
Demo robot humanoid di China kembali memantik sorotan setelah sebuah Unitree G1 menendang anak laki-laki di perut saat tampil di panggung. Rekaman insiden itu cepat menyebar karena memperlihatkan risiko nyata ketika robot bertenaga besar dipertontonkan di ruang publik tanpa pengamanan yang memadai.
Peristiwa tersebut terjadi pada 1 Juni 2026 di Urumqi Botanical Garden, Xinjiang, saat pertunjukan Hari Anak. Di tengah rutinitas bela diri, robot melakukan gerakan berputar lalu tanpa sengaja mengenai bocah itu.
Anak tersebut terlihat membungkuk kesakitan setelah terkena tendangan. Orang tua yang berada di lokasi kemudian mengecam respons staf yang dinilai terlalu lambat menangani situasi.
Pola insiden yang mulai berulang
Kasus di Xinjiang bukan satu-satunya yang memicu kekhawatiran. Pada Maret 2026, Unitree G1 lain juga tercatat memukul wajah seorang anak laki-laki di provinsi Shaanxi saat menari, dan robot itu tetap melanjutkan urutan gerak yang sudah diprogram meski handler sudah turun tangan.
Sejumlah kejadian lain ikut memperkuat tanda bahaya itu. Dalam satu kasus, sebuah G1 disebut menendang handler-nya sendiri, sementara kasus lain membuat seorang perempuan lanjut usia begitu ketakutan hingga harus dirawat di rumah sakit.
Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa masalahnya tidak berhenti pada gangguan teknis sesaat. Demo publik kerap memperlakukan robot humanoid sebagai atraksi biasa, padahal mesin seperti ini tetap membutuhkan pembatasan yang ketat.
Perbandingan dengan robot industri membuat persoalan itu semakin jelas. Di fasilitas kerja, robot umumnya dioperasikan di balik pagar pengaman dan tirai laser, bukan di tengah kerumunan yang bisa bergerak tak terduga.
Dalam kasus di Urumqi, sumber masalahnya tampak sederhana tetapi krusial. Anak kecil itu disebut terlalu dekat dengan rutinitas yang sudah diprogram, sementara pengendalian kerumunan dan pengawasan di sekitar area pertunjukan tidak cukup kuat.
Celah safety ada pada penanganan manusia
Peristiwa itu tidak menunjukkan robot bertindak liar atau mengambil keputusan bermusuhan. Yang terlihat justru kegagalan manusia dalam menyiapkan panggung, membaca risiko, dan menjaga jarak aman dari mesin yang menjalankan gerakan fisik berdaya besar.
Elemen pengamanan dasar juga disebut masih kurang dalam banyak demo serupa. Kebutuhan seperti handler terlatih dengan tombol darurat yang mudah terlihat dan penilaian risiko terhadap perilaku manusia yang sulit diprediksi justru sering tertinggal.
Dari sisi tanggung jawab, kasus seperti ini biasanya mengarah ke operator dan pihak penyelenggara acara. Kerangka hukum untuk cedera akibat robot sudah bertumpu pada standar product liability dan negligence, sehingga beban akuntabilitas ada pada orang dan organisasi yang mengoperasikan teknologi tersebut.
Produsen juga ikut berada di bawah sorotan bila mereka melebih-lebihkan kemampuan robot atau mengecilkan risikonya. Dalam situasi seperti ini, kegagalan tidak hanya terletak pada gerakan robot yang salah, tetapi juga pada cara teknologi itu dipresentasikan kepada publik.
Lembaga seperti IEEE dan ASTM disebut sedang mengembangkan protokol keselamatan khusus untuk humanoid. Namun, laju penerapannya masih tertinggal jauh dari kecepatan industri memasarkan demonstrasi yang menonjolkan akrobat dan gerakan dramatis.
Karena itu, insiden di China menjadi pengingat bahwa isu utamanya bukan ketakutan terhadap pemberontakan robot. Yang lebih mendesak adalah memastikan mesin kuat seperti ini hanya tampil dengan pengamanan konservatif, pengawasan ketat, dan perencanaan yang matang.





