Retina manusia dari mata donor ternyata masih mampu menghasilkan respons listrik saat terkena cahaya hingga 10 jam setelah kematian. Hasil ini memberi peluang baru untuk mempertahankan fungsi retina donor lebih lama sebelum digunakan dalam riset terapi penglihatan.
Temuan tersebut belum berarti transplantasi seluruh mata dapat memulihkan penglihatan. Namun, kemampuan menjaga jaringan mata tetap sehat di luar tubuh dinilai penting untuk memahami penyakit mata dan mengembangkan pendekatan perawatan baru.
Respons Cahaya Bertahan Dua Kali Lebih Lama
Dalam pengujian terhadap 36 bola mata donor, sebanyak 15 mata menghasilkan sinyal listrik dari retina ketika mendapat paparan cahaya. Respons itu tercatat hingga 10 jam setelah kematian, dua kali lebih lama dibandingkan hasil penelitian pada 2022 yang mencapai lima jam.
Penelitian ini dipimpin Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology di Spanyol bersama timnya. Mereka menggunakan sistem yang dirancang untuk menjaga kondisi mata donor sedekat mungkin dengan keadaan saat masih berada di dalam tubuh.
| Pengujian | Jumlah Mata Donor | Hasil Utama |
|---|---|---|
| Perfusi dan tanpa perfusi | 6 donor | Perfusi menjaga struktur retina serta jaringan sekitar hingga 24 jam. |
| Uji respons listrik terhadap cahaya | 36 bola mata | 15 mata menunjukkan respons retina terhadap cahaya. |
| Mata yang mendapat perfusi | 21 bola mata | Alasan sebagian mata belum menunjukkan respons serupa masih belum diketahui. |
Larutan Kaya Oksigen Jadi Kunci
Tim memasang selang pada arteri oftalmik untuk mengalirkan cairan ke mata beserta jaringan di sekitarnya. Larutan kaya oksigen itu dipompa menggunakan perangkat bernama Eye-in-Care-Box.
Perangkat tersebut memakai sensor untuk mengatur tekanan dan aliran cairan secara otomatis. Pengaturan ini ditujukan untuk menjaga metabolisme jaringan mata setelah kematian sekaligus menekan dampak kekurangan oksigen.
Dalam tahap awal, satu mata dari setiap enam pendonor mendapat perlakuan perfusi, sedangkan mata lainnya tidak. Mata yang tidak mendapat aliran cairan kaya oksigen mengalami kerusakan lebih cepat dibandingkan mata yang diperlakukan dengan perfusi.
Kondisi kekurangan oksigen atau iskemia menjadi masalah besar bagi jaringan mata. Retina sangat rentan terhadap kondisi itu karena gangguan singkat saja dapat memicu degenerasi permanen pada kepekaan neuron dan sirkuit penerima cahaya.
Hambatan Utama Tetap Saraf Optik
Transplantasi seluruh bola mata belum dapat mengembalikan penglihatan pada penerima, meski prosedur transplantasi sebagian wajah dan seluruh bola mata telah dilakukan sejak 2023. Tantangan terbesarnya adalah menyambungkan kembali saraf optik yang menghubungkan retina dengan pusat penglihatan di otak.
Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore menjelaskan bahwa mata donor tidak bisa mengirimkan sensasi visual ke otak penerima tanpa regenerasi serat saraf optik yang terputus. Ia juga menilai keberhasilan mempertahankan respons cahaya pada mata di luar tubuh sebagai pencapaian luar biasa.
Berbeda dengan kornea, retina bukan sekadar lapisan jaringan yang dapat diganti untuk memperbaiki penglihatan. Retina merupakan bagian dari jalur saraf visual, sehingga harus tetap aktif dan mampu terhubung kembali dengan sistem saraf pusat.
Menurut Liputan6.com yang mengutip New Scientist, lebih dari satu juta penduduk Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat kerusakan permanen, termasuk degenerasi makula. Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan terhadap riset yang dapat menjaga dan mempelajari jaringan retina manusia.
Model Baru untuk Menguji Terapi Mata
Eye-in-Care-Box berpotensi dipakai untuk menguji terapi penglihatan langsung pada mata manusia, bukan hanya melalui model hewan. Pendekatan ini dapat membantu peneliti mempelajari biologi dan patologi penyakit mata dalam kondisi jaringan yang lebih terjaga.
Teknologi tersebut memang belum memecahkan persoalan regenerasi saraf optik yang menjadi syarat penting transplantasi mata. Meski begitu, kemampuan mempertahankan retina donor setelah kematian membuka ruang penelitian yang lebih luas bagi pemulihan penglihatan di masa depan.
