transisi.

B50 adalah campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, dalam hal ini kelapa sawit, dan 50 persen solar fosil. Kebijakan ini melanjutkan penggunaan B40 yang sebelumnya sudah beredar di masyarakat, dengan masa transisi disiapkan hingga 1 Oktober 2026.

Aman Dipakai, Tetapi Kondisi Mesin Jadi Penentu

Sejumlah pengujian menunjukkan B50 tidak hadir tanpa persiapan teknis. Pemerintah menyebut pengujian sudah dilakukan intensif sejak awal 2025, lalu dilanjutkan uji serentak di enam sektor mulai 9 Desember 2025.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan enam sektor itu mencakup otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, pembangkit, dan kereta. Uji jalan untuk kendaraan otomotif bahkan mencapai 50.000 kilometer untuk melihat dampak jangka panjang pada mesin.

Sektor Uji Keterangan Catatan
Otomotif Uji jalan hingga 50.000 kilometer Untuk memantau dampak jangka panjang pada mesin
Tambang Uji serentak sejak 9 Desember 2025 Bagian dari enam sektor pengujian
Alat pertanian Uji serentak sejak 9 Desember 2025 Bagian dari enam sektor pengujian
Kelautan Uji serentak sejak 9 Desember 2025 Bagian dari enam sektor pengujian
Pembangkit Uji serentak sejak 9 Desember 2025 Bagian dari enam sektor pengujian
Kereta Uji serentak sejak 9 Desember 2025 Bagian dari enam sektor pengujian

Skema bertahap ini juga membuat masyarakat masih mungkin menemukan B40 di sejumlah titik penjualan untuk sementara waktu. Tujuannya agar badan usaha bisa menghabiskan stok lama sekaligus menuntaskan proses blending sesuai standar.

Risiko Utama Justru Ada di Sistem Bahan Bakar

Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus dari Universitas Sumatera Utara menilai hasil uji secara umum menunjukkan B50 aman untuk sebagian besar parameter teknis. Namun, keamanan itu tetap bergantung pada mutu bahan bakar, distribusi yang benar, dan mesin yang dirawat sesuai standar.

Ia menekankan bahwa populasi mesin diesel di Indonesia sangat beragam, dari mesin lama hingga mesin modern dengan sistem injeksi yang lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Karena itu, masalah terbesar sering kali bukan ada pada B50-nya, melainkan pada tangki yang kotor, filter yang lama tidak diganti, atau selang karet yang tidak kompatibel dengan biodiesel berkadar tinggi.

Efek Pembersih Bisa Bikin Filter Lebih Cepat Mampet

Satu hal yang perlu dipahami pengguna adalah efek detergen atau pembersih pada biodiesel. Saat pertama kali beralih ke B50, bahan bakar ini dapat melarutkan deposit lama yang menempel di dinding tangki.

Kotoran yang terangkat kemudian ikut mengalir ke sistem bahan bakar dan berpotensi membuat filter lebih cepat tersumbat. Karena itu, pengguna disarankan memeriksa filter lebih sering pada masa awal penggunaan B50 dan menyiapkan filter cadangan, terutama jika kendaraan diesel sebelumnya lama memakai bahan bakar dengan endapan di tangki.

Potensi Sedikit Lebih Boros dan Perhatian Khusus untuk Genset

Perubahan lain yang perlu diantisipasi adalah konsumsi bahan bakar. Secara ilmiah, biodiesel memiliki nilai kalor sedikit lebih rendah dibandingkan solar fosil murni, sehingga konsumsi bahan bakar bisa naik sekitar 1 sampai 3 persen dibandingkan B40.

Artinya, B50 cenderung sedikit lebih boros dalam hitungan liter per kilometer atau liter per jam. Angka ini masih dinilai dalam batas wajar, tetapi tetap penting bagi pemilik armada, pengguna harian, dan pelaku usaha yang menghitung biaya operasional secara ketat.

Pengguna genset perlu perhatian tambahan karena bahan bakar sering disimpan sebagai cadangan dalam waktu lama. Pada kondisi ini, B50 yang lebih mudah menyerap air dibandingkan solar fosil bisa memicu degradasi oksidatif, kenaikan keasaman, pembentukan sedimen, hingga pertumbuhan mikroba di dalam tangki.

Risiko tersebut makin besar bila tangki kotor, lembap, atau tidak tertutup rapat. Tulus menyarankan tangki penyimpanan tetap bersih, kering, dan tertutup rapat, serta stok dijaga dengan prinsip First-In First-Out atau FIFO agar bahan bakar tidak terlalu lama mengendap.

Dengan demikian, masa transisi menuju B50 bukan hanya soal mengganti BBM di SPBU, tetapi juga soal kesiapan kendaraan, perawatan sistem bahan bakar, dan disiplin penyimpanan. Bagi pemilik mobil diesel maupun genset, perhatian pada filter, tangki, dan selang menjadi bagian penting agar bahan bakar baru bekerja sesuai hasil uji yang sudah dijalankan.

Source: www.suara.com
Terbaru