
Rosan P. Roeslani resmi memimpin Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) untuk periode 1447–1452 H, dan pesan pertamanya langsung menekan satu hal penting: ekonomi syariah harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Pelantikan di Jakarta pada Minggu (24/5/2026) itu dipimpin Ketua Dewan Pertimbangan PP MES, Ma’ruf Amin, dengan agenda yang kini jelas mengarah pada implementasi, bukan sekadar wacana.
Rosan menegaskan kepengurusan baru tidak cukup hanya membawa gagasan besar. Ia meminta ekonomi syariah dibuktikan lewat kerja konkret yang bisa dirasakan publik, termasuk manfaat sosial yang tidak berhenti di atas kertas.
Dorongan agar ekonomi syariah hadir lebih dekat
Lewat akun Instagram, Rosan menyampaikan selamat bertugas kepada seluruh pengurus pusat MES periode 1447–1452 H. Ia juga mengingatkan bahwa ekonomi syariah tidak boleh hanya tampak besar dalam angka, tetapi harus kuat dalam manfaat.
“Pemikiran, wacana, visi, misi tanpa implementasi hanyalah menjadi halusinasi. Ekonomi syariah tidak boleh hanya besar di angka, tetapi kecil dalam dampak nyata,” ujarnya dalam video yang diunggah.
Pesan itu menempatkan MES pada jalur kerja yang lebih praktis. Fokusnya kini bukan hanya pertumbuhan sektor, tetapi juga sejauh mana masyarakat ikut merasakan hasilnya.
Ma’ruf Amin soroti peluang Indonesia
Ma’ruf Amin melihat masa depan ekonomi syariah nasional tetap cerah. Ia menilai Indonesia punya peluang besar untuk memperkuat posisi di tingkat global, apalagi sektor ini disebut sudah berkontribusi sekitar 30%-40% terhadap ekonomi nasional.
Menurut Ma’ruf, capaian itu menunjukkan ruang pengembangan yang masih sangat besar. Ia juga menyebut Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga global dan mendorong adanya strategi yang lebih terarah agar posisi pertama bisa segera dikejar.
Dalam pandangannya, penguatan ekonomi syariah tidak cukup bertumpu pada potensi. Kebijakan yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten harus berjalan beriringan agar target itu tidak berhenti sebagai ambisi.
Syariah harus berpihak pada publik
Ma’ruf juga menegaskan ekonomi syariah tidak boleh dipahami hanya sebagai alat mengejar keuntungan finansial. Sistem ini, kata dia, harus tetap mengedepankan pelayanan, keadilan, dan kemaslahatan publik.
“Syariah hadir sebagai buku petunjuk agar inovasi tersebut berjalan dengan baik, membawa keadilan, dan tidak ada rakyat yang dirugikan,” tuturnya.
Pernyataan itu menegaskan arah pengembangan ekonomi syariah yang menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian. Bagi Ma’ruf, pertumbuhan sektor ini harus sejalan dengan perlindungan terhadap kepentingan publik.
Ferry Juliantono dorong masuk ke sektor riil
Selain Rosan, Menteri Koperasi Ferry Juliantono juga dilantik sebagai Ketua Harian Pengurus Pusat MES periode 1447–1452 H. Kehadirannya menambah kekuatan baru dalam struktur kepengurusan untuk mendorong program yang lebih dekat ke masyarakat.
Ferry menilai ekonomi syariah akan makin kuat jika seluruh sumber daya lembaga keuangan syariah dimanfaatkan secara optimal. Ia meminta agar gerakan ekonomi syariah tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi menghasilkan program yang nyata dan produktif.
Ia juga mendorong MES masuk lebih dalam ke sektor riil. Menurut dia, gerakan ini perlu ikut melahirkan pengusaha-pengusaha muslim baru di berbagai daerah Indonesia.
“Jika ada 9 naga dan 9 haji, maka saya katakan jangan hanya 9 haji. Kalau perlu harus lahir 90 bahkan 900 pengusaha muslim baru dari gerakan Masyarakat Ekonomi Syariah,” kata Ferry, dikutip dari akun Instagramnya.
Dengan komposisi pengurus baru itu, MES dihadapkan pada ekspektasi yang cukup tinggi. Para tokoh yang dilantik sama-sama menekankan hal yang serupa: ekonomi syariah harus hadir sebagai kekuatan yang nyata, bermanfaat luas, dan punya dampak sosial yang bisa dirasakan masyarakat.
Source: finansial.bisnis.com




