Rebahan seharian kerap dipromosikan sebagai bentuk self-care, terutama lewat istilah bed rotting yang ramai di media sosial. Namun, kebiasaan ini tidak selalu memulihkan tubuh dan pikiran jika dilakukan terlalu lama, apalagi hanya diisi scroll layar.
Di titik tertentu, istirahat yang tampak nyaman justru bisa berubah menjadi kebiasaan pasif. Dampaknya tidak hanya membuat aktivitas fisik berkurang, tetapi juga dapat menumpuk pekerjaan dan mengganggu produktivitas.
Apa yang dimaksud dengan bed rotting
Bed rotting adalah istilah untuk menghabiskan waktu di tempat tidur selama berjam-jam, biasanya untuk menonton, scroll media sosial, atau sekadar bersantai tanpa melakukan apa pun. Banyak anak muda memakainya sebagai pelarian dari rasa lelah dan tekanan harian.
Kebiasaan ini membuat sebagian orang memilih mengambil cuti atau meluangkan satu hari penuh hanya untuk rebahan di rumah. Aktivitasnya sederhana, tetapi bisa berlangsung jauh lebih lama daripada istirahat singkat yang semestinya.
Masih bermanfaat, tapi hanya dalam porsi tertentu
Dr. Ritz Birah dalam My Journal Courier menyebut beristirahat di tempat tidur untuk merawat diri memang terasa masuk akal, terutama saat musim dingin. Tempat tidur yang hangat juga membuat banyak orang merasa lebih nyaman saat ingin menenangkan diri.
Ia menambahkan bahwa aktivitas itu bisa membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi stres jika dilakukan dalam waktu singkat serta tanpa menggulir layar. Artinya, rebahan masih bisa bermanfaat selama durasinya terjaga dan tidak berubah menjadi kebiasaan pasif yang berkepanjangan.
Masalah mulai muncul ketika rebahan dilakukan terlalu sering dan minim gerak. Dalam kondisi itu, pekerjaan bisa menumpuk, produktivitas terganggu, dan masalah kesehatan ikut muncul.
Angka yang menunjukkan kebiasaan ini makin umum
Riset Amerisleep yang dikutip dalam pembahasan ini menyebut 89 persen Gen Z di Amerika menghabiskan sekitar 21 hari per tahun untuk bed rotting. Sementara itu, rata-rata keseluruhan generasi tercatat 364 jam per tahun atau setara 15 hari untuk bersantai di tempat tidur.
| Temuan | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Gen Z di Amerika | 89 persen | Menghabiskan sekitar 21 hari per tahun untuk bed rotting |
| Rata-rata generasi | 364 jam per tahun | Setara 15 hari untuk bersantai di tempat tidur |
Istirahat yang lebih efektif tetap butuh batas
Jika tujuan utamanya memulihkan tubuh dan pikiran, istirahat yang seimbang lebih membantu daripada rebahan tanpa jeda. Kuncinya bukan menghindari rebahan sepenuhnya, melainkan membatasi durasinya dan tidak menjadikannya satu-satunya cara melepas stres.
- Membatasi waktu rebahan hanya untuk istirahat singkat, bukan seharian.
- Menyeimbangkan waktu istirahat dengan aktivitas fisik ringan atau olahraga rutin.
- Mencukupi kebutuhan nutrisi.
- Menjaga kualitas tidur pada malam hari.
- Memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca buku, meditasi, merenung, atau aktivitas bermanfaat lain.
Pada dasarnya, rebahan adalah aktivitas yang wajar selama dilakukan secara tepat. Tetapi ketika kebiasaan itu dibiarkan berlebihan tanpa diimbangi gerak tubuh, dampaknya bisa berbalik dan membuat tubuh serta pikiran tidak lebih segar.
Karena itu, rebahan seharian belum tentu bisa disebut self-care yang ideal. Yang lebih penting adalah memastikan istirahat benar-benar membantu pemulihan, bukan berubah menjadi kebiasaan pasif yang mengorbankan produktivitas dan kesehatan.
